Dakwah di Era Modern: Peran Dai, Pemuda, dan Ruang Publik dalam Menyebarkan Islam

Oleh : Fatimah Az-Zahra,
(Mahasiswi Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Dakwah Jatim 2024-2025)

Dewandakwahjatim.com Mojokerto – Dakwah di era modern menuntut pendekatan yang lebih luas dan kreatif, melibatkan berbagai bidang keahlian, ruang publik, serta sinergi antara dai dan pemuda. Penyebaran nilai-nilai Islam dapat dilakukan melalui profesi, media, dan interaksi sosial yang bijak dan strategis. Dengan semangat, keikhlasan, dan pemahaman terhadap realitas masyarakat, dakwah menjadi lebih relevan dan mampu menyentuh hati serta membawa perubahan positif bagi umat secara menyeluruh.

Keahlian sebagai Sarana Dakwah

Umat Islam membutuhkan kontribusi dari berbagai bidang keahlian yang relevan dan bermanfaat. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui lisan, tetapi juga melalui karya, inovasi, dan keahlian profesional. Maka, setiap Muslim hendaknya tidak pelit terhadap agamanya—ilmu dan keterampilan yang dimiliki adalah amanah yang bisa digunakan untuk membela dan menyebarkan Islam dengan semangat, kebijaksanaan, dan pandangan tajam.

Pentingnya Istri Salihah bagi Seorang Dai

Seorang dai yang berjuang di jalan dakwah membutuhkan pendamping hidup yang salihah, yang tidak hanya mendukung secara emosional, tetapi juga menjadi mitra dalam perjuangan menyebarkan kebaikan. Istri yang salihah akan menjadi penopang spiritual dan moral, serta membantu menjaga keteguhan hati sang dai dalam menghadapi tantangan dakwah.

Pasar sebagai Ruang Dakwah

Pasar adalah tempat berkumpulnya banyak orang dengan perhatian besar terhadap penampilan lahiriah. Para pengelola pasar memiliki peluang besar untuk menjadikan ruang ini sebagai sarana dakwah. Layar-layar digital, poster, atau papan informasi bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan Islam yang mendidik, menyentuh hati, dan relevan dengan kehidupan masyarakat, dalam berbagai bahasa.

Membangun Relasi yang Kuat antara Pemuda dan Dai

Pemuda adalah tulang punggung perubahan, dan banyak dai pun berasal dari kalangan muda. Maka, hubungan antara pemuda dan para dai harus dibangun dengan saling pengertian dan empati. Dai yang memahami karakter, tantangan, dan aspirasi pemuda akan lebih mudah menyentuh hati mereka dan membimbing mereka menuju jalan kebaikan.

Keikhlasan Seorang Dai

Dai yang jujur tidak mencari popularitas atau pujian. Ia menyebarkan kebaikan dengan cara apa pun, melalui siapa pun, dan tidak merasa harus selalu tampil di depan. Ia jauh dari rasa iri terhadap sesama dai, karena yang ia cari adalah ridha Allah, bukan pengakuan manusia. Keikhlasan inilah yang membuat dakwahnya menyentuh dan berbuah.

Khutbah Jum’at yang Bermakna

Khutbah Jum’at adalah momen sakral yang dinanti oleh umat. Seorang khatib harus mempersiapkan materi khutbah dengan sungguh-sungguh, karena jamaah telah bersuci dan hadir dengan harapan mendapatkan ilmu dan nasihat. Kata-kata khatib adalah amanah, dan di dalamnya ada kehadiran Allah yang akan menyentuh hati para pendengar.[]

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *