Artikel Terbaru ke-2.229
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Dewandakwahjatim.com, Depok - Situs sindonews.com (25/3/2025) memuat berita berjudul “Perawat AS Masuk Islam usai Lihat Ibu Gaza Gendong Anaknya yang Dibom Israel Masih Ucap Alhamdulillah.” Di dunia maya beredar juga video singkat seorang wanita Barat yang mengaku tertarik belajar al-Quran karena melihat tayangan si ibu Gaza tersebut.
Dikabarkan, bahwa perawat asal Amerika Serikat (AS) bernama Wilhelmi Massay, yang dikenal sebagai Willy Masai, mengumumkan bahwa dia masuk Islam tak lama setelah kunjungannya ke Jalur Gaza, Palestina. Dia telah menjadi relawan di rumah sakit Gaza selama invasi brutal Israel.
Massay mengatakan dalam sebuah podcast bahwa dia telah belajar di sebuah lembaga keagamaan dan ingin menjadi seorang pendeta Katolik. Tapi, setiap kali dia pergi ke Gaza, dia melihat keimanan orang-orang Palestina.
Dia lantas bertanya pada dirinya sendiri tentang kehidupan dan tentang Tuhan orang-orang Palestina. “Bayangkan seorang ayah atau ibu menggendong kedua anaknya dalam kantong plastik setelah Israel mengebom anak itu, dan mereka masih berkata, ‘Alhamdulillah!’ Ini adalah keimanan,” paparnya, sebagaimana dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (18/3/2025).
Katanya Gencatan Senjata, tapi Israel Bunuh Lebih dari 150 Orang di Gaza Dia menggambarkan pemandangan tesebut sebagai keimanan yang “tidak dapat dibom oleh Israel”. Massay adalah salah satu dari lima relawan medis Amerika yang memasuki Jalur Gaza dalam misi medis, di mana dia bertugas di Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan dan di Rumah Sakit Indonesia di utara.
*****
Begitulah kisah perawat asal AS yang memutuskan memeluk Islam setelah menyaksikan satu peristiwa yang mengagumkan. Peristiwa itu adalah kisah tentang ketangguhan akhlak seorang muslim yang ditimpa musibah hebat, tetapi masih sanggup mengucapkan alhamdulillah. Itulah akhlak sabar dan syukur yang terwujud dalam bentuk perilaku yang baik. Itulah akhlak mulia (akhlaqul karimah).
Akhlak mulia lahir dari jiwa yang bersih dan iman yang kokoh akan Takdir Allah. Ia yakin, semua yang dimilikinya adalah amanah dari Allah. Semuanya hanyalah titipan. Titipan itu diambil lagi oleh Yang Memilikinya. Inna lillahi wainna ilaihi raaji’un. Kita semua milik Allah. Dan kita semua akan kembali kepada-Nya.
Puluhan ribu warga Gaza memang telah gugur dibantai oleh tentara Zionis Israel. Kebiadaban dan kedegilan kaum Yahudi ini telah menarik simpati dunia untuk warga Palestina. Belum pernah terjadi dalam sejarah, miliaran manusia menyaksikan langsung kekejaman Zionis Israel seperti di era serba internet dan maraknya media sosial.
Karena itulah, sejatinya, bangsa Yahudi saat ini sedang menuai badai dahsyat. Beredar beberapa video warga Yahudi yang datang ke negara-negara Eropa dicaci-maki dan diteriaki olah masyarakat setempat. Ada juga turis-turis Yahudi yang diusir. Citra buruk kaum Yahudi ini tentu saja diakibatkan oleh kebiadaban bangsa mereka sendiri.
Negara Yahudi Israel didirikan dengan tiga kekuatan utama, yaitu uang, lobi, dan opini. Berpuluh tahun mereka berhasil mengelabui dunia, bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa kecil yang tertindas. Dengan klaim bahwa Palestina adalah Tanah yang dijanjikan Tuhan untuk bangsa Yahudi, mereka merampas, menindas, bahkan melakukan aksi genosida (pemusnahan) atas bangsa Palestina.
Dunia tak hanya simpati dari sisi kemanusiaan. Jutaan mata kini menyaksikan ketangguhan akhlak warga Gaza dalam meghadapi ujian hidup yang sangat berat. Kuatnya keimanan mereka tercermin dalam akhlak keseharian. Mereka memang menderita. Banyak yang menangis. Tapi, mereka tidak sampai bunuh diri.
Bandingkan dengan masyarakat di banyak negara-negara Barat dan belahan dunia lain yang menikmati kemewahan dan kebebasan melampiaskan syahwatnya. Kehidupan mereka pun tak lepas dari alkohon dan obat penenang. Kekayaan, popularitas, kecantikan, dan juga jabatan tak membawa kebahagiaan. Tak sedikit yang berujung pada keterasingan jiwa dan bunuh diri.
Peristiwa di Gaza ini patut menjadi renungan kita, bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena itu, sudah saatnya, pendidikan kita lebih difokuskan untuk melahirkan generasi berakhlak mulia. Kurikulum utamanya adalah pensucian jiwa (tazkiyyatun nafs). Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 27 Mei 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Edotor: Sudono Syueb
