Oleh Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim
Dewamdakwahjatim.com, Surabaya – Dalam Islam, kepemimpinan bukanlah tahta kemuliaan, tapi beban berat di pundak yang kelak akan diadili Allah. Setiap keputusan yang mempengaruhi rakyat akan dicatat, dan setiap tetes air mata rakyat karena kebijakan zalim akan menjadi saksi di akhirat.
Kasus di Pati, Jawa Tengah, di mana pajak bumi dan bangunan sempat dinaikkan hingga 250%, menjadi pelajaran yang getir. Betapapun niatnya untuk meningkatkan pendapatan daerah, kebijakan yang menghantam rakyat tanpa napas adalah kezaliman.
Sebab, Islam tidak pernah membenarkan pemimpin memeras rakyatnya demi kas daerah, apalagi jika caranya mendadak, memberatkan, dan tanpa musyawarah.
Allah telah mengingatkan:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS. An-Nahl: 90)
Adil berarti mempertimbangkan kemampuan rakyat. Berbuat ihsan berarti memberi kemudahan, bukan kesulitan.
Rasulullah ﷺ pun memperingatkan dengan doa yang menakutkan:
اللَّهُمَّ مَن وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ
“Ya Allah, siapa yang menjadi pemimpin umatku lalu menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia (di dunia dan akhirat).” (HR. Muslim)
Bayangkan doa Nabi ini bukan sekadar ancaman, tapi kutukan yang bisa membuat hidup pemimpin zalim penuh kesempitan dan kehinaan, di dunia dan di akhirat.
Kenaikan pajak yang tidak proporsional, apalagi sampai mengganggu kemampuan rakyat memenuhi kebutuhan pokok, bukan hanya salah urus, tapi pengkhianatan terhadap amanah. Pemimpin sejati menurut Islam adalah pelayan rakyat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
سَيِّدُ القَوْمِ خَادِمُهُمْ
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Dawud)
Saat rakyat turun ke jalan dan memohon kebijakan itu dibatalkan, itu adalah jeritan dari hati yang terhimpit. Dan jeritan orang yang terzalimi, kata Nabi ﷺ, tidak ada penghalang di hadapan Allah.
Pelajaran dari Pemimpin Zalim dalam Sejarah Islam
Dalam sejarah, Allah telah menunjukkan bagaimana nasib pemimpin yang menindas rakyatnya. Salah satunya adalah Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, gubernur pada masa Bani Umayyah.
Ia dikenal cerdas, pandai pidato, tapi juga kejam dan menindas rakyat. Pajak tinggi, kerja paksa, dan pembunuhan lawan politik menjadi ciri pemerintahannya. Banyak ulama dan rakyat memanjatkan doa agar Allah membebaskan mereka dari kezalimannya.
Doa rakyat yang terzalimi itu tidak ada hijab di sisi Allah. Akhirnya, Al-Hajjaj menderita penyakit perut yang membuat tubuhnya membusuk saat masih hidup. Ia mati dalam keadaan hina, meski dulunya ditakuti seluruh negeri. Hasan Al-Bashri berkata:
“Demi Allah, jika bukan karena takut dusta, aku akan mengatakan bahwa Allah mengazabnya di dunia sebelum di akhirat.”
Kisah ini menjadi cermin: pemimpin yang menindas rakyatnya akan jatuh, cepat atau lambat.
Tak peduli sekuat apa kekuasaannya, saat doa rakyat yang dizalimi menembus langit, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.
Maka kepada setiap pemimpin, lihatlah kursi jabatan itu bukan sebagai singgasana, tapi mimbar amanah. Ingat, jabatan tidak dibawa mati, tapi pertanggungjawabannya akan mengejar hingga ke liang lahat.
Dan kepada rakyat, jika kebijakan zalim menimpa, bersuara dengan adil, tapi jangan lupa juga bersujud memohon kepada Allah — sebab doa itu senjata yang tidak bisa dikalahkan oleh aparat, pasukan, atau kekuasaan sebesar apapun.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
