Oleh Mahmud Budi Setiawan, alumnus Al-Azhar Mesir
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di antara buku dakwah yang sangat mengesankan bagi saya adalah karya Buya Natsir yang berjudul “Fiqhud-Da’wah”. Sebelum diterbitkan pertama kali pada tahun 1969, secara berkala majalah Kiblat tahun 1967-1969, menerbitkannya dengan judul besar “Code & Ethiek dalam Dakwah-Islam”. Bahasanya mudah dipahami, berbobot, sarat makna dan sangat aplikatif.
Jembatan Rasa
Dalam khazanah pemikiran Islam Indonesia, nama Buya M. Natsir (1908-1993) memiliki tempat yang istimewa. Karya-karyanya, termasuk buku “Fiqhud Da’wah”, menawarkan perspektif menarik dan unik tentang bagaimana seharusnya seorang da’i menjalankan tugasnya. Di antara pembahasan yang begitu mengesankan adalah ketika beliau menjelaskan diksi “mawaddah fil qurba” (QS Asy-Syura [42]: 23) dalam konteks dakwah.
Bagi Buya Natsir, dakwah bukanlah sekadar penyampaian materi, melainkan sebuah jembatan rasa (mawwadah fil qurba) yang menghubungkan da’i dengan umat. Konsep ini menjadi bagian dari inti dari pelajaran dakwah yang diwariskan atau legasi beliau, di mana seorang da’i tidak hanya berbicara dari akal, tetapi juga dari hati. Lebih spesifik beliau menggambarkannya sebagai: “Sinar qalbu yang menembus tabir antara pemimpin dan umat yang mengikutinya, antara mubaligh dengan umat yang sedang dibinanya dengan dakwah” (Fiqhud-Da’wah, 1978: 229)
Buya Natsir mengkritik da’i yang hanya berfokus pada “ilmu” dan “kekuatan mantik”, namun tidak mampu menyentuh hati umat. Menurutnya, kegagalan dakwah seringkali disebabkan oleh kurangnya “rasa” atau sentuhan emosional yang tulus. Bahkan beliau menandaskan, “Kata yang kosong dari rasa hanya bisa mencapai telinga dan paling tinggi: otak”.
Mawaddah fil qurba, atau “cinta kasih karena kekerabatan” menjadi metafora yang tepat untuk menggambarkan hubungan ideal antara da’i dan umat. Layaknya seorang kerabat, da’i harus merasakan penderitaan dan kebahagiaan umatnya. Rasa ini, kata Buya Natsir, sangat penting bagi da’i dalam menyampaikan dakwah: “Rasa hanya dapat dipanggil dengan rasa. Dalam praktiknya, daya mawaddah itu memperlengkap dan membantu daya hikmah.”
Kisah-kisah dalam buku ini, seperti teladan dari Nabi Muhammad ﷺ saat berhadapan dengan orang Badui, menegaskan pentingnya pendekatan yang penuh kasih. Nabi ﷺ tidak pernah bersikap kasar, melainkan dengan lemah-lembut dan penuh pengertian. Contoh lain datang dari Khalifah Umar bin Khattab r.a., yang pernah berkata, “Bagaimana aku akan dapat memperhatikan kepentingan rakyat, apabila aku tidak dapat merasakan derita mereka?” Perkataan ini menunjukkan bahwa rasa empati yang mendalam adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin dan da’i.
Buya Natsir menekankan bahwa da’i tidak boleh menjadi sosok yang “terasing” dari kehidupan sehari-hari umat. Dakwah bukan hanya tentang berbicara di mimbar, tetapi juga tentang hadir di tengah-tengah masyarakat, merasakan suka dan duka mereka, dan menjadi bagian dari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Para muballigh, seperti yang digambarkan Buya Natsir, harus “berjalan kaki” di antara umat, membangun kontak yang intensif dan ekstensif. Ini berbeda dengan kondisi da’i modern yang seringkali hanya berdakwah melalui media, tanpa memiliki “kontak fisik” dan “hubungan rasa” yang autentik dengan masyarakat.
Hikmah dan Rasa
Pelajaran berharga dari Buya Natsir semakin relevan di era digital ini. Fenomena da’i yang berorientasi materi kian marak, di mana dakwah seringkali dikomersialkan dan menjadi ajang untuk mencari popularitas serta keuntungan finansial. Mereka mungkin memiliki basis pengikut yang besar dan teknik komunikasi yang canggih, namun dakwahnya kehilangan esensi mawaddah fil qurba. Konten yang disajikan berfokus pada sensasi, hiburan, atau motivasi dangkal, tanpa benar-benar meresapi penderitaan dan persoalan riil umat. Alih-alih menjadi jembatan rasa, mereka justru membangun jurang pemisah, di mana hubungan dengan umat hanya sebatas transaksi jual-beli.
Idealnya, dakwah adalah kombinasi harmonis antara hikmah (pengetahuan) dan rasa (empati). Seorang da’i harus memiliki kecerdasan dalam menyampaikan ilmu, namun harus pula dilengkapi dengan kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan umat. Rasa inilah yang berfungsi sebagai “jembatan” yang membuat dakwah menjadi efektif dan diterima dengan lapang dada. Ketika hati da’i dan hati umat terhubung, barulah dakwah dapat mencapai tujuannya, yaitu membina umat dari dalam dan membangun sebuah masyarakat yang dilandasi oleh iman dan akhlak mulia.
Syair Pengingat
Dari legasi dakwah yang diwariskan Buya Natsir tersebut, mengingatkan kita bahwa keberhasilan dakwah tidak terletak pada kefasihan lisan atau kedalaman teori semata, melainkan pada sentuhan hati. Da’i sejati adalah mereka yang menjadikan dirinya “jembatan rasa”, yang tidak hanya menyampaikan kebenaran tetapi juga berempati terhadap penderitaan dan harapan umat.
Di tengah era modern yang penuh tantangan, pesan Buya Natsir ini menjadi semakin relevan: Dakwah akan berhasil ketika ia dilandasi oleh cinta kasih dan seorang da’i menjadi sosok yang benar-benar terbawa dalam tugas yang dipikulnya oleh umat. Jangan sampai terperosok pada situasi seperti yang diingatkan Natsir melalui sebuah nukilan syair:
Maka berserulah si-tukang seru:
Wahi, manakah dia yang menyahuti seruanku ini!
Yang diseru tak kunjung menyahut jua….
Beliau melanjutkan, “Seruanya tak berjawab. Oleh karena dia sendiri tidak menjawab apa yang hidup dalam sanubari umat, yang hendak dituntunnya. Ia ibarat pohon keputusan urat.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
