Adab Da’i di Jalan Dakwah: Hikmah, Strategi, dan Keteladanan dalam Menyampaikan Kebenaran

Oleh : Sadidatul Azka
(Mahasiswi Akademi Dakwah Indonesia Dewan Dakwah Jatim 2024-2025)

Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Menjadi da’i bukan hanya tentang kemampuan menyampaikan kebenaran, tetapi juga tentang bagaimana menjaga adab dalam proses menyampaikannya. Perjalanan dakwah menuntut hikmah dalam berbicara, strategi dalam memilih pendekatan, serta keteladanan dalam perbuatan. Setiap kata yang terucap membawa tanggung jawab, setiap sikap menjadi cermin dari ajaran yang dibawa. Harmoni sosial, sensitivitas terhadap mad’u, hingga kemampuan mengelola ekspresi dan suasana menjadi bagian tak terpisahkan dari etika dakwah. Inilah jalan panjang yang memerlukan kesungguhan, kedalaman ilmu, dan kehalusan akhlak untuk benar-benar menghidupkan nilai-nilai Islam di tengah umat.

Kerja Sama dan Harmoni Sosial Da’wah Islamiyyah

Dakwah bukan hanya tugas para ulama atau da’i, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh individu seorang Muslim. Dalam konteks sosial, keberhasilan dakwah sangat bergantung pada adanya kerja sama yang erat antara para pemegang peran penting seperti para hakim (qadhi), pedagang (tujjār), dan para aktivis lembaga dakwah. Masing-masing memiliki kontribusi strategis. Hakim menjaga keadilan, pedagang mendukung stabilitas ekonomi, dan para da’i menyampaikan nilai-nilai agama kepada umat.

Hal ini ditegaskan dalam sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Arab:
حُسْنُ العَلاقَةِ بَيْنَ القُضَاةِ وَالتُّجَّارِ وَالعَامِلِينَ فِي المُؤَسَّسَاتِ الدَّعَوِيَّةِ فِي البَلَدِ الوَاحِدِ، لَهُ أَثَرٌ إِيجَابِيٌّ فِي دَعْمِ وَنَجَاحِ البَرَامِجِ التَّعْلِيمِيَّةِ وَالدَّعَوِيَّةِ وَالتَّرْبَوِيَّةِ.

“Baiknya hubungan antara para hakim, pedagang, dan para pekerja di lembaga-lembaga dakwah dalam satu negara memiliki pengaruh positif terhadap dukungan dan keberhasilan program-program pendidikan, dakwah, dan pembinaan di negara tersebut.”

Dari kalimat tersebut, kita memahami bahwa kekuatan dakwah terletak bukan hanya pada isi pesan yang disampaikan, tetapi juga pada dukungan struktural dari masyarakat.

Ketika elemen sosial bersatu dan saling melengkapi, program dakwah akan lebih mudah diterima dan membuahkan hasil nyata.

Lebih jauh lagi, kerja sama ini mencerminkan etika sosial Islam bahwa dakwah harus dibangun di atas fondasi keadilan, kesejahteraan, dan kebaikan kolektif. Keselarasan antara unsur masyarakat sangat mirip dengan keselarasan unsur bahasa dalam kalimat Arab yang tersusun rapi dan bermakna.

Kehati-hatian dalam Berucap: Etika Lisan Seorang Da’i

Dalam medan dakwah, lisan adalah senjata utama. Melalui ucapan, seorang da’i menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Namun, di balik kekuatan kata-kata itu, tersimpan pula potensi bahaya yakni kesalahpahaman yang bisa timbul akibat kelalaian dalam memilih diksi, nada, atau waktu yang tidak tepat. Oleh karena itu, salah satu etika paling penting bagi seorang dai adalah kehati-hatian dalam berucap.

Sebagaimana dinasihatkan dalam ungkapan berikut:

احذَرْ مِنَ الكَلِماتِ وَالأَفْعَالِ الَّتِي قَدْ تُفْهَمُ عَنْكَ خَطَأً فِي بَرَامِجِكَ الدَّعَوِيَّةِ، لِأَنَّ خَطَأَكَ لَيْسَ كَخَطَإِ غَيْرِكَ، قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: دَعْ مَا يَسْبِقُ إِلَى الْقُلُوبِ إِنْكَارُهُ، وَإِنْ كَانَ عِنْدَكَ اعْتِذَارُهُ.

“Waspadalah terhadap kata-kata dan perbuatan yang mungkin dipahami secara keliru darimu dalam program dakwahmu, karena kesalahanmu tidak seperti kesalahan orang lain. Sebagian orang bijak berkata: Tinggalkanlah sesuatu yang cepat mengundang penolakan hati, meskipun engkau memiliki alasan untuknya.”

Kalimat ini memberikan peringatan penting bahwa kedudukan seorang da’i membuatnya berada dalam sorotan publik. Kesalahan kecil pun dapat diperbesar dan menimbulkan krisis kepercayaan. Berbeda dengan masyarakat umum, kesalahan seorang da’i dianggap sebagai representasi dari ajaran yang dibawanya. Maka, tanggung jawab moralnya menjadi lebih besar.

Selain itu, pesan dari para hukama (orang-orang bijak) menekankan pentingnya membaca situasi hati manusia. Ada hal-hal yang secara hukum boleh atau dapat diterima secara akal, namun bisa ditolak oleh hati masyarakat karena terasa tidak pantas, terlalu tajam, atau tidak bijaksana. Dalam konteks ini, kemampuan membaca suasana batin masyarakat adalah bagian dari kecerdasan sosial seorang da’i.

Kehati-hatian bukan berarti membatasi kebenaran, tetapi mengarahkan penyampaian agar sampai dengan cara yang baik. Seorang dai yang bijak tidak hanya mempertimbangkan apa yang ia sampaikan, tetapi juga bagaimana, kapan, dan kepada siapa ia menyampaikannya. Dalam hal ini, adab mendahului ilmu, dan kebijaksanaan mendahului keberanian.

Dakwah bukan hanya soal keberanian bicara, tetapi tentang hikmah dalam penyampaian. Allah ﷻ pun memerintahkan dalam Al-Qur’an:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl: 125)

Maka dari itu, setiap da’i harus membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara, menimbang dampak sebelum menyampaikan, dan memilih kata-kata dengan teliti. Karena apa yang keluar dari lisannya, bukan hanya akan terdengar oleh telinga, tetapi juga bisa tertanam dalam hati dan membentuk persepsi yang menetap.

Pengembangan Keterampilan Da’i

Dalam dunia dakwah, kedalaman ilmu merupakan pondasi utama. Namun, itu saja belum cukup. Seorang da’i juga perlu memiliki kemampuan menyampaikan pesan dengan cara yang tepat, menarik, dan menyentuh hati. Dakwah bukan hanya soal apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana menyampaikannya. Di sinilah pentingnya seni berbicara (fann al-ilqā’) dan keterampilan komunikasi (mahārāt al-ḥadīts), yang menjadi bagian penting dari profesionalisme seorang da’i.

Seorang da’i mungkin sangat menguasai isi materi yang disampaikan, namun jika penyampaiannya tidak jelas, monoton, atau tidak sesuai dengan karakter pendengar, maka pesan kebenaran itu berpotensi tidak diterima dengan baik. Hal ini bukan berarti sang da’i kurang ilmu, melainkan perlu meningkatkan keterampilan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan persuasif.

Sebagaimana dijelaskan dalam pernyataan berikut:

بَعْضُ الدُّعَاةِ بِحَاجَةٍ لِأَنْ يَتَدَرَّبَ أَكْثَرَ فِي فُنُونِ الإِلْقَاءِ وَيَتَعَلَّمَ مَهَارَاتِ الْحَدِيثِ، وَهَذَا لَا يَنْقُصُ مِنْ قَدَرِهِ، بَلْ إِنَّ التَّمَيُّزَ فِي ذَلِكَ يُؤَثِّرُ عَلَى دَعْوَتِهِ.

“Sebagian dai membutuhkan pelatihan lebih dalam seni berbicara dan mempelajari keterampilan berbicara, dan hal ini tidak mengurangi martabatnya. Justru keunggulan dalam hal tersebut sangat memengaruhi efektivitas dakwahnya.”

Pernyataan ini menekankan bahwa kemampuan menyampaikan dengan baik adalah bagian dari keunggulan seorang da’i, bukan kekurangan. Melatih diri untuk berbicara dengan terstruktur, memilih kata-kata yang sesuai, memahami karakter mad’u, serta menggunakan intonasi yang tepat adalah keterampilan yang perlu terus dikembangkan.
Rasulullah ﷺ sendiri adalah contoh sempurna dalam menyampaikan pesan. Beliau tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi melakukannya dengan kelembutan, hikmah, dan pemahaman yang dalam terhadap kondisi pendengar. Ini menunjukkan bahwa komunikasi dalam dakwah bukan perkara sepele, ia adalah jalan untuk membuka hati manusia kepada hidayah.

Tidak semua orang terlahir dengan kemampuan berbicara yang baik. Namun keterampilan ini bisa dilatih. Mengikuti pelatihan, belajar dari para da’i senior, atau mengevaluasi gaya berbicara sendiri adalah bentuk keseriusan dalam berdakwah. Usaha seperti ini tidak merendahkan martabat seorang da’i, sebaliknya, menunjukkan bahwa ia peduli terhadap dampak dari misi dakwah yang disampaikannya.

Kelebihan dalam cara menyampaikan akan memperkuat isi dakwah itu sendiri. Kalimat yang disampaikan dengan tepat bisa menjadi wasilah hidayah. Sebaliknya, pesan yang benar jika disampaikan dengan cara yang kurang baik, bisa gagal menyentuh hati. Maka, da’i yang terus belajar dan berusaha memperbaiki metode komunikasinya adalah da’i yang sungguh-sungguh ingin dakwahnya diterima dan bermanfaat bagi umat.

Bijak Menyesuaikan Gaya Bicara

Setiap tempat dan mad’u memiliki karakteristik tersendiri. Gaya berbicara yang cocok di satu forum bisa jadi tidak cocok di forum lain. Oleh karena itu, seorang da’i harus mampu menyesuaikan gaya bahasa dan cara penyampaiannya sesuai dengan konteks tempat, waktu, dan mad’u.

Hal ini ditegaskan dalam nasihat berikut:

كُنْ حَكِيمًا فِي مُخَاطَبَةِ النَّاسِ، فَالْكَلِمَةُ فِي الْمَسْجِدِ لَيْسَتْ كَالْكَلِمَةِ فِي الْمَدْرَسَةِ، وَأُسْلُوبُكَ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ لَيْسَ كَأُسْلُوبِكَ فِي الْمَقَاطِعِ الدَّعَوِيَّةِ.

“Bersikaplah bijak dalam berbicara kepada manusia, karena ucapan di masjid tidaklah seperti ucapan di sekolah. Dan gaya bahasamu dalam khutbah Jumat tidaklah seperti gaya bahasamu dalam video-video dakwah.”

Nasihat ini mengingatkan pentingnya kecerdasan kontekstual. Di masjid, jamaah datang dengan harapan mendengar nasihat yang tenang, dalam, dan religius. Sedangkan di sekolah, mungkin dibutuhkan pendekatan yang lebih edukatif dan bersifat dialogis. Begitu pula saat menyampaikan dakwah lewat media sosial atau video singkat, gaya penyampaian perlu lebih sederhana, cepat, dan menarik.

Kebijaksanaan seorang da’i terlihat dari kemampuannya membaca situasi. Dakwah yang disampaikan dengan gaya yang tidak sesuai bisa kehilangan makna, atau bahkan ditolak sebelum didengarkan. Oleh karena itu, dai perlu memahami bahwa isi dan cara penyampaian sama pentingnya.

Dengan menyesuaikan gaya bicara, dakwah tidak kehilangan ruhnya, melainkan justru makin mudah diterima oleh hati-hati yang mendengar.

Humor yang Bijak dalam Dakwah

Dakwah adalah ajakan menuju kebaikan, dan bentuk ajakan itu bisa beraneka ragam. Salah satu pendekatan yang bisa mempererat hubungan antara da’i dan mad’u adalah dakwah yang diselingi dengan humor ringan. Humor yang tepat dapat mencairkan suasana, menarik perhatian, dan menghidupkan penyampaian. Namun, di balik manfaat itu, terdapat batasan etika yang harus dijaga dengan baik.
Hal ini tersirat dalam nasihat berikut:

قَدْ يُنَاسِبُ إِدْخَالُ شَيْءٍ مِنَ الدُّعَابَةِ فِي أَثْنَاءِ الدَّرْسِ أَوِ الْمُحَاضَرَةِ، وَلَكِنْ لَا بُدَّ مِنْ مُرَاعَاةِ الذَّوْقِ الْعَامِّ، وَهَذَا يَخْتَلِفُ حَسَبَ الأَعْرَافِ وَالْعَادَاتِ فِي كُلِّ مُجْتَمَعٍ.

“Mungkin sesuai untuk memasukkan sedikit candaan dalam pelajaran atau ceramah, namun tetap harus memperhatikan selera umum. Dan hal itu berbeda-beda sesuai dengan adat dan kebiasaan di setiap masyarakat.”

Kalimat ini menegaskan bahwa penggunaan humor dalam dakwah bukan sesuatu yang haram atau tercela, bahkan terkadang sangat bermanfaat. Akan tetapi, da’i dituntut untuk memahami kadar dan konteks humor, agar tidak terjebak pada senda gurau yang melemahkan nilai pesan dakwah atau merusak citra dirinya.

Dalam masyarakat yang sangat menjaga kesopanan dan adat, humor berlebihan bisa dianggap kurang pantas atau bahkan menimbulkan kesan main-main terhadap agama. Di sisi lain, dalam masyarakat yang lebih terbuka, candaan yang halus dan santun dapat menjadi daya tarik tersendiri. Maka da’i harus mampu membaca situasi sosial dengan cermat dan memahami “ذوق عام” atau selera umum, yang sering kali menjadi penentu apakah sesuatu diterima atau ditolak oleh masyarakat.
Rasulullah ﷺ sendiri dikenal sebagai pribadi yang terkadang tersenyum, bersenda gurau dengan sahabat, bahkan membuat lelucon yang mengandung makna. Namun beliau melakukannya tanpa pernah keluar dari batas kejujuran, kesopanan, dan kehormatan. Artinya, humor dalam Islam tidak dilarang, tetapi harus diarahkan dan dikendalikan.

