Oleh Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam hiruk-pikuk dunia yang penuh distraksi, suara-suara media sosial, notifikasi, dan konten yang datang silih berganti—masihkah ada ruang di telinga dan hati kita untuk suara paling agung: suara Al-Qur’an?
Rasulullah ﷺ bersabda:
ليس منا من لم يتغن بالقرآن
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memperindah (menyenandungkan) Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)
Hadis ini bukan sekadar ajakan membaca Al-Qur’an, tapi peringatan keras:
Siapa yang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai nyanyian jiwanya, dia telah jauh dari jalan Nabi.
Apa Makna “يتغنّى بالقرآن”?
Para ulama menjelaskan bahwa “يتغنّى” bukan berarti bernyanyi seperti lagu pop, tapi:
Membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu, tenang, dan penuh penghayatan, sesuai adab dan tajwidnya.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ketenangan, pelipur lara, dan kebahagiaan sejati.
Artinya: bukan hanya mulut yang membaca, tapi hati yang bersenandung bersama maknanya.
Di Tengah Banyak Suara, Mana yang Kau Dengarkan?
Setiap hari kita mendengar begitu banyak suara:
musik di jalan, obrolan tak penting, debat panas di media, gosip yang tak henti.
Namun, apakah kita memberi ruang bagi suara Al-Qur’an?
Apakah kita mendengarnya di pagi hari saat matahari belum tinggi?
Apakah kita merenungkannya saat hati sedang gelisah?
Apakah kita menangis saat ayat-ayatnya menggores nurani?
Jika tidak…
Maka sungguh kita sedang kehilangan satu nikmat terbesar dalam hidup.
Menjadi Hamba yang Bersyair dengan Wahyu
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ibadah, tapi senandung ruhani.
Mereka yang terbiasa menyenandungkan Al-Qur’an, hatinya lembut, pikirannya jernih.
Suara bacaan mereka menjadi penenang, bukan hanya untuk diri, tapi juga untuk orang lain.
Mereka hidup dengan Al-Qur’an.
Dan Al-Qur’an hidup dalam diri mereka.
Mulai Sekarang: Jadikan Al-Qur’an Nyanyian Jiwa Kita
Dengarkan bacaan Al-Qur’an setiap hari, walau sebentar.
Pelajari tajwid, walau sedikit demi sedikit.
Latih suara kita, bukan untuk tampil, tapi untuk taqarrub (mendekat) kepada Allah.
Jadikan waktu luang kita bukan hanya untuk scroll TikTok, tapi juga untuk menyetel surah al-Mulk atau ar-Rahman.
Karena siapa tahu…
suara kita yang gemetar membaca Al-Qur’an di dunia, kelak menjadi suara yang disambut malaikat di surga.
Al-Qur’an bukan untuk sekadar dilihat di rak-rak rumah,
tapi untuk dihidupkan dalam dada-dada yang tunduk.
Nabi kita tak mengakui orang yang tidak menyenandungkan Al-Qur’an dalam hidupnya.
Jangan biarkan hidup kita sunyi dari suara Al-Qur’an.
Karena jika dunia ini terlalu bising, hanya wahyu yang bisa jadi ketenangan sejati.
Mari mulai hari ini:
Bacalah Al-Qur’an. Senandungkan. Hayati.
Jangan sampai kita termasuk orang yang tidak diakui Nabi.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
