Provokator, Musuh Dalam Selimut

Oleh Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di setiap kerumunan, di setiap demo, sering muncul wajah-wajah yang bukan benar-benar pejuang, melainkan provokator. Mereka datang bukan untuk mencari solusi, tapi untuk menyulut api. Diam-diam mereka menyebarkan bisikan, memancing emosi, lalu pergi ketika kerusuhan meledak. Mereka inilah yang disebut dalam Al-Qur’an:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ ۝ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ ۝ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

“Dan janganlah kamu ikuti orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang suka mencela, yang berjalan menyebarkan adu domba, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas, dan yang penuh dosa.” (QS. Al-Qalam: 10–12)

Allah sudah menggambarkan sifat mereka: hina, gemar menyebar adu domba, penuh dosa. Inilah potret provokator zaman sekarang, yang suka meniupkan api di tengah massa.

Rasulullah ﷺ pun memperingatkan dengan sangat keras:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari & Muslim)

Bayangkan, betapa berbahayanya sampai-sampai pintu surga ditutup untuk mereka. Bahkan Nabi ﷺ pernah menceritakan ada dua orang yang diazab dalam kubur. Yang satu karena tidak menjaga kebersihan dari kencingnya, dan yang lain karena suka menyebarkan adu domba. (HR. Bukhari & Muslim).

Provokator itu ibarat musuh dalam selimut. Sekilas terlihat bagian dari massa, tapi sejatinya penghancur dari dalam. Mereka adalah korek api kecil yang menyala di gudang bensin: kecil di awal, tapi bisa melahirkan ledakan yang menghancurkan segalanya.

Sejarah pun membuktikan, banyak kerajaan dan bangsa hancur bukan karena serangan dari luar, melainkan karena pengkhianatan dari dalam. Dan di zaman ini, pengkhianatan itu sering berbentuk provokasi, fitnah, dan adu domba.

Karena itu, waspadalah terhadap bisikan, terhadap kabar yang memecah belah, terhadap seruan yang mengajak kepada kerusuhan. Jangan biarkan lidah dan jempol kita ikut menjadi alat provokasi. Jangan sampai kita tanpa sadar menjadi bagian dari dosa yang sangat dibenci Allah.

Jadilah penyejuk, bukan penyulut. Penyambung silaturahmi, bukan pemutus. Ingat, satu kata bisa jadi doa, tapi satu kata juga bisa jadi neraka. Dan yang pasti: setiap provokator adalah sahabat setan, dan setiap pengadu domba adalah calon penghuni neraka.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *