Menyulam Seni dalam Dakwah

Oleh Haris Agung Firmansyah
(Mahasiswa Akademi Dakwah Indonesia Dewan Dakwah Jatim 2024/2025)

Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Menuntut perbaikan masyarakat dengan dakwah yang berkualitas dan berkesinambungan seringkali kita merasa kecewa ketika melihat kondisi masyarakat yang belum menunjukkan perubahan signifikan menuju kebaikan. Namun, sudahkah kita menyadari bahwa upaya dakwah yang kita lakukan masih belum sebanding dengan tuntutan perubahan tersebut? Untuk dapat menuntut perbaikan masyarakat, kita terlebih dahulu harus mengintrospeksi cara dan kualitas dakwah kita sendiri. Sebab, dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan juga bagaimana pesan itu disampaikan dengan metode yang tepat dan penuh hikmah.

Salah satu aspek penting dalam dakwah adalah pemilihan kata yang tepat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan hal ini dalam kisah Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalām ketika berhadapan dengan Fir’aun yang sombong dan keras kepala. Allah SWT berfirman dalam Surah Ṭāhā ayat 44: “Maka katakanlah kepadanya (Fir’aun) perkataan yang lemah lembut.”
Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah tidak boleh disampaikan dengan keras atau kasar, melainkan harus dengan kelembutan dan hikmah. Kelembutan dalam berbicara tidak hanya soal intonasi suara, tetapi juga mencakup jenis kata-kata yang dipilih serta cara penyampaiannya agar dapat menyentuh hati tanpa menimbulkan perlawanan.

Mendekatkan hati manusia kepada kebaikan sebenarnya bukanlah perkara yang sulit. Terkadang, hal sederhana seperti senyuman yang tulus disertai dengan kata-kata jujur dan penuh empati sudah mampu menawan hati orang-orang yang didakwahi.

Selain itu, turun langsung ke lapangan, misalnya mengunjungi komunitas pemuda yang cenderung lalai, merupakan langkah strategis yang sangat bermanfaat.

Komunitas pemuda adalah kelompok yang sangat potensial untuk dibimbing, karena mereka masih dalam masa pencarian jati diri dan sangat membutuhkan arahan yang benar.

Namun, siapa pun yang ingin mendekati kelompok ini harus melakukannya dengan bijaksana dan meminta nasihat kepada para ahli atau da’i yang telah berpengalaman agar pendekatannya lebih efektif dan diterima dengan baik.

Di era digital yang serba cepat ini, sayangnya masih banyak ulama dan da’i yang belum memanfaatkan media internet secara optimal. Mereka tidak memiliki situs web, kanal YouTube, atau media sosial yang dapat dijadikan sarana penyebaran ilmu. Padahal, internet kini menjadi medium terbesar dan tercepat untuk menjaga dan menyebarkan ilmu ke seluruh penjuru dunia. Jika para ulama dan da’i tidak memanfaatkan teknologi ini, ada risiko ilmu yang mereka miliki akan terhenti penyebarannya, bahkan hilang begitu saja setelah buku-buku mereka. Ini adalah tantangan besar yang harus disikapi dengan serius oleh para penggiat dakwah masa kini.

Seorang da’i sejati harus memiliki semangat yang tinggi dalam menjalankan tugasnya. Semangat ini harus terinspirasi dari teladan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah lelah berdakwah, berjuang, dan menyebarkan kebaikan walau menghadapi banyak rintangan dan tantangan. Semangat yang tinggi akan membawa energi positif dan konsistensi dalam berdakwah sehingga perjalanan dakwah menjadi lebih bermakna dan berdampak luas.

Lebih dari sekadar semangat, seorang da’i harus memiliki kasih sayang yang tulus terhadap orang yang didakwahi. Kasih sayang ini diwujudkan dalam bentuk kepedulian yang mendalam dan sikap sabar dalam menasihati. Nasihat harus disampaikan dengan cara yang terbaik, penuh kelembutan dan pengertian. Namun, kasih sayang bukan berarti membiarkan kekurangan dan kesalahan berlalu5 tanpa teguran.

Seorang da’i yang bertanggung jawab tidak boleh diam menghadapi keburukan dengan alasan belas kasih. Sebaliknya, ia harus menasihati dengan cara yang baik agar orang yang didakwahi terdorong untuk berubah menjadi lebih baik.

Dalam kesimpulannya, menuntut perbaikan masyarakat harus diimbangi dengan upaya dakwah yang berkualitas, penuh hikmah, dan berkesinambungan. Pemilihan kata yang tepat, pendekatan yang lembut, penguasaan teknologi informasi, semangat yang membara, serta kasih sayang yang tulus adalah kunci keberhasilan dakwah di masa kini.

Dengan mengimplementasikan hal-hal tersebut, kita dapat berkontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang lebih baik, maju, dan beradab sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *