Kontribusi Ilmuwan Islam dalam ilmu astronomi

Oleh: Prof. Dr. Priyono, alumni ITB Bandung

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam sejarah Islam klasik, beberapa ilmuwan terkenal mendalami astronomi, termasuk fenomena gerhana, sebagai bagian dari pengembangan ilmu falak (astronomi Islam).

  1. Al-Battani (Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan al-Battani, sekitar 858–929 M)

Kontribusi: Al-Battani, yang dikenal di Barat sebagai Albategnius, adalah salah satu astronom terbesar pada masa Islam klasik.

Ia melakukan pengamatan astronomi yang sangat akurat, termasuk mengenai gerhana matahari dan bulan.

Dalam karyanya, Kitab az-Zij (Tabel Astronomi), Al-Battani mencatat pengamatan gerhana untuk menghitung pergerakan matahari dan bulan dengan presisi tinggi. Ia juga memperbaiki perhitungan orbit bulan dan matahari, yang membantu memprediksi waktu terjadinya gerhana.

Dampak: Pengamatan dan perhitungannya menjadi rujukan penting bagi astronom Eropa selama Abad Pertengahan, termasuk Copernicus.

  1. Ibnu Yunus (Abu al-Hasan Ali ibn Abd al-Rahman ibn Yunus, sekitar 950–1009 M)

Kontribusi: Ibnu Yunus, astronom Mesir, terkenal dengan karyanya Zij al-Hakimi al-Kabir, yang berisi tabel astronomi berdasarkan pengamatan gerhana matahari dan bulan.

Ia melakukan pengamatan gerhana secara sistematis di Kairo untuk memperbaiki perhitungan waktu dan posisi benda langit. Pengamatan gerhana ini membantunya menyusun kalender astronomi yang akurat.

Dampak: Karyanya menjadi salah satu sumber penting dalam ilmu falak dan digunakan untuk keperluan ibadah, seperti penentuan waktu salat dan arah kiblat.

  1. Al-Biruni (Abu Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni, 973–1048 M)

Kontribusi: Al-Biruni adalah ilmuwan serba bisa yang menulis banyak tentang astronomi, matematika, dan geografi.

Dalam karyanya, seperti Kitab al-Tafhim li Awa’il Sina’at al-Tanjim (Buku Pengantar Ilmu Astrologi dan Astronomi), ia menjelaskan fenomena gerhana matahari dan bulan secara rinci, termasuk penyebabnya berdasarkan posisi benda langit.

Ia juga mengamati gerhana untuk menghitung diameter matahari dan bulan serta mempelajari efeknya pada fenomena alam, seperti pasang surut.

Dampak: Al-Biruni menggabungkan pendekatan ilmiah dan matematis dengan pengamatan empiris, menjadikan studinya tentang gerhana sangat signifikan.

  1. Thabit ibn Qurra (836–901 M)

Kontribusi: Thabit ibn Qurra, seorang ilmuwan dari Harran, memberikan kontribusi penting dalam astronomi dan matematika.

Ia mempelajari pergerakan matahari dan bulan, termasuk fenomena gerhana, dan menerjemahkan serta menyempurnakan karya-karya astronomi Yunani, seperti karya Ptolemy.

Pengamatannya tentang gerhana membantu meningkatkan pemahaman tentang orbit bulan.

Dampak: Karyanya memengaruhi perkembangan ilmu astronomi di dunia Islam dan Eropa.

Catatan Penting:

Para ilmuwan Islam ini tidak hanya mempelajari gerhana sebagai fenomena ilmiah, tetapi juga menghubungkannya dengan keimanan, sesuai ajaran Islam bahwa gerhana adalah tanda kebesaran Allah.

Mereka menggunakan pengamatan gerhana untuk menyusun kalender, menentukan waktu ibadah, dan memajukan ilmu falak, yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan spiritualitas.

Admin; Kominfo DDIl Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *