Oleh : Nurun Ini’mah,
(Mahasiswi Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Dakwah Jatim 2024-2025)
Dewandakwahjatim.com, Mojokerto –
مِمَّا جَرَّبْتُهُ مَعَ عَامَّةِ النَّاسِ، الثَّنَاءُ عَلَيْهِمْ بِمَا فِيهِمْ مِنَ الْخَيْرِ، وَالدُّعَاءُ لَهُمْ، وَرَأَيْتُ أَنَّ لِذَلِكَ أَثَرًا كَبِيرًا، فِي اسْتِجَابَتِهِمْ لِلْخَيْرِ.
“Dari hal yang telah aku coba dengan kebanyakan orang adalah memuji mereka atas kebaikan yang ada pada diri mereka, dan mendoakan mereka. Aku melihat bahwa hal itu memiliki pengaruh besar dalam membuat mereka menerima (dan merespon) kebaikan.”
Ketika kita memperlakukan orang lain dengan penghargaan dan doa, mereka akan lebih terbuka menerima kebaikan dari kita, dibanding jika kita memulai dengan celaan atau sikap menghakimi.
لَا يَصِحُّ لِلدَّاعِيَةِ أَنْ يَقْسُوَ عَلَى الآخَرِينَ بِمُجَرَّدِ أَنَّهُ يَمُرُّ بِظُرُوفٍ نَفْسِيَّةٍ سَيِّئَةٍ، فَالنَّاسُ يَحْفَظُونَ مَوَاقِفَكَ الْحَسَنَةَ وَالسَّيِّئَةَ.
“Tidaklah pantas6 bagi seorang dai (pendakwah) untuk bersikap kasar kepada orang lain hanya karena dia sedang mengalami kondisi psikologis yang buruk, karena manusia akan mengingat sikap-sikapmu yang baik maupun yang buruk.
Seorang dai atau pendakwah adalah figur publik yang menjadi panutan. Ketika dia sedang dalam keadaan tertekan, stres, atau mengalami masalah kejiwaan, tetap tidak dibenarkan untuk melampiaskan itu dengan sikap kasar atau menyakitkan kepada orang lain.
Masyarakat tidak hanya menilai isi dakwah, tetapi juga sikap dan perilaku pendakwah.Kebaikan dan keburukan yang ditunjukkan akan diingat oleh manusia, sehingga penting bagi pendakwah untuk menjaga akhlaknya walaupun sedang diuji.
الْجِنُّ اسْتَمَعُوا لِلْآيَاتِ فَانْطَلَقُوا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ، قالَ تعالى: ﴿فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ﴾ [سورة الأحقاف: آية ٢٩] وبعضُنا يَحفَظُ عدّةَ أَجزاءٍ وعَشراتِ الأحاديث وليس له أَيُّ مشاركةٍ في الدَّعوة
“Jin-jin itu mendengarkan ayat-ayat (Al-Qur’an), lalu mereka segera kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.Allah Ta’ala berfirman: “Maka ketika telah selesai (Nabi membacakan Al-Qur’an), mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.”(QS. Al-Ahqāf: 29)
Sementara sebagian dari kita menghafal beberapa juz dan puluhan hadits dan tidak memiliki sedikit pun andil dalam dakwah.
Ayat ini menggambarkan kisah sekelompok jin yang ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi Muhammad ﷺ, mereka langsung merespon dengan serius. Betapa cepat dan seriusnya jin-jin itu dalam merespon wahyu dan terlibat dalam dakwah, meskipun mereka baru saja mendengar Al-Qur’an.
Ini adalah ajakan muhasabah (introspeksi diri).
Kita sebagai manusia, bahkan yang sudah menghafal banyak ayat dan hadits, seringkali tidak segera bertindak atau menyampaikan ilmu tersebut. Jangan hanya menyimpan ilmu—gunakan untuk berdakwah, menasihati, dan memberi manfaat.Dakwah tidak harus dari mimbar—bisa dari tulisan, percakapan sehari-hari, atau memberi contoh kebaikan.
الصّالِحُونَ يَبْنُونَ أَنْفُسَهُمْ، وَالْمُصْلِحُونَ يَبْنُونَ الْمُجْتَمَعَاتِ
“Orang-orang yang shalih membangun (memperbaiki) diri mereka sendiri, sedangkan para pembaharu (reformis/musliḥ) membangun masyarakat.”
Jadi, orang shalih itu baik untuk dirinya, sedangkan orang musliḥ baik untuk dirinya dan orang lain.Namun idealnya, seorang muslim berusaha menjadi shāliḥ dan musliḥ sekaligus memperbaiki diri dan juga aktif memperbaiki masyarakat.
ٱلْخَيْرُ يَمْلَأُ قُلُوبَ ٱلْكَثِيرِ مِنَ ٱلنَّاسِ، وَٱلدَّاعِيَةُ ٱلْحَكِيمُ يَنْظُرُ إِلَى جَوَانِبِ ٱلْخَيْرِ فِي ٱلنَّاسِ وَلَا تَقْتَصِرُ نَظْرَتُهُ عَلَى مُجَرَّدِ مَعْصِيَةٍ ظَاهِرَةٍ فِي ٱلشَّخْصِ ٱلَّذِي أَمَامَهُ.
“Kebaikan memenuhi hati banyak orang, dan seorang da’i (pendakwah) yang bijaksana memandang sisi-sisi kebaikan yang ada pada manusia, dan tidak membatasi pandangannya hanya pada satu maksiat yang tampak pada orang yang ada di hadapannya.
Manusia pada dasarnya memiliki banyak sisi kebaikan dalam dirinya.Seorang da’i atau pendakwah yang bijak tidak langsung menilai seseorang hanya karena satu dosa atau kesalahan yang terlihat.Ia mencari dan melihat potensi kebaikan dalam diri orang tersebut, agar bisa membimbingnya dengan kasih sayang dan hikmah.
أَنتَ قُدْوَةٌ فِي أَخْلَاقِكَ فَانْتَبِهْ لِنَفْسِكَ، لِأَنَّ تَأْثِيرَكَ بِأَفْعَالِكَ أَقْوَىٰ مِنْ تَأْثِيرِكَ بِأَقْوَالِكَ.
“Dan Kamu adalah teladan dalam akhlakmu, maka waspadalah terhadap dirimu, karena pengaruhmu melalui perbuatanmu lebih kuat daripada pengaruhmu melalui ucapanmu.
Pentingnya konsistensi antara perkataan dan perbuatan dalam diri seorang individu, khususnya bagi mereka yang menjadi teladan atau panutan (seperti seorang pendakwah, pemimpin, atau bahkan orang tua).
Jika kita ingin mempengaruhi orang lain dengan cara yang positif, kita harus terlebih dahulu menjaga kualitas tindakan kita karena tindakan kita akan lebih membekas dan lebih diingat dibandingkan hanya dengan kata-kata.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
