Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia di sisi Allah SWT kecuali menjadi seorang da’i. Jika kita merujuk kepada Al-Qur’an, tidak mungkin akan lahir sebuah kehidupan yang tenang, tenteram, adil dan sejahtera, selama syariat Islamiyyah belum tegak di dalam kehidupan.
Karena itu menjadi da’i, menjadi penyeru ke jalan yang benar, merupakan pekerjaan yang sangat mulia di hadapan Allah SWT. Dan apa yang sudah disampaikan oleh seorang da’i akan menjadi tabungan jangka panjang, bukan hanya ketika masih hidup di dunia sekarang ini, sampai pun ketika berada di alam barzah menunggu dan menanti saat datangnya hari kiamat, ia akan terus mengalirkan pahalanya.
Di negara kita, ada satu medan dakwah yang amat sangat menantang, yaitu daerah pedalaman yang tersebar luas dari Sabang hingga Merauke. Menjadi da’i di pedalaman memiliki banyak kelebihan. Di antaranya memiliki peluang dan waktu yang banyak untuk melakukan perenungan.
Karena di daerah yang baru, banyak ilmu yang dapat digali. Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar dalam kehidupan masyarakat yang satu dengan yang lain pasti berbeda-beda, dan itu semua akan menjadi sumber ilmu bagi kita.
Faktor keteladanan dalam rangka dakwah di pedalaman adalah sesuatu yang sangat penting. Ada da’i Dewan Dakwah yang dulu ditugaskan di Loro, Lospalos, Timor Timur. Dari sekian kawan-kawan yang dikirim ke Timor Timur dialah yang kita nilai paling lemah, tetapi kemudian dialah yang menjadi da’i paling sukses dan berhasil.
Ternyata dia lebih banyak memberikan keteladanan kepada ummatnya dan pandai-pandai mengambil trik-trik yang bisa menarik simpati orang. Misalnya ketika ada orang Islam yang meninggal, kemudian dia mandikan di pinggir pasar dengan harapan banyak orang yang melihat. Setelah selesai, 112 orang masuk Islam karena menurut mereka Islam itu: “Jangankan hidup, mati saja harus mandi.”
Bagi da’i yang bertugas di pedalaman, memang kadang-kadang ujian dan tantangan yang paling berat adalah melawan perasaan dari dalam. Yang biasa tidur dengan kasur, di pedalaman kadang-kadang punya tikar, kadang-kadang tidak. Sehingga kita harus menerima apa adanya.
Da’i kita (DDII) yang pernah kita tugaskan di Soe, rumahnya “full AC”, karena tidak pakai jendela dan pintu, sehingga anginnya masuk semua. Tetapi justru jika seorang da’i berhasil menghadapi keadaan yang seperti itu Insya Allah ia akan menjadi orang yang matang, akan menjadi orang yang bijak dan memiliki kekayaan spiritual yang sangat luar biasa. Pernah saya mengunjungi seorang da’i, dia berkata kepada saya, “Di tempat ini saya pernah 10 hari hanya makan daun-daunan saja.”
Tetapi ketika saya ingin pindahkan ke tempat yang lain, dia mengatakan, “Jangan jauhkan saya dengan Allah, justru ketika saya makan daun-daunan itu saya merasakan pertolongan Allah datang kepada saya. Saya merasakan begitu dekat dengan Allah dan Allah selalu dekat dengan saya.”
Mungkin jika tinggal di perkotaan seorang da’i tidak akan pernah bisa menangkap sinyal-sinyal kekuatan dan kebesaran Allah SWT yang selalu menyertainya ketika ia membela agama Allah SWT di pedalaman.
Itulah kenyataan, maka seorang da’i yang bertugas di pedalaman harus menjadikannya sebagai sarana untuk bercumbu dengan Allah SWT. Insya Allah suasana yang sulit akan menyebabkan kita kembali kepada Allah SWT. Kita akan bisa melewati semua tantangan dan rintangan itu.
Mau bermusyawarah, bermusyawarah dengan siapa, mau ngobrol, ngobrol dengan siapa. Maka berdialoglah dengan Allah SWT, bangunlah hubungan dengan Allah SWT semakin intens. Usahakan hafalan Al-Qur’an lebih banyak, shalat tahajjud bisa lebih intens, shaum sunnah bisa jalan dan seterusnya.
Insya Allah dengan begitu peningkatan ilmu akan terus berjalan dan kemudian kecenderungan dan keterikatan kita dengan Allah SWT tidak akan pernah bisa lepas.
Karena itu, seorang da’i di pedalaman harus pandai menangkap sinyal kekuasaan Allah SWT dalam kesulitan yang dihadapinya. Sebab dengan kesulitan yang dihadapi pada hakikatnya Allah SWT memerintahkan untuk berpikir cerdas, banyak akal.
Bagaimana seorang da’i bisa survive dalam suasana yang sulit. Karena jika sukses dalam suasana yang enak, tenang, penuh fasilitas, ia tidak mempunyai sejarah hidup. Justru ketika ia survive dalam suasana yang sulit, dalam suasana yang pas-pasan tapi bisa berhasil, itu adalah sebuah prestasi dan ia akan memiliki kekayaan yang luar biasa. (Dikutip dari buku Memilih Karena Berani)
Adm8n: Kom8nfi DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
