Oleh : Soleha
(Mahasiswi Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Dakwah Jatim 2024-2025)
Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Dakwah Dimulai dari Rumah
“بَعْضُ الدُّعَاةِ تَرَاهُ فِي كُلِّ مَجْلِسٍ، وَلَكِنَّكَ قَدْ لَا تَجِدُهُ صَابِرًا عَلَى البَقَاءِ فِي بَيْتِهِ مَعَ أُسْرَتِهِ…”
Dalam relita dakwah, kita sering melihat sebagian dai yang aktif meghadiri berbagai majelis ilmu dan kegiatan keislaman. Mereka di banyak forum, tampil di mimbar, bahkan menjelajah tempat yang jauh untuk menyampaikan risalah islam.
Namun, di sisi lain tak jarang mereka lalai dalam hal penting mendasar, membangun dan merawat hubungan di dalam rumah tangga mereka sendiri. Ada istri – istri yang hanya ditemui suaminya beberapa menit dalam sehari, bahkan tidak merasa diperhatikan.
Dakwah paling awal adalah kepada orang terdekat, sebagaimana Nabi muhammad SAW. memulai dakwah dari khadijah dan keluaranya.
Jika dai tidak mampu memjadi sosok teladan di dalam rumah, bagaimana mungkin ia bisa membangaunn umat?. Keseimbangan antar aktivitas dakwah luar dan tanggung jawb rumah tangga adalah kunci keberhasilan yang berkelanjutan.
Wajar Mengalami Futur, Asal Segera Bangkit
“قَدْ يُصَابُ الدَّاعِيَةُ بِالفُتُورِ، وَهَذَا مِنَ الطَّبِيعِيِّ، وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ يَنْهَضَ مِنْ جَدِيدٍ…”
Manusia adalah makhluk yang naik turun semangatnya. Bahkan dai pun juga begitu, ada masa semangat mereka berkobar membara, namun ada pula saat mereka mengalami kelelahan, kebosanan, atau bahkan keraguan dalam dakwah. Yang terpentig adalah sebagimana sesorang mengalami futur dapat menyikapi terutama dai.
Dai sejati akan menyadari bahwa futur adalah alaram agar ia mengoreksi niat, mengevaluasi langkah dan memperbarui niat dakwah. Dai harus kembali bangkit mencari sebab dan solusi, memperkuat keimanan, memperdalam ilmu, dan menumbuhkan kembali motivasi dari sumber yang benar.
Futur bukan akhir perjalanan, tetapi kesempatan untuk menguatkan pondasi niat. Jangan biarkan kelelahan sesaat menjadi keterpurukan yang lama.
Jadikan Rumah Tempat Kebaikan dan Majelis Dakwah
“لَوْ يُخَصِّصُ الدَّاعِيَةُ جَلْسَةً فِي بَيْتِهِ فِي كُلِّ أُسْبُوعٍ…”
Rumah tidak hanya tempat beristirahat, tapi juga bisa menjadi markas kecil dakwah. Dengan membuka pintu rumah dan hati, seseorang dai bisa menjadi rumahnya sebagai tempat diskusi, tanya jawab agama, dan pembinaan masyarakat sekitar.
Dai yang cerdas akan menyadari pentingnya kehadiran spiritual di lingkungan. Satu kali seminggu misalnya malam jumat atau sore ahad, dapat menjadi sarana memperkuat silaturahmi, menumbukan ukuwah, dan menyampaikan nasehat agama kepada tetangga, sanak keluarga, atau saudara.
Tidak semua dakwah harus dilakukan di masjid, atau di mimbar. Membuat majelis kecil, rumah yang hagat bisa jauh lebih menyentuh dan berkesan.
Berdakwah ke Luar Negeri: Antara Tugas dan Tanggung Jawab Global
“أَقْتَرِحُ أَنْ يُخَصِّصَ بَعْضُ الدُّعَاةِ مَوْسِمًا كُلَّ عَامٍ…”
Dakwah tidak boleh terjebak dalam batas geografi. Islam adalah agama global, dan dai sebaiknya memperluas pandangannya dengan mengunjungi daerah – daerah atau negara lain, yang membutuhkan cahaya dakwah. Namun, perjalanan ini tidak sekedar pergi dan ceramah. Diperlukan perencanaan, strategi, dokumentasi kegiatan, dan penyebaran informasi. Mendokumentasikan dengan foto dan vidio dapat menjad inspirasi yang meyentuh hati, masyarakat yang tidak ikut secara langsunng.
Dai masa kini harus paham media, komunikasi dan visualisasi. Dengan konten yag kuat, pesan dakwah bisa menyebar lebih luas di era digital.
Persiapan Dakwah Global Harus Serius dan Matang
“سَفَرُ الدُّعَاةِ لِلْبِلَادِ الأُخْرَى مَطْلَبٌ مُهِمٌّ…”
Perjalanan dakwah lintas negara bukan sekedar perjalanan dengan lebel syiar islam. Ini adalah tugas besar yang menuntut kesiapan dari berbagai aspek, baik ruhiyah, keilmuan, hingga manajerial. Ada tujuh poin penting yang harus disiapkan oleh dai :
- Keikhlasan niat, sebagai pondasi utama segala amal.
- Pemahaman terhadap hukum dan sistem negara tujuan, agar tidak melanggar atau salahpaham.
- Koordinasi dengan pusat – pusat islam setempat , untuk sinergi dan efektivitas kegiatan.
- Izin dan pengaturan keluarga, karena mereka juga berdampak.
- Pengeloaan dana, agar tidak memberatkan pihak lain atau menjadi beban organisasi.
- Persiapan materi ilmiah, agar isi dakwah tidak mengambang.
- Pemilihan teman perjalanan yag sevisi, untuk mendukung kita.
Jangan berangkat tanpa persiapan, dakwah ke luar negri adalah wajah islam yang dilihat oleh dunia.
Hargai Mereka yang Bekerja di Balik Layar Dakwah
“العَامِلُونَ فِي المَكَاتِبِ الدَّعَوِيَّةِ عَلَى اخْتِلَافِ تَخَصُّصَاتِهِمْ…”
Dakwah bukan hanya milik semua orang yang tampil di mimbar. Banyak pihak yang bekerja di balik layar, di kantoran, bagian administrasi, desai, program, keuangan, media sosial, bahkan driver dan teknisi, semuanya ini berkontribusi besar dalam kesuksesan dakwah. Sudah selayaknya pengelola dakwah memberikan penghargaan, motivasi, dan dukungan kepada mereka. Apresiasi tidak cukup besar, namun cukup perhatian, hadiah kecil, atau ucapan trima kasih yang tulus sudah bisa membangkitkan semanagt kerja mereka.
Hargai semua bagian dakwah, baik yang terlihat maupun tidak. Setiap tetes keringat mereka adlah bagian dari amal jariyah.
Kesimpulan
Enam poin penting dari artikel ini, tentang pandangan horizontal tentang dunia dakwah. Dari hal kecil seperti keluarga sampai ke manca negara. Seharusnya kita bisa mengambil pelajaran bahwa dakwah adalah tanggunng jawab kolektif, perlu hati yang ikhlas, rencana yang matang, serta apresiasi yang adil. Dai bukan hanya menyampaikan, tetapi menjadi suri teldan bagi mad’u nya. Dakwah bukan hanya berbicara, tetapi juga tentang cinta, melayani den menginspirasi.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
