Artikel Terbaru ke-2.239
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok – Umat Islam tentu bersepakat bahwa masjid bukan sekedar tempat ibadah mahdhah atau hanya tempat untuk shalat lima waktu. Masjid – sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw – adalah pudat ibadah, pusat pendidikan, dan juga pusat peradaban.
Karena itu, kita menyambut baik berbagai upaya untuk menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan Islam atau pusat kegiatan ekonomi umat. Hanya saja, gerakan kebangkitan ekonomi berbasis masjid itu akan meraih keberhasilan jika dilaksanakan oleh manusia-manusia yang memenuhi syarat untuk memakmurkan masjid.
“Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah:18).
Itulah kriteria manusia-manusia yang mampu memakmurkan masjid. Karena itu, program apa saja yang terkait dengan masjid akan meriah sukses jika yang menjalankannya adalah manusia-manusia hebat, seperti disebutkan dalam QS at-Taubah ayat 18 itu.
Masjid sepatutnya mengutamakan pendidikan yang mampu melahirkan manusia-manusia mulia seperti itu. Jadi, bukan bangunan masjidnya yang utama, melainkan manusia-manusia yang memakmurkannya.
Memang benar, bangunan pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw di Madinah adalah masjid. Tetapi, jangan lupa, sejak 13 tahun sebelumnya, Rasulullah saw telah mendidik manusia-manusia hebat yang nantinya akan memakmurkan Masjid Nabawi itu.
Karena itu, kita berharap semua pihak yang sedang menyiapkan gerakan ekonomi berbasis masjid, benar-benar menyiapkan manusia-manusia yang unggul. Dan lagi-lagi, kita harus mengakui, bahwa inilah langkah pendidikan yang benar — yakni pendidikan yang dapat melahirkan manusia-manusia gemilang.
Sudah cukup banyak pengalaman umat Islam dalam upayanya menggunakan masjid sebagai basis utama gerakan sosial, ekonomi, dan pendidikan. Di tahun-tahun 1980-1990-an, sejumlah media Islam mengeluhkan kegagalan membangun jaringan distribusi majalah Islam berbasis masjid. Yang utama adalah kualitas pengurus masjid yang terlibat dalam urusan distribusi majalah.
Gerakan pembangunan ekonomi umat adalah program mulia untuk mengangkat martabat umat agar mereka menjadi manusia-manusia mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Rasulullah saw pun menggiatkan gerakan pemberdayaan ekonomi umat di Madinah, sampai akhirnya ekonomi umat dapat mengalahkan dominasi ekonomi Yahudi.
Kesuksesan itu terjadi setelah umat Islam terbebas dari penyakit cinta dunia yang sangat merusak. Umat sudah siap untuk menang, karena jiwanya sudah terbebas dari berbagai penyakit hati, khususnya penyakit cinta dunia.
Nah, itulah yang perlu dilakukan oleh para pegiat ekonomi berbasis masjid. Selama pelaku-pelakunya masih terjangkiti penyakit cinta dunia, maka ekonomi umat akan sulit dibangkitkan. Bahkan jika berhasil pun, maka akan terjadi tingkat bahaya yang lebih berbahaya ketika mereka masih miskin.
Orang yang kaya-raya tetapi masih terjangkit penyakit hati – cinta dunia, sombong, dan sebagainya – justru akan membahayakan kehidupan diri dan masyarakatnya. Ia akan menggunakan kekayaannya tidak untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi justru digunakan untuk merusak diri dan masyarakat.
Jadi, para pejuang pemberdayaan ekonomi berbasis masjid patut sangat berhati-hati agar tidak mengulang kembali kegagalan sejumlah kegiatan serupa. Harta dan kekuasaan merupakan dua kenikmatan duniawi yang sangat menggoda dan bisa membuat manusia lupa diri. Lupa, bahwa ia akan mati dan diminta pertanggungjawaban atas hartanya di akhirat nanti.
Untuk meraih kesuksesan ekonomi, Rasulullah saw memberikan resep ampuh: (a) bersemangatlah meraih kesuksesan, (b) mintalah pertolongan kepada Allah, dan (c) jangan sekali-kali merasa tidak mampu. Ingatlah, doa adalah senjata orang mukmin. Jangan sampai kita tinggalkan atau kita remehkan dalam usaha meraih sukses dunia akhirat.
Semoga Allah menolong kita semua. Amin. (Depok, 7 Juni 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
