Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 13 judul lainnya
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Alhamdulillah, kembali ayat Allah yang tak tertulis berupa Gerhana Bulan Total (GBT) akan kita baca. Peristiwa alam itu insya Allah akan terjadi pada Ahad malam hingga Senin dinihari, 7-8 September 2025. GBT bisa terjadi karena matahari-bumi-bulan berada pada satu garis lurus. Akibatnya, sinar dari matahari-untuk beberapa saat-, tak sampai ke bulan karena terhalang bumi.
GBT ini bisa diamati dari berbagai wilayah Indonesia. Hanya Papua bagian timur yang mungkin tak bisa mengikuti fenomena astronomi ini secara tuntas.
Gerhana dimulai dengan fase Gerhana Penumbra pada pukul 22.28 WIB. Pada fase ini, bayang-bayang bumi mulai memasuki piringan bulan. Lalu, Gerhana Sebagian mulai pukul 23.27 WIB. Sisi bulan mulai gelap dan hilang
GBT dimulai pukul 00.30 WIB. Bulan tidak hilang tapi tampak kemerahan. Puncak gerhana, saat terbaik untuk menyaksikan fenomena ini, pada pukul 01.12 WIB. Tahapan berikutnya lalu berbalik, yakni bayang-bayang bumi meninggalkan piringan bulan hingga fenomena benar-benar berakhir pada pukul 03.55 WIB.
Sejak awal fase GBT hingga berakhirnya, 82 menit. Selama itulah bulan memerah. Sementara, total durasi keseluruhan gerhana 5 jam 27 menit.
Kenapa bulan memerah? Bulan tampak merah, terutama saat puncak gerhana, karena adanya hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel yang ada di atmosfer bumi. Namanya adalah hamburan Rayleigh: panjang gelombang pendek dari cahaya matahari (biru, ungu) akan terhambur, sedangkan yang yang panjang (merah, oranye) tetap diteruskan (www.tempo.co 6 September 2025).
Baca, Bacalah!
Atas fenomena alam semisal GBT, ambil-lah pelajaran! Bahwa, kesemua ini adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Bacalah atas semua hal di sekitar kita yang menunjukkan bahwa Allah itu ada dan Mahaberkuasa.
Renungkanlah (terjemah) hadits ini: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihat gerhana matahari atau gerhana bulan maka segeralah mengingat Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah!” (HR Bukhari).
Di keseharian, matahari dan bulan adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Namun, karena kita sudah terbiasa melihatnya, maka kebanyakan dari kita tidak atau kurang termotivasi untuk menjadikannya sebagai bahan perenungan dan dipakai untuk menebalkan keimanan. Padahal, ada pesan penting di (terjemah) ayat ini: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya” (QS Al-Furqaan [25]: 61).
Selalu bacalah dengan cermat dan kemudian renungkanlah, termasuk (terjemah) ayat ini: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta-merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya” (QS Yaasin [36]: 37-40).
Simaklah berbagai fenomena alam itu, lalu menunduklah sambil meresapi (terjemah) ayat ini: “Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS Al-Hajj [22]: 18).
Sejumlah Sunnah
Selanjutnya, apa saja amaliyah sunnah yang bisa kita kerjakan di saat terjadi gerhana bulan?
1).Shalat Gerhana Bulan. Bahwa, shalat gerhana bulan adalah amal utama ketika terjadi gerhana bulan. Hukumnya, sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan). Shalat itu disunnahkan berjamaah.
2).Berdoa. Pada saat gerhana bulan, kita dianjurkan untuk banyak berdoa. Para Sahabat Nabi Saw berdzikir dan berdoa hingga gerhana selesai.
3).Berdzikir dan Membaca Takbir. Berdzikirlah, terutama dengan kalimat takbir. Saat membaca takbir itu tak perlu keras-keras, cukup sekadar didengar diri sendiri.
4).Beristighfar. Sangat dianjurkan untuk banyak bersitighfar, memohon ampun kepada Allah. Berharap dengan sangat-lah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.
5).Bersedekah. Kita keluarkan sebagian harta. Bisa pula bersedekah dalam artian luas kepada siapa saja, terutama yang membutuhkan.
Siapa Merasa
Atas semua fenomena alam termasuk GBT, semoga kita bisa menjadikannya sebagai media untuk meningkatkan iman dan takwa. Dengan iman dan takwa, semoga kelak di Hari Kiamat kita punya tujuan berlari dan berlindung. Silakan simak terjemah ayat ini: “Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, serta matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: ‘Ke mana tempat berlari?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali” (Al-Qiyaamah [75]: 7-12).
Keadaan yang sangat baik di Hari Kiamat–yaitu punya tempat berlindung-hanya akan bisa didapat jika kita antara lain rajin membaca ayat-ayat Allah, baik yang tertulis (yaitu Al-Qur’an) maupun yang tak tertulis (yaitu alam semesta serta berbagai fenomena di dalamnya).
Bacalah selalu ayat Allah agar semakin teguh iman kita, seperti arahan di (terjemah) ayat ini: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS Al-Anfaal [6]: 2).
Jadi, ketika di hadapan kita ada fenomena alam dan apalagi yang termasuk langka, maka kita harus penuh perhatian dalam menyambutnya. Sambut, seolah-olah fenomena alam itu adalah tamu terhormat yang akan menyapa dan lalu memberikan pelajaran mahal. Pelajaran itu, di bidang keimanan. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