Maka dari itu, penggunaan humor dalam dakwah bukan soal boleh atau tidak, tetapi soal layak atau tidak. Bijaklah dalam bercanda, karena satu kalimat ringan bisa mendekatkan hati, tapi juga bisa menjauhkan manusia dari pesan kebenaran jika disalahgunakan.

Peran Guru dalam Dakwah Sehari-hari

Dalam dunia pendidikan, guru bukan hanya pengajar ilmu, tetapi juga pembimbing akhlak dan nilai. Dengan interaksinya yang intens setiap hari bersama murid-murid, guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Oleh karena itu, guru baik laki-laki maupun perempuan sebenarnya adalah pendakwah langsung di garis depan, meskipun kadang tanpa disadari secara formal.

Hal ini dijelaskan dalam kalimat berikut:

المعلِّمُ يُقابِلُ عَشَراتِ الطُّلّابِ يَوميًّا، وبِإمكانِهِ أَنْ يُساهِمَ فِي دَعوتِهِمْ عَبْرَ عِدَّةِ وَسَائِلَ، وَمِنْهَا: التَّوجِيهُ المُناسِبُ، وَالقِصَّةُ، وَالقُدوَةُ الحَسَنَةُ، وَتَقُولُ لِلْمُعَلِّمَاتِ مِثْلَ ذَلِكَ.

“Guru bertemu dengan puluhan murid setiap hari. Dan ia dapat berkontribusi dalam dakwah kepada mereka melalui berbagai cara, di antaranya: arahan yang tepat, kisah (yang inspiratif), dan keteladanan yang baik. Hal yang sama juga berlaku bagi para guru perempuan.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa setiap interaksi guru dengan murid adalah peluang dakwah. Terkadang, sebuah kalimat arahan yang singkat dapat tertanam dalam ingatan murid sepanjang hidup. Sebuah kisah bisa menginspirasi dan membentuk sudut pandang moral. Bahkan, sebuah tindakan sederhana seperti kesabaran guru menghadapi murid nakal bisa menjadi pelajaran tentang akhlak dan keteladanan.

Maka penting bagi guru untuk menyadari bahwa kehadirannya di ruang kelas bukan hanya untuk mentransfer ilmu, tapi juga untuk menanamkan nilai. Melalui tutur kata, sikap, dan interaksi, guru dapat membentuk generasi muslim yang berilmu dan berakhlak.

Lebih dari itu, guru perempuan juga memiliki peran yang tak kalah besar. Karena mereka mendidik dengan kelembutan, keteladanan, dan kedekatan emosional yang kuat. Pesan nasihat ini menyebut secara khusus bahwa apa yang berlaku untuk guru laki-laki juga berlaku untuk para guru perempuan, sebagai bentuk pengakuan atas peran utama perempuan dalam pendidikan dan dakwah.

Maka dari itu, jika para guru menjadikan profesi mereka sebagai bagian dari dakwah, maka dunia pendidikan akan menjadi lahan dakwah yang subur, dan murid-murid bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga tumbuh sebagai pribadi beriman dan bermoral.

Dakwah adalah jalan mulia yang menuntut lebih dari sekadar ilmu dan kefasihan bicara. Ia menuntut adab yang tinggi, kecermatan strategi, dan keteladanan akhlak dari para pelakunya. Seorang da’i harus mampu bersinergi dengan berbagai elemen masyarakat, menjaga lisan agar tidak menimbulkan salah paham, serta terus mengembangkan keterampilan komunikasi yang tepat guna.
Setiap tempat dan mad’u memiliki caranya sendiri untuk didekati, dan seorang da’i yang bijak akan mampu menyesuaikan gaya dan pendekatannya tanpa kehilangan substansi. Bahkan, humor pun dapat menjadi alat dakwah bila digunakan secara santun dan sesuai adat setempat. Tidak kalah penting, profesi guru adalah medan dakwah yang penuh potensi melalui tutur kata, kisah inspiratif, dan keteladanan yang konsisten.

Semua nilai ini menunjukkan bahwa dakwah yang berpengaruh bukan hanya datang dari isi yang benar, tetapi dari cara yang penuh hikmah dan hati yang bersih. Inilah esensi adab seorang da’i di jalan dakwah menyampaikan kebenaran dengan kemuliaan jiwa dan kebijaksanaan langkah.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editot: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *