Oleh Sadidatul Azka, mahasiswa ADI Jatim
Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Di tengah gemuruh perkembangan zaman, masih ada sosok yang membuktikan bahwa keikhlasan, ketekunan, dan kesederhanaan mampu menjadi pilar utama dalam membangun peradaban ilmu dan dakwah. Salah satunya adalah Ahmad Amar bin Muhammad Syarif, ulama kharismatik asal Wuluhan – Jember, Jawa Timur. Meski namanya tidak setenar tokoh nasional, namun pengaruhnya begitu kuat di lingkungannya bahkan hingga hari ini.
Lahir pada 29 Agustus 1942, KH Amar (selanjutnya ditulis begitu) adalah putra dari KH Muhammad Syarif dan Nyai Siti Romlah. Latar belakang keluarganya penuh dengan spirit keilmuan dan dakwah. Ibunya merupakan saudari dari istri KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Artinya, KH Amar adalah keponakan dari tokoh besar pesantren tersebut. Jalinan darah dan keilmuan itu membentuk fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya.
Jejak Kependidikan
Perjalanan intelektual KH Amar dimulai dari Sekolah Dasar (kala itu, SR). Lalu, dilanjutkan ke PGA (Pendidikan Guru Agama). Meski tidak menamatkan jenjang PGA ini, pada 1956 beliau memilih untuk mendalami ilmu agama lebih dalam di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di pesantren yang disebut terakhir ini, banyak ulama besar lahir.
Di Gontor inilah beliau mengasah karakter dan dasar-dasar keilmuan Islam secara modern dan sistematis. Saat di Gontor, KH Hasyim Muzadi (Ketua Umum PB-NU 1999-2010) satu tahun di atas KH Amar. Keduanya pernah sekamar (kamar Sighor).
Hal lain, saat di Gontor, KH Amar aktivis. Dia aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia). Hasyim Muzadi pun pernah aktif di PII, 1960-1964.
Enam tahun KH Amar belajar di KMI Gontor, lulus 1962. Lalu pengabdian setahun. Setelah itu, KH Amar melanjutkan ke IPD (Institut Pendidikan Darussalam) Gontor yang kini dikenal sebagai UNIDA Gontor. Di IPD, tiga tahun, lulus 1965.
Perjalanan keilmuan beliau tidak berhenti di bangku kuliah. KH Amar kemudian menimba ilmu fiqh di Pondok Pesantren Persis Bangil di bawah bimbingan Ustadz Abdul Qodir Hassan. Ulama yang disebut terakhir ini, ulama fiqh kenamaan yang merupakan putra dari A. Hassan – Guru Utama Persis.
Di Persis Bangil, KH Amar lalu ikut mengajar. Di Bangil itu, ia berbagi ilmu dalam beberapa tahun. Muridnya, banyak.
Ada catatan lain. KH Amar juga pernah berguru kepada Kiai Juwaini Nuh, Tretek, Pare – Kediri. Kiai yang disebut terakhir ini adalah salah satu murid kesayangan KH Hasyim Asy’ari – pendiri NU.
Memang, KH Amar tidak hanya belajar fiqh. KH Amar juga memperdalam hadits dan tasawuf. Ia mengambil “tahassus” atau pengkhususan dalam mempelajari Shahih Bukhari-Muslim serta kitab Ihya’ ‘Ulumuddin kepada Kiai Juwaini di Kediri.
Mengajar – Mengabdi
Pada tahun 1968, KH Amar mulai aktif mengajar dan membantu mengelola pondok pesantren yang didirikan ayahnya, KH Muhammad Syarif. Nama lembaganya, Pondok Pesantren Al-Ikhwan.
Dengan visi pembaruan dan semangat modernisasi pendidikan, KH Amar mengembangkan pesantren tersebut dan mengubahnya menjadi Pondok Pesantren Al-Ikhlash. Nama baru itu, tidak hanya menjadi simbol perubahan sistim tetapi juga mencerminkan nilai dasar kehidupan dan pengajaran beliau. KH Amar ikhlas dalam beramal, tulus dalam mengajar, dan sabar dalam membina umat.
Pesantren Al-Ikhlash punya catatan menarik. Misalnya, ada Pertemuan Alumni Al-Ikhlash pada 2014. Saat itu hadir KH Hasyim Muzadi (kakak kelas KH Amar di Gontor) dan KH Syuhada Bahri (Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia 2007-2015).
Di tahun 2014, Pesantren Al-Ikhlash menerima kunjungan KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Beliau, salah satu pimpinan Gontor waktu itu. Lalu, pada 2015 mendapat kunjungan Asatidz Persis Bangil. Kala itu, hadir Ustadz Lutfi Abdullah Ismail, Ustadz Umar Fanani, Ustadz Bahaudin, dan Ustadz Nur Adi S.
Kini Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan dipimpin Ustadz Hamzah Amali, salah satu putra KH Amar. Ustadz Hamzah lulusan Persis Bangil. Juga, alumnni Al-Azhar Mesir.
Sekarang, Pesantren Al-Ikhlash punya santri putra +/- 90 orang. Santri Putri +/- 225 orang. Mereka berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Hingga wafatnya pada 17 April 2016, KH Amar tetap konsisten mengajar dan membimbing para santri. Istrinya, Fardasah yang lahir pada 1 Juli 1947, kemudian menyusul wafat pada 1 Januari 2021. Mereka meninggalkan keturunan sebanyak 8 orang anak, mayoritas bergerak di bidang pendidikan sebagai penerus nilai-nilai yang diwariskan oleh sang ayah.
Sang Teladan
KH Amar dikenal sebagai pribadi penyabar, lembut, dan tidak mudah marah. Ia sangat menjaga adab dalam bertutur kata. Ketika terjadi perbedaan pendapat, beliau mampu menyampaikan pandangannya tanpa menyakiti lawan bicaranya. Kata-katanya “baligh”, tepat sasaran namun tetap santun. Beliau lebih memilih diam daripada menyanggah dengan keras, terutama ketika berhadapan dengan lelucon atau berita yang tidak berdasar.
Kepribadian ini kemungkinan besar terbentuk dari gaya pendidikan khas Persis Bangil yang dipengaruhi oleh Ustadz Abdul Qodir Hassan. Gaya ini menekankan pada ketegasan dalam prinsip dan argumentasi, namun disampaikan dengan lemah lembut. KH Amar tampaknya menyerap sepenuhnya karakter ini dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
Salah satu sisi kehidupan KH Amar yang paling menginspirasi adalah kezuhudan dan ketidakterikatannya pada dunia. Meski menjadi pengasuh dan pengajar utama di pesantren, beliau tidak pernah mengambil gaji dari lembaga tersebut hingga wafatnya. Bahkan hadiah-hadiah yang diterimanya dari tamu atau santri, seringkali langsung beliau serahkan kepada pesantren melalui tenaga tata-usaha.
Terkait tradisi lebaran, tercermin juga kerendahan hati beliau. Bila umumnya seorang kiai akan menerima tamu yang datang bersilaturahim, KH Amar justru memilih lebih dulu berkunjung ke rumah para tetangganya tanpa membedakan status sosial. Hal ini menunjukkan betapa beliau menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap sesama.
Kenangan tentang KH Amar datang berbagai arah. Misalnya dari Rasyidah Hamid yang lulusan Persis Bangil. Kemudian, ia mendirikan Kuttab Daarussalaam di Jogjakarta. Sebagai wujud penghormatan atas keilmuan dan keteladanan sang guru, salah satu putranya diberi nama Amar.
Kesaksian lain, datang dari keponakan KH Amar yaitu Ustadz Imron Efendi yang dosen di Akademi Da’wah Indonesia (ADI) Depok. “Di mata kami para keponakan, beliau seorang paman yang alim, shalih, sabar, zuhud yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Sulit untuk mencari orang seperti beliau,” tutur sang keponakan.
Kesaksian-kesaksian itu menjadi bukti bahwa KH Amar dihormati secara luas. Dihormati karena keilmuannya. Juga, terutama, dihormati karena akhlak dan keteladanan hidupnya.
Sang Pendidik
”Beliau seorang bapak yang mendidik kami dengan hikmah, sabar, dan teladan,” kenang Ustadz Hamzah Amali terhadap sang ayah.
”Bapak menyiapkan kami agar siap hidup dan tahu arah hidup yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits yang difahami Sahabat Nabi Saw, serta jauh dari fanatik kelompok/golongan”, simpul Hamzah.
Tak Ternilai
Warisan KH Amar bukan hanya dalam bentuk lembaga pendidikan atau struktur fisik pesantren, tetapi nilai dalam jiwa dan semangat santri-santrinya. Ia mewariskan nilai keikhlasan, kesungguhan dalam menuntut ilmu, keteguhan dalam prinsip, dan kelembutan dalam bersikap.
Hingga kini, Pesantren Al-Ikhlash tetap berdiri dan berkembang, mengajarkan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh KH Amar. Banyak muridnya yang kini menjadi pengajar, pendakwah, dan pemimpin umat di berbagai daerah. Mereka membawa nilai-nilai keilmuan dan akhlak dari sang guru.
Diam, tapi Menyala!
KH Amar mungkin tidak banyak bicara, tidak menulis buku, dan tidak muncul di layar kaca. Namun kehidupannya telah menjadi kitab nyata yang dibaca oleh santri-santrinya. Perilakunya diteladani oleh keluarga dan dikenang oleh masyarakat.
Di era yang penuh ”kebisingan”, kehadiran tokoh seperti KH Amar mengingatkan kita bahwa pengaruh sejati tidak selalu berasal dari panggung, tapi dari ketulusan yang terus-menerus.
Sungguh, dalam diamnya KH Amar menyala. Dalam kesederhanaannya, ia memberi. Dalam wafatnya, ia tetap hidup melalui ilmu, akhlak, dan jejak amalnya. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
