Hamka, Pengarang, dan Posisi Bangsa

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 12 judul lainnya

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di buku Lembaga Budi, Hamka menyatakan bahwa inti pendidikan ialah membukakan mata orang agar luas dan jauh (2018, h.139). Lalu, di buku yang sama, Hamka menunjukkan bahwa pengarang bisa membuka wawasan masyarakat. Sekaligus, di titik ini, Hamka memperlihatkan tentang tanggung-jawab pengarang yang besar.

Hamka sebagai pengarang, banyak orang yang tahu. Hamka banyak memberi perhatian kepada pengarang, banyak pihak yang paham. Hamka sering membanggakan posisi pengarang, banyak kalangan yang merasakan.

Siapa Gerangan

Perhatikan, misalnya, di buku Lembaga Budi. Di halaman 124-127, Hamka menulis secara menarik hal-ikhwal kepengarangan. Judulnya, “Pengarang”. Di situ, dia sampaikan beberapa hal penting yang puncaknya bisa seperti ini: Hamka Percaya Pengarang sebagai Pendidik Bangsa.

Pengarang adalah orang yang dapat mengeluarkan pikiran dan budi bahasa dari buah penanya, kata Hamka. Apa budi bahasa? Dari KBBI bisa kita simpulkan, budi bahasa adalah tingkah laku dan/atau tutur kata yang sopan. Dengan demikian, bisa kita tulis bahwa pengarang adalah orang yang dapat mengeluarkan pikiran secara sopan melalui tulisan.

Pengarang, siapa sajakah? Di antara yang disebut Hamka adalah pengarang buku ilmu pengetahuan. Juga, pengarang syair dan hikayat (sastrawan), serta mereka yang mengarang di surat kabar.

Agar Bermutu

Siapa pengarang yang berkualitas? Hamka memberikan beberapa ciri. Pertama, pengarang harus luas pengetahuannya termasuk tentang budi bahasa bangsanya. Di sini, pengarang terutama harus menguasai bahasa bangsanya: Manakah yang halus, mana pula yang kasar? Dengan itu, pengarang akan dapat menyampaikan pendapatnya pada pembaca dengan baik. Di sisi ini, pengarang wajib tahu tata-bahasa terkait mana yang aman dipakai atau bisa merusak andai digunakan.

Kedua, pengarang harus selalu menambah pengetahuan dan pengalamannya. Dia harus luas pergaulannya dan lapang pula dadanya. Dia juga mesti kaya simpanan ilmu di otaknya.

Ketiga, lidahnya fasih (maksudnya, tulisan pengarang itu mengalir) dan keterangannya jelas. Dia memiliki gaya tersendiri yang menjadi kepribadiannya. Tidak sukar baginya menggambarkan dengan kata-kata semisal perasaan sedih, luapan kegembiraan, dan lain-lain.

Keempat, pengarang harus teguh pendirian. Dia harus punya argumentasi atas karangannya. Dia mesti mampu menangkis jika ada kritik.

Kelima, pengarang harus bisa menjadi teladan. Segala perbuatannya seyogyanya dapat dijadikan contoh. Semua perilakunya dapat menginspirasi.

Impian Mulia

Pengarang itu mulia. Cita-citanya, kata Hamka, meninggikan kecerdasan kaumnya. Untuk itu, Hamka lalu memberikan berbagai perumpamaan yang tepat, seperti berikut ini.

Pertama, pengarang seperti seorang petani yang mencangkul untuk menghasilkan tanaman. Lewat karyanya, pengarang menyajikan pemikirannya. Itu bisa dilakukan dengan mengolah bahan-bahan bacaan (tertulis dan tak tertulis) yang telah dimilikinya.

Kedua, pengarang laksana tentara yang tampil di medan perang membela kemerdekaan tanah airnya. Tentara maju dengan senjata. Pengarang berangkat bersama pena.

Ketiga, pengarang ibarat dokter yang mengobati si sakit. Pengarang ialah pengobat penyakit jiwa bangsanya. Penyakitnya, seperti malas dan lalai.

Keempat, pengarang seperti advokat. Jika advokat membela seseorang di pengadilan, maka pengarang membela ”langsung” di tengah-tengah masyarakat. Pengarang membela bangsanya dengan pena.

Kelima, pengarang seperti guru. Guru mendidik murid di kelas. Pengarang mendidik masyarakat luas.

Alhasil, pengarang menggunakan pena untuk mencerdaskan kaumnya. Pengarang membela akhlak bangsanya. Pengarang mempertahankan kesucian martabat bangsanya sehingga dapat duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa lain. Intinya, pengarang aktif memajukan peradaban bangsanya (2018: 125).

Jurnalis Asyik

Dalam pandangan Hamka, jurnalis termasuk pengarang. Dia, menjadi pelayan masyarakat. Dia, menjadi pembela orang yang teraniaya. Penanya dipakai untuk menghilangkan perasaan putus asa orang banyak.

Lembar-lembar karya jurnalistiknya berisi tuntunan kepada kebenaran. Begitu juga saat dia menulis buku, maka halaman-halamannya akan dipenuhi pembelaan kepada kebenaran. Dibelanya kebenaran itu dari segala gangguan.

Pujangga Keren

Menurut Hamka, di jajaran pengarang, ada lagi tiang masyarakat yang sangat penting. Dia adalah pujangga. Apa pujangga?
Di kamus, pujangga adalah pengarang hasil-hasil sastra, baik puisi maupun prosa. Maknanya bisa juga, secara umum, pujangga adalah ahli pikir. Adapun secara khusus, pujangga adalah ahli sastra (https://kbbi.web.id/pujangga akses 09/08/2025).

Sementara, bagi Hamka, pujangga adalah pengarang yang ahli syair. Terasa, makna ini dekat dengan makna secara khusus versi kbbi.web.id. Bahwa, pujangga adalah ahli sastra khususnya karena cakap menulis syair.

Pujangga, kata Hamka, adalah pembina peradaban dan pembentuk perasaan rakyat supaya bertambah halus. Para pujangga menghidangkan ke masyarakat nilai keindahan dan kemuliaan. Tujuannya, lantaran membaca yang indah-indah itu, hiduplah perasaannya. Juga, terbimbinglah jiwanya menuju kebenaran dan kebahagiaan. Pun, kuat tekadnya untuk membela kalangan yang lemah seperti fakir dan miskin.

Syair, hemat Hamka, berisi nilai-nilai yang lebih banyak menggerakkan perasaan halus. Syair, lanjut Hamka, dapat dipakai untuk membangkitkan bangsa. Bangkit menuju ketinggian dan kemuliaan.

Amanat Berat

Meski buku Lembaga Budi terbit kali pertama pada 1941, isinya masih relevan dengan kondisi saat ini. Isinya sungguh menggugah. Pesannya amat menyemangati.

Wahai pengarang, didiklah bangsa, bawalah ke posisi terhormat. Karya Anda yang baik bisa menghaluskan budi pekerti warga bangsa. Karya Anda yang bernas dapat membangkitkan semangat warga bangsa untuk maju.

Duhai pengarang, meski berat tanggung-jawab Anda, tetaplah istiqomah di jalan mulia itu. Teruslah berkarya dengan menjadikan ”budi” sebagai ruh. Hal ini karena pena yang tidak disertai ”budi” selalu menyesatkan orang banyak, kata Hamka. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *