Nahwu: Bahasa Ilahi dan Filosofi Kehidupan

Oleh: Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis 4 Buku Perjalanan Jiwa

Dewandakwahjatim.com, Surabayab- Bahasa Arab bukan hanya alat komunikasi, tapi ia juga cermin kehidupan. Ilmu nahwu, yang sering kita kenal sebagai tata bahasa Arab, sejatinya menyimpan rahasia filosofis yang dalam. Ia bukan sekadar kaidah, tetapi peta eksistensi manusia.

Allah ﷻ berfirman tentang penciptaan manusia pertama:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya.” (QS. Al-Baqarah: 31)

Ayat ini adalah fondasi dari segala isim. Dari sinilah kita bisa membaca simbol nahwu dalam tiga dimensi kehidupan: isim, fi’il, dan huruf.

  1. Isim: Identitas, Eksistensi, dan Nama-Nya

Isim adalah segala nama. Semua yang ada di semesta ini punya nama: bumi, langit, lautan, bahkan jiwa manusia. Tapi di atas segala nama ada Al-Asmā’ al-Ḥusnā, Nama-Nya yang indah dan agung. Semua isim bersumber dari Nama-Nya, karena Dialah pemberi makna bagi segala wujud.

Manusia diberi kehormatan oleh Allah dengan ilmu pengetahuan—dimulai dari “nama”. Tanpa nama, kita tak bisa mengenali, tanpa nama kita hanyalah kosong. Isim mengajarkan kita untuk:

Mengenali diri (siapa kita sebenarnya),

Mengenali sesama (agar hidup penuh interaksi),

Dan yang tertinggi, mengenali Allah dengan Nama-Nya yang teragung.

  1. Fi’il: Gerak, Aksi, dan Perjalanan Menuju Takdir

Jika isim adalah identitas, maka fi’il adalah dinamika hidup. Fi’il artinya perbuatan, gerak, proses. Alam semesta tidak pernah diam: bumi berputar, waktu berjalan, jiwa bergerak menuju ajalnya.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى

“Sesungguhnya usaha kalian pasti berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)

Ayat ini menegaskan bahwa hidup adalah “fi’il”—usaha tanpa henti. Manusia diciptakan bukan untuk stagnan, tapi untuk berjalan menuju tujuan sebagai khalifah Allah. Diam berarti kehilangan misi. Bergerak berarti menghidupkan peran.

Fi’il dalam nahwu menjadi simbol bahwa kehidupan adalah kerja dan gerak. Manusia yang hanya bernama (isim) tapi tidak berbuat (fi’il) hanyalah patung tanpa makna.

  1. Huruf: Jembatan, Hubungan, dan Keterikatan

Huruf tampak kecil, sering dianggap remeh. Tapi dalam nahwu, huruf adalah penghubung. Ia mengikat isim dengan fi’il, menyatukan identitas dengan perbuatan, menghubungkan manusia dengan Tuhannya, serta manusia dengan sesamanya.

Allah berfirman tentang peran hubungan ini:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)

Huruf adalah “habl”, tali pengikat. Tanpa huruf, kalam tidak punya makna. Tanpa hubungan, hidup kehilangan arah. Huruf menjadi simbol iman, cinta, dan nilai ilahi yang menghubungkan kita dengan sumber kehidupan.

  1. Kalam: Simfoni Tiga Dimensi

Nahwu mengajarkan bahwa kalam tersusun dari tiga variabel: isim, fi’il, dan huruf. Ketiganya adalah gambaran tiga dimensi kehidupan:

Isim eksistensi (siapa kita).

Fi’il gerak (apa yang kita lakukan).

Huruf konektivitas (bagaimana kita terhubung).

Ketika ketiganya berpadu, lahirlah kalam yang mufid, kalimat yang bermakna penuh. Begitu pula manusia: ketika ia punya identitas yang benar, perbuatan yang nyata, dan keterhubungan yang kuat, maka hidupnya menjadi bermakna.

Tanpa salah satunya, kalam akan rusak. Begitu juga kehidupan:

Tanpa isim manusia hilang identitas.

Tanpa fi’il manusia mandek dalam kebekuan.

Tanpa huruf manusia tercerai berai, kehilangan arah.

  1. Bahasa Ilahi: Kalam yang Agung

Pada akhirnya, semua nahwu bermuara pada kalam ilahi: firman Allah yang menata semesta. Kalam-Nya adalah sumber bahasa, sumber makna, dan sumber kehidupan.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah! Maka jadilah ia.” (QS. Yasin: 82)

Inilah kalam paling agung: Kun fayakūn.
Kehidupan manusia pun hanyalah gema dari kalam ini: diberi nama, digerakkan, dan dihubungkan untuk kembali pada-Nya.

Nahwu sebagai Jalan Hidup

Ilmu nahwu bukan sekadar teori bahasa, melainkan peta ruhani:

Dari isim kita belajar mengenali diri dan mengenal Allah.

Dari fi’il kita belajar bahwa hidup adalah gerak menuju tujuan.

Dari huruf kita belajar arti keterhubungan dengan nilai, iman, dan cinta.

Dari kalam kita belajar bahwa hidup adalah simfoni tiga dimensi, yang bermuara pada kalam-Nya.

Maka, siapa yang memahami nahwu dengan hati, ia sedang membaca simbol kehidupan. Dan siapa yang menjadikan nahwu sebagai cermin, ia akan sadar bahwa dirinya hanyalah satu huruf kecil dalam kalam agung Allah:

“Kun fayakūn.”

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *