Oleh : Arisva Mauliyah,
(Mahasiswi Akademi Dakwah Indonesia Dewan Dakwah Jatim 2024-2025)
Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Dalam perjalanan kehidupan, manusia senantiasa dihadapkan pada berbagai ujian; baik berupa kesulitan pribadi, hambatan sosial, maupun tantangan dalam menunaikan kewajiban agamanya. Salah satu tugas mulia yang memerlukan kesiapan lahir dan batin adalah dakwah; sebuah usaha mengajak manusia kepada kebaikan, mengingatkan mereka akan Allah SWT, serta membimbing masyarakat menuju jalan yang lurus. Namun, di balik keutamaannya, dakwah bukanlah tugas yang mudah; ia memerlukan ilmu yang luas, kesabaran yang tinggi, dan keterampilan yang matang.
Tidak jarang para pendakwah, khususnya yang masih dalam proses belajar, merasa kewalahan menghadapi tantangan ini; mereka kadang ragu, malu, atau bahkan segan untuk meminta bantuan kepada orang lain. Padahal, dalam kenyataan, meminta bantuan merupakan langkah bijak; ia bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kerendahan hati dan semangat untuk terus belajar.
Artikel ini hendak mengajak kita semua, khususnya para pendakwah muda, untuk tidak malu dalam meminta bantuan; karena dengan saling menolong, dakwah akan menjadi lebih kokoh dan efektif.
Pentingnya Kesadaran akan Keterbatasan Diri
Setiap manusia memiliki keterbatasan; tidak ada seorang pun yang sempurna dalam segala hal. Seorang pendakwah, betapapun luas ilmunya, tetap memiliki kekurangan dalam bidang tertentu; mungkin ia ahli dalam tafsir, tetapi kurang mendalami fiqh; atau mungkin ia pandai berbicara, tetapi masih belajar menata tulisan. Kesadaran ini penting; sebab hanya dengan menyadari keterbatasan diri, seseorang akan terdorong untuk mencari bantuan dan melengkapi kekurangannya.
Banyak di antara kita yang enggan meminta bantuan karena merasa malu atau takut dianggap tidak mampu; padahal, sikap seperti itu justru menghambat perkembangan diri. Seorang pendakwah seharusnya memahami bahwa meminta bantuan bukanlah aib; bahkan Rasulullah SAW sendiri, yang menjadi teladan umat, tidak segan meminta pendapat sahabatnya dalam berbagai urusan; seperti ketika menghadapi perang Ahzab, beliau menerima saran Salman al-Farisi untuk menggali parit sebagai strategi bertahan. Ini membuktikan bahwa meminta bantuan adalah bagian dari kebijaksanaan.
Meminta Bantuan sebagai Sarana Belajar dan Tumbuh
Ketika seorang pendakwah meminta bantuan, sejatinya ia sedang membuka jalan untuk belajar; setiap pertanyaan yang diajukan, setiap saran yang diterima, dan setiap koreksi yang didengar merupakan peluang berharga untuk memperkaya pengetahuan.
Dengan demikian, dakwah yang disampaikan menjadi lebih berbobot; pesan kebaikan yang disampaikan pun akan lebih diterima oleh masyarakat.
Dalam proses ini, terdapat beberapa manfaat yang dapat dirasakan, antara lain:
Mendapatkan pemahaman baru; bantuan dari orang yang lebih berpengalaman akan memperluas wawasan serta membuka perspektif berbeda dalam memahami masalah dakwah.
Meningkatkan kualitas penyampaian; seorang pendakwah yang terbuka menerima masukan akan mampu memperbaiki cara berbicara, menyusun argumen, serta menyesuaikan bahasa dengan audiensnya.
Membangun kepercayaan diri; dengan dukungan orang lain, rasa ragu dan takut akan berkurang; pendakwah akan lebih mantap dalam menyampaikan pesan agama.
Menumbuhkan sikap rendah hati; kebiasaan meminta bantuan membuat seseorang tidak mudah sombong; ia sadar bahwa ilmu dan kekuatan hanya milik Allah, sedangkan dirinya hanyalah hamba yang saling membutuhkan.
Membangun Jaringan dan Persaudaraan
Dakwah bukanlah tugas individu semata; ia merupakan amanah kolektif umat Islam. Oleh karena itu, meminta bantuan dalam bidang dakwah juga berarti memperkuat jaringan persaudaraan; ketika seorang pendakwah mau bekerja sama, hubungan antarpendakwah akan semakin erat; mereka saling melengkapi kekurangan, saling memberi semangat, dan saling mendoakan.
Hubungan ini tidak hanya bermanfaat bagi pribadi pendakwah, tetapi juga berdampak positif bagi masyarakat luas; sinergi antara para pendakwah akan melahirkan program dakwah yang lebih terencana, lebih menyentuh kebutuhan masyarakat, dan lebih mudah diterima oleh berbagai lapisan.
Dengan demikian, tujuan dakwah untuk menebar rahmat bagi semesta akan lebih mudah tercapai.
Mengatasi Rasa Malu dan Segan
Malu merupakan fitrah manusia; namun malu yang berlebihan dapat menjadi penghalang dalam meraih kebaikan. Dalam konteks dakwah, rasa malu yang dimaksud adalah rasa enggan untuk bertanya atau meminta bantuan; rasa ini sering muncul karena takut dianggap kurang mampu atau khawatir dinilai rendah oleh orang lain.
Untuk mengatasi hal tersebut, pendakwah perlu menanamkan beberapa prinsip:
Niat yang lurus; memohon bantuan bukan untuk kepentingan pribadi semata, melainkan demi kelancaran dakwah dan kemaslahatan umat.
Sadar akan manfaatnya; bantuan yang diterima akan memudahkan tugas dakwah; semakin mudah dakwah dilakukan, semakin banyak pahala yang didapat.
Belajar dari teladan; para sahabat Nabi SAW tidak segan bertanya langsung kepada Rasulullah; bahkan mereka bangga ketika memperoleh jawaban yang bermanfaat bagi semua.
Dengan prinsip ini, rasa malu akan berubah menjadi semangat; dari yang semula enggan bertanya, menjadi berani mencari ilmu demi kebaikan.
Penutup: Saling Membantu dalam Dakwah
Wahai para sahabat yang meniti jalan dakwah; ketahuilah bahwa meminta bantuan bukanlah kelemahan, melainkan tanda kebijaksanaan. Tidak ada salahnya mengakui bahwa kita masih belajar; justru dengan sikap rendah hati itulah Allah akan meninggikan derajat kita.
Dakwah adalah amanah besar; ia menuntut ilmu, kesungguhan, dan kebersamaan. Jika kita saling membantu, maka kesulitan akan terasa ringan; rintangan akan mudah diatasi; dan pesan kebenaran akan lebih luas tersebar. Oleh karena itu, janganlah malu untuk meminta bantuan; karena dalam dakwah, kita bukanlah pesaing, melainkan saudara yang saling menopang menuju ridha Allah SWT.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
