Peringatan Keras bagi Penuntut Ilmu: Jangan Belajar untuk Pamer atau Pencitraan!

Oleh Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ilmu itu cahaya. Tapi jika niatnya rusak, cahaya itu bisa berubah menjadi api yang membakar diri sendiri.

Peringatan dari Rasulullah ﷺ:

“مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ يُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ يَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ.”

“Barang siapa menuntut ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau berdebat dengan orang-orang bodoh, atau agar wajah manusia berpaling kepadanya, maka ia di neraka.” (HR. Ibnu Mājah, hasan shahih menurut Al-Albani)

Baik itu ilmu agama maupun ilmu umum, semua bisa menjadi petaka bila niatnya bukan karena Allah.

Firman Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menegaskan: Ikhlas adalah pondasi utama dalam segala amal, termasuk dalam menuntut ilmu.

Qoul Ulama Salaf:

Imam Sufyan ats-Tsauri رحمه الله:

“ما عالجت شيئًا أشد عليّ من نيتي، إنها تتقلب عليّ.”

“Tidak ada sesuatu yang paling sulit aku obati selain niatku. Karena niat itu terus berbolak-balik dalam diriku.”

Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله:

“العلم لا يعدله شيء لمن صحّت نيته.”

“Tidak ada yang dapat menandingi ilmu, bagi siapa yang benar niatnya.”

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin:

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan. Amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Jika ilmu tidak mendekatkanmu kepada Allah, maka ia telah menjauhkanmu dari-Nya.”

Syaikh Bakr Au Zaid رحمه الله berkata:

“Ilmu adalah ibadah. Maka sebagaimana amal ibadah lain, ia harus dibangun atas pondasi ikhlas dan ittiba’ (mengikuti sunnah).” (Lihat: Hilyah Thalib al-‘Ilm)

Ancaman Bagi yang Salah Niat:

“أَوَّلُ مَنْ تُسَعَّرُ بِهِمُ النَّارُ ثَلَاثَةٌ…”

Salah satunya adalah penuntut ilmu dan qari’:

“…didatangkan seorang yang belajar ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Kamu dusta. Kamu belajar agar disebut ‘alim, dan membaca agar disebut qari’. Maka sudah dikatakan oleh manusia. Lalu ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa ilmu bukanlah jaminan keselamatan, jika niatnya hanya mencari ketenaran, pujian, atau penghormatan.

Renungi dan Waspadalah

Jangan kejar pujian manusia dengan ilmu.
Jangan jadikan gelar, podium, atau followers sebagai tujuan.
Belajarlah untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah, bukan untuk tampil di atas panggung pujian.

“العلم دين، فانظروا عمّن تأخذون دينكم.”

“Ilmu itu agama. Maka perhatikan dari siapa kamu mengambil agamamu.” (Imam Malik رحمه الله)

Semoga Allah menjaga hati kita, menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai sebab hidayah, bukan petaka. Karena ilmu, bila tak dibarengi dengan ikhlas, bisa menjadi hijab yang paling tebal antara kita dan Allah.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *