Hijrah, dari Egoisme ke Altruisme!

Oleh Kemas Adil Mastjik, Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kader Ulama Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kemiskinan, pendidikan, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dan Palestina adalah beberapa masalah yang sangat penting dan kompleks. Itu, dihadapi oleh umat manusia di seluruh dunia. Masalah-masalah ini tidak hanya mempengaruhi individu atau kelompok tertentu, tetapi juga memiliki dampak yang luas pada masyarakat dan dunia secara keseluruhan.

Dalam menghadapi masalah-masalah ini, kita perlu meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menyelesaikan masalah. Kita juga perlu mencari solusi yang efektif dan berkelanjutan untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan akses ke pendidikan, mengurangi dampak PHK, dan menyelesaikan konflik Palestina. Dengan bekerja sama dan meningkatkan kesadaran, kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih adil bagi semua orang.

Simak (terjemah) ayat ini: “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali Imron [3]: 134).

Ayat ini panduan strategis Muslim untuk menjadi pribadi yang memiliki arti bagi agama dan kehidupan. Allah memberikan panduan praktis terkait apa yang mesti dilakukan setiap Muslim untuk menjadi insan takwa. Pribadi takwa tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga saudaranya yang lain.

Sesungguhnya umat Islam satu dengan yang lainnya ibarat satu tubuh atau satu bangunan, kata Nabi Saw. Sudah semestinya saling membantu dan saling melindungi. Ini, karena setiap Muslim hakikatnya bersaudara. Perhatikan (terjemah) ayat ini:“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara” (QS. Al Hujurat [49]: 10).

Persoalan Hidup

Hijrah adalah konsep dalam Islam yang berarti perpindahan dari satu keadaan ke keadaan lain yang lebih baik. Dalam konteks spiritual, hijrah seringkali diartikan sebagai perpindahan dari kehidupan yang jauh dari Allah menuju kehidupan yang lebih dekat dengan-Nya. Hijrah dapat diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal perilaku dan sikap.

Salah satu bentuk hijrah yang sangat penting adalah hijrah dari egoisme ke altruisme. Egoisme adalah sikap yang hanya memikirkan diri sendiri dan kepentingan pribadi. Adapun altruisme adalah sikap yang lebih memikirkan kepentingan orang lain dan kemaslahatan bersama.

Manusia sering menghadapi kesulitan hidup. Itu, bagian dari cara Allah dalam menguji kesabaran dan keimanan mereka. Hanya saja, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (baca Surah Al-Baqarah 286).

Kesulitan itu, bisa dalam dalam hal berinteraksi dengan orang lain. Memang, manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan bantuan orang lain. Namun, interaksi dengan orang lain juga dapat menimbulkan kesulitan, seperti terjadinya konflik akibat kesalahpahaman.
Kesulitan itu, bisa terjadi saat menghadapi tantangan sosial. Misalnya, saat menghadapi kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan sosial.

Egoisme, Awas!

Berikut ini, sebagian ”wajah” egoisme:

  1. Tidak peduli dengan kebutuhan dan perasaan orang lain.
  2. Hanya memikirkan diri sendiri.
  3. Mengambil keuntungan dari orang lain tanpa memikirkan dampaknya.
  4. Tidak mau berbagi sumber daya, waktu, atau perhatian dengan orang lain.
  5. Mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang lain, bahkan jika itu sampai merugikan orang lain.
  6. Tidak mau mendengarkan pendapat atau kebutuhan orang lain.
  7. Hanya ingin didengarkan pendapatnya sendiri.
  8. Menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan pribadi tanpa memikirkan kepentingan mereka.
  9. Tidak mau meminta maaf ketika telah melakukan kesalahan atau menyakiti orang lain.
  10. Menganggap diri sendiri paling benar dan tidak mau menerima pendapat atau kritik dari orang lain.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana perilaku egois dapat merusak hubungan dengan orang lain dan menciptakan konflik. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dan mengatasi perilaku egois dalam diri sendiri dan orang lain.

Altruisme, Alhamdulillah!

Berikut ini, sebagian ”wajah” altruisme:

  1. Membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan atau pujian.
  2. Mendonasikan waktu dan sumber daya untuk membantu orang lain, seperti menjadi relawan di organisasi amal, mengunjungi orang sakit dan memberikan empati kepada mereka
  3. Membantu orang yang membutuhkan, seperti memberikan makanan atau pakaian kepada orang yang kurang mampu.’
  4. Mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan orang lain, seperti mendengarkan orang lain dengan sabar, tanpa memikirkan diri sendiri.
  5. Membantu orang lain dalam kesulitan, seperti membantu korban bencana alam atau membantu orang yang mengalami kesulitan keuangan.
  6. Mengajarkan keterampilan kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan, seperti mengajar anak-anak atau orang dewasa yang membutuhkan.

Perilaku di atas menunjukkan bagaimana altruisme dapat membantu orang lain. Semua itu, bisa menciptakan dampak positif dalam masyarakat.

Sebuah Pemaknaan

Hijrah dari egoisme ke altruisme sangat penting karena dapat membawa banyak manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Berikut ini beberapa alasan mengapa pemaknaan hijrah yang seperti ini sangat penting:

  1. Meningkatkan Kualitas Hubungan. Dengan menjadi lebih altruistik, kita dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Kita menjadi lebih peduli dan lebih siap membantu orang lain, sehingga hubungan kita dengan mereka menjadi lebih harmonis.
  2. Meningkatkan Rasa Bahagia. Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang lebih altruistik cenderung lebih bahagia dan puas dengan hidup mereka. Ini, karena altruisme dapat memberikan perasaan bermakna dalam hidup ini (hasil penelitian Positive Psychology oleh Martin Seligman dan rekannya di University of Pennsylvania. Juga, The Journal of Positive Psychology telah mempublikasikan penelitian tentang psikologi positif, termasuk hubungan antara altruisme dan kebahagiaan).
  3. Meningkatkan Kualitas Diri. Hijrah dari egoisme ke altruisme dapat membantu kita menjadi lebih baik sebagai pribadi. Kita menjadi lebih sabar, lebih empatik, dan lebih siap untuk menghadapi tantangan hidup.

Langkah Nyata

Selanjutnya bagaimana melakukan hijrah dari egoisme ke altruisme? Berikut ini bisa menjadi tindakan konkrit:
Berlatih empati untuk memahami perasaan dan kebutuhan orang lain. Dengan memahami orang lain, kita dapat menjadi lebih peduli dan lebih siap membantu mereka.

Mencari kesempatan untuk membantu orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan membantu orang lain, kita dapat membangun hubungan yang lebih baik dan meningkatkan rasa bahagia.

Mengembangkan kesadaran sosial. Caranya, dengan memahami isu-isu sosial dan berusaha untuk membantu menyelesaikannya. Dengan demikian, kita dapat menjadi lebih peduli dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Selanjutnya, perhatikan (terjemah) dua ayat ini: “Bukanlah kebajikan itu hanya karena kamu menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat, tetapi kebajikan itu adalah siapa yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta, serta memerdekakan hamba sahaya” (QS Al-Baqarah 177).

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (QS Al-Ma’un 1-3).

Renungkanlah (terjemah) tiga sabda Rasulullah Saw ini: “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri” (HR Bukhari dan Muslim). “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR.Tirmidzi). “Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Ahmad).

Ayat-ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa altruisme adalah sifat yang sangat dihargai dalam Islam. Altruisme dapat meningkatkan kualitas hidup dan hubungan dengan orang lain, serta dapat membawa kebaikan dan keberkahan dalam hidup.

Altruisme dan Dakwah

M. Natsir dalam “Fiqhud Da’wah”, menjelaskan bahwa membantu kesulitan orang lain merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar, yaitu memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Natsir juga menekankan pentingnya memiliki kesadaran jiwa yang benar dan kemampuan untuk memahami kebutuhan orang lain dalam membantu kesulitan mereka.

Membantu kesulitan orang lain dalam pandangan M. Natsir, merupakan bagian penting dari aktivitas dakwah. Itu, harus dilakukan dengan hikmah, kesadaran jiwa yang benar, dan kemampuan untuk memahami kebutuhan orang lain.

Alhasil, dalam melakukan hijrah dari egoisme ke altruisme, kita harus ingat bahwa ini adalah proses yang memerlukan waktu dan kesabaran. Namun, dengan kesungguhan dan ketekunan, kita insya Allah dapat mencapai tujuan ini dan menjadi lebih baik sebagai pribadi. Wallahu a’lam

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *