Laporan: Kominfo DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Tiga dai daerah diantarnya ust. Subhan dari Gresik yang bergerak di lokasi abangan, ust. Zaen dari Blitar dengan dakwah pertanian dan perkebunan, serta ust. Mansur di Kediri lingkungan minoritas muslim.
Talk show gerakan dakwah dai Dewan Da’wah yang berisi kisah dan testimoni dakwah pedalaman yang dihadirkan dalam rangka Rapat kordinasi wilayah (Rakorwil) Dewan Da’wah Islamiyah Jawa Timur di Trawas Kab. Mojokerto (13-14 September 2025)
Lingkungan masyarakat abangan nativisme yang kental, M Natsir allahuyarham begitu jeli untuk menempatkan dai. Subhan sebelumnya mendapatkan tempaan daurah dai 40 hari di Bogor. Masyarakat ditempa dengan iman dan akhlaq menjadikan masyarakat lambat laun punya kesadaran berislam.
Lain halnya dengan ust. Zaen yang menelusuri di daerah Blitar Selatan yang mayoritas masyarakat nya dulunya terjangkit komunisme. Tak gampang mengajak mereka untuk membuktikan agama itu hadir dalam jiwanya. Maka ust. Zaen memulai dakwah dengan menggerakkan potensi daerah pertanian dan perkebunan. Membuktikan bahwa tanah pertanian dan perkebunan itu kuasa Allah. Di tangan dai Zaen dan kawan-kawan memberikan contoh menanam pohon dengan gerakan dakwah. Mewujudkan hasil pertanian dengan memaparkan Rahmat Allah, serta mensosialisasikan syariat Islam dalam pertanian dan perdagangan. Jangan lupa pula dakwah amal dan zakat disertakan jelasnya.
Ust. Mansur di daerah kristenisasi diawali dengan hadirnya manteri kesehatan menjadikan masyarakat yang kekurangan ekonomi untuk disejahterakan dengan dana sosial wajib ambil di gereja. Dari segelintir umat Islam yang tinggal 5 kepala keluarga itu dimulai dakwah lagi dari rumah ke rumah. Ust. Mansur juga melakukan kolaborasi dakwah sosial bekerja sama dengan Muhammadiyah dan NU. Dengan begitu, meski lambat hingga kini masyarakat telah mulai kembali dalam pangkuan Islam.
Dana ummat utk dakwah
Dana ummat
Dakwah membutuhkan dana. Karena dana mampu memenuhi pergerakan dakwah. Bagaimana mengelola dana umat jelas ust. Ade Salamun.
Bahwa potensi dana umat bisa dari lembaga zakat, infaq dan shadaqah tapi juga harus punya kemampuan mengelola dan mengoptimalkan wakaf. Utamanya dipikirkan sekarang ini adalah wakaf produktif.
Untuk itu perlu langkah membuat bisnis development yang mampu menggerakkan ekonomi umat dan hasilnya tentu berharap kembali gerakan dakwah menggeliat.
Bisnis development ini juga bisa dijalankan di potensi lahan tidur atau lahan yang dimiliki dai dan pesantren. Untuk apa. Untuk bisa menopang dakwah pendidikan dan masyarakat sekitar, tambah Ade.
Adapun lembaga amal juga harus dimanfaatkan penuh untuk kepentingan umat. Dewan Da’wah penggagas POROS yang merupakan kumpulan dari ormas Islam yang mengelola dana umat. Juga Dewan Da’wah punya MoU dengan Baznas hingga tingkat daerah yang bisa dilakukan oleh teman daerah melakukan usaha dakwah bersama. Tentu, pembiayaan dana dakwah harus diikuti dengan pelaporan yang teliti.
Kedepan Lazis Dewan Da’wah pun tidak bisa serta merta untuk menggelontorkan dakwah meski untuk kegiatan Dewan Da’ wah tanpa ada pengajuan kegiatan yang riil. Selanjutnya diikuti dengan pelaporan yang jelas, ujar ust. Ade.
Ust. Ade mengingatkan jika teman dai maupun Dewan Da’wah daerah menggalang dana atau mengeluarkan dana umat jangan sekali-kali memakai rekening pribadi. Pastikan bahwa aliran dana itu melalui rekening Lazis Dewan Da’wah agar tidak dianggap sebagai pelanggaran pembiayaan dana umat meskipun hanya sejuta. Save Dewan Da’wah untuk optimalisasi dana umat, pesannya mengakhiri di hadapan peserta Rakorwil Dewan Da’wah Jatim.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
