Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Iatim dan penulis 4 buku Perjalanan Jiwa
Dewandakwahjatim.com, Surabaya —
النَّاسُ نِيَامٌ، فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا
“Manusia itu tidur, maka ketika mereka mati barulah mereka terbangun.”
Tidur dan Mimpi
Kita tidur, lalu bermimpi tentang istana, tentang cinta, tentang harta yang melimpah. Kita tertawa dalam mimpi, kita menangis dalam mimpi, seolah semuanya nyata. Namun begitu fajar datang, kita terbangun. Semua hilang, lenyap, hanya bayangan.
Begitulah dunia. Kita kejar-nafsu, kita bangun kerajaan, kita sibuk berperang demi nama. Namun begitu kematian menyentuh, kita pun sadar:
“Semua hanyalah mimpi panjang, dan aku baru saja bangun.”
Kelalaian
Kelalaian adalah candu yang manis. Ia menutup mata, membius hati, membuat manusia lupa akan perjalanan pulang. Ghaflah adalah tidur hati di siang bolong, di saat cahaya Allah sebenarnya menerangi setiap langkah.
Ibnul Qayyim berkata:
الغفلة نوم القلب
“Kelalaian adalah tidurnya hati.”
Dan hati yang tertidur tidak mampu melihat cahaya, meski mata terbuka lebar.
Bangunlah!
Bayangkan seorang musafir yang tertidur di jalan. Api mendekat, binatang buas mengintai, tapi ia tersenyum dalam tidurnya. Ia bermimpi berada di taman indah, padahal tubuhnya terancam binasa. Begitulah manusia yang lalai: terbuai mimpi dunia, padahal ajal sudah menunggu.
Maka teriaklah kepada Allah:
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami dari golongan orang-orang yang lalai.”
Doa ini bukan sekadar bisikan, tapi jeritan jiwa. Ia adalah alarm rohani, mengetuk pintu hati agar terjaga sebelum terlambat.
Kesadaran
Ketika mati, semua orang akan bangun. Saat kubur dibuka, manusia menjerit:
يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا
“Aduhai celaka kami, siapa yang membangunkan kami dari tidur kami?” (QS. Yasin: 52)
Namun, di saat itu, penyesalan tak lagi berguna.
Lebih baik kita menangis hari ini, agar bisa tertawa esok hari. Lebih baik kita bangun dalam sakitnya kesadaran, daripada tidur dalam nikmat kelalaian lalu terbangun dalam azab.
Doa
Ya Allah, bangunkan kami sebelum fajar kematian.
Ya Allah, jangan biarkan kami terlelap dalam mimpi dunia.
Siram hati kami dengan cahaya-Mu,
Agar kami hidup dengan mata terbuka,
Dan mati dalam keadaan terjaga.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا مُسْتَيْقِظَةً بِنُورِ ذِكْرِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ.
“Ya Allah, jadikanlah hati kami terjaga dengan cahaya dzikir-Mu, dan janganlah Engkau jadikan kami dari golongan orang-orang yang lalai.”
Karena hidup sejati bukan saat kita bernapas,
Tapi saat hati kita terjaga,
Mengingat Allah,
Dan berjalan menuju-Nya.
Donasi: lynk.id/laznasdewandakwahjatim
Rekening Da’wah :
BSI 7357 2777 73
a.n Laznas Dewan Dakwah Jawa Timur
Informasi & Konfirmasi
📱0851-0786-2777
LaznasDewanDakwah
DariKitaKepenjuruNusantara
DakwahPedalaman
DariPedalamanMembangunPeradabanYangBerkelanjutan
Pemberdayaan
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
