Membangun Peradaban Islam Dimulai Dari Keluarga

Oleh: Ridwan Ma’ruf, Ketua Majelis Pertimbangan DDII Kab. Sidoarjo ( 2024 – 2029 ), Pendiri Tahfidz Islamic School Al Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo

https://t.me/ridwanmaruf

Dewandakwahjatim.com, Sidoarjo – Membangun Peradaban dimulai dari keluarga adalah unit terkecil masyarakat yang menjadi fondasi utama pembentukan karakter, nilai, dan moral individu. Dari keluarga, sistem nilai dan tatanan budaya masyarakat terbentuk, yang kemudian secara keseluruhan menjadi peradaban. Keluarga yang kuat dan sehat menghasilkan generasi yang berkualitas, yang selanjutnya akan membangun peradaban yang maju, mulia, dan berbudi luhur. Peradaban berasal dari kata dasar “adab” dalam bahasa Arab berasal dari kata kerja “adaba” (أدب) yang berarti mendidik , sedangkan kata kerja “addaba” (أَدَّبَ – يُؤَدِّبُ) Bermakna mendidik dengan sopan santun, tata krama, dan akhlak yang baik, jadi kata “adab” secara keseluruhan bermakna perilaku dan etika yang luhur. Adab merupakan aktualisasi Ilmu yang bersumber dari wahyu Al Quran yang dalam prakteknya harus mendapatkan legitimasi, dan contoh dari Nabi Saw sebagai role model . AllahTa’ala berfirman di Al Adzhab 21 :

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّه كثيرا

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Dari ayat ini terkandung makna, bahwa pewaris ilmu harus menjadi teladan dalam akhlak, bertakwa dan memiliki sifat wara’, meninggalkan hal-hal yang syubuhat. Jika demikian, maka dia akan lebih memberi manfaat kepada sesama dengan akhlak dan kesantunan dibandingkan dengan ilmunya. Oleh karenanya dalam ajaran Islam, adab ditempatkan pada posisi tertinggi dibandingkan dengan ilmu pengetahuan. Hal tersebut tertuang dalam pepatah Arab yang mengatakan, Al Adabu Fauqol ilmi, yang artinya adab lebih tinggi dari ilmu . Didalam makna Adab itu sendiri sudah mencakup keimanan ( Ketauhidan ) kepada Allah Ta’ala.

Dasar Hukumnya

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam At Tahrim 6 :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. “

Ayat diatas terkandung makna ” seorang hamba tidaklah akan selamat sampai ia menta’dib (mengajarkan adab / Kesantunan Etika ) dan mengajari keluarganya tentang agama Islam serta mendorongnya melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah Ta’ala :

Kejujuran Modal Dasar Peradaban

Nabi Saw sebelum diutus oleh Allah Ta’ala untuk mendakwahkan Islam di tengah-tengah masyarakat kafir jahiliyah, mereka masyarakat Mekkah dan sekitarnya mengenal dan memberikan gelar kepada Nabi Saw sebagai pribadi Al Amin, yaitu pribadi yang jujur dapat dipercaya . Allah Ta’ala berfirman dalam Al Ahzab 70 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. “

Allah Ta’ala menjadikan sifat jujur sebagai tanda-tanda orang-orang shaleh. Dan mensifati para rasulNya dengan sifat jujur, firman Allah dalam surat Maryam 50

وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِنْ رَحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا
“Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang jujur lagi tinggi”.

selanjutnya Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk memiliki sifat jujur, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat At Taubah 119 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.

Karena kejujuran itu akan mendatangkan kebaikan, memberikan kebermanfaatan kepada semesta alam, sebaliknya pebuatan dusta, dan kebohongan akan mendatangkan kerusakan semesta Alam. Nabi Saw bersabda :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’”
( Shahih – HR. Bukhari – Muslim )

Kejujuran merupakan ruh amal, penjernih keadaan, penghilang rasa takut Kejujuran merupakan pondasi bangunan agama (Islam) dan tiang penyangga keyakinan. Tingkatannya berada tepat di bawah derajat kenabian yang merupakan derajat paling tinggi di alam semesta.

Penutup

Oleh karenanya membangun peradaban Islam dimulai dari keluarga atau rumah tangga dengan cara menghidupkan budaya cinta ilmu berbasis keramahan, dan nilai – nilai kemanusiaan keadilan. Maka perlu ( menurut pendapat saya ) setiap keluarga muslim dianjurkan untuk membuat kajian keilmuan atau majelis ta’lim di lingkungan keluarga sendiri. Mudah-mudahan Allah Ta’ala membantu dan menolong kita untuk mewujudkan peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin

Wallaahu ‘Alamu Bish Showwab

Sidoarjo, 5 Rabiul Awal
1447 H/ 28 Agustus 2025 M

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *