Ada Spirit Etos Kerja pada Haji dan Hijrah

Oleh Adil Mastjik, Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kader Ulama Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Gelombang PHK besar-besaran di Indonesia telah mengakibatkan guncangan di berbagai area kehidupan masyarakat. Beberapa dampak negatif yang terjadi akibat PHK massal, antara lain: Peningkatan Tingkat Pengangguran, ketidakstabilan sosial, dampak psikologis dan sosial bagi pekerja. Banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan mengalami stres, depresi, dan ketidakpastian masa depan. Juga, ada penurunan pertumbuhan ekonomi.

Indonesia memiliki tenaga kerja yang sangat besar; yang akan terus bertambah di masa mendatang (karena populasi Indonesia yang terus berkembang) dan oleh karena itu sangat penting agar tersedia cukup lapangan kerja bagi beberapa juta pencari kerja yang masuk angkatan kerja setiap tahunnya; pengangguran kaum muda (di kalangan lulusan baru) khususnya membutuhkan perhatian.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Tingkat Pengangguran Relatif di Indonesia sampai dengan Februari 2025 sebanyak 7,278,307.

Kewajiban Bekerja

Satu hari Nabi Muhammad Saw melihat tangan sahabatnya, Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari, melepuh. Nabi Saw bertanya apa yang menyebabkannya. Dengan jujur Sa’ad menyatakan akibat kerja keras untuk menghidupi keluarganya. Mendengar jawaban Sa’ad dengan spontan Rasulullah Saw meraih tangan sahabatnya tadi dan menciumnya.
Sikap Rasulullah Saw ini menunjukkan kepada kita bahwa bekerja keras itu merupakan pekerjaan yang terhormat dan mulia. Terlebih, bila kerja itu digunakan untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya.

Jika kita merenungkan sejenak perihal kewajiban sebagai seorang Muslim, niscaya kita jumpai dalam agama ini terdapat banyak sekali ibadah yang tidak mungkin dilakukan tanpa adanya biaya dan harta, seperti zakat, infak, shadaqah, wakaf, haji dan umrah. Padahal biaya atau harta tidak mungkin diperoleh tanpa proses kerja. Oleh karena itu, bekerja untuk memperoleh harta dalam rangka ibadah kepada Allah menjadi wajib, sebagaimana kaidah Fiqhiyah yang mengatakan “Maala yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib” (suatu kewajiban yang tidak bisa dilakukan melainkan dengan pelaksanaan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib).

Pelajaran dari Haji

Haji dan hijrah merupakan dua peristiwa penting dalam Islam yang memiliki banyak hikmah dan pelajaran berharga, termasuk dalam dunia kerja dan etos kerja. Dari prosesi ibadah haji, banyak pelajaran yang kita dapatkan yang sangat memerlukan kerja keras. Ibadah haji yang merupakan puncak ibadah dalam rukun Islam adalah panorama dari dinamika kehidupan yang mempunyai falsafah kerja yang sangat mendalam, bergelora dan tidak ada kata berhenti kecuali sejenak berhenti ketika wukuf di Padang Arafah.

Dimulai dari persiapan seorang yang akan mengerjakan haji, sudah harus mampu memenuhi peryaratan (memiliki biaya atau harta untuk perjalanan pergi-pulang dan keluarga yang ditinggalkan). Memiliki harta artinya berikhtiar mendapatkannya dengan berusaha/bergerak/bekerja agar menjadi istitha’ah (berkemampuan).

Diawali dengan memakai pakaian ihram, seakan ada ketukan dalam hati nurani bahwa kita sedang melakukan simulasi kematian. Ihram melambangkan kesetaraan, kesederhanaan, persamaan dan persaudaraan. Semangat ini menjadi titik tolak untuk berbuat kebajikan dan menjalin persaudaraan. Prinsip persamaan (al-musawah) ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, yang menegaskan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah SWT, tanpa memandang ras, suku, bangsa, atau status sosial.

Setelah itu kita melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali putaran (karena hidup sepekan hanya tujuh hari). Tawaf dilakukan dengan cara berputar berlawanan arah jarum jam, mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Dimulai dari Hajar Aswad (batu hitam).


Setelah tawaf, diteruskan dengan sa’i (berarti ikhtiar memilih yang terbaik) berjalan atau berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali bolak-balik. Diawali dengan hati yang bersih dan suci (shafa) untuk meraih cita-cita mewujudkan harapan menjadi pribadi yang mulia dan terhormat (Marwah).

Prosesi berikutnya adalah wukuf (berhenti), melakukan perenungan/kontemplasi di Arafah, karena arafah berarti ”mengenal diri”. Bahwa, barang siapa yang mengenal dirinya niscaya dia mengenal Tuhannya (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu).

Berdiam atau berhenti di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, yang merupakan salah satu rukun haji yang wajib dilaksanakan oleh setiap jemaah. Setelah itu tanggal 10 Dzulhijah, lempar jumrah Aqabah sebagai replika penentangan Nabi Ibrahim As kepada setan yang menghalanginya ketika hendak melaksanakan perintah menyembelih Ismail As putranya.


Dilanjutkan tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah (Hari Tasyrik) melempar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah.

Prosesi ritual terakhir yang menjadikan seseorang terlepas dari larangan berihram yaitu Tahalul. Sebagai sikap rasa syukur dengan harapan menggapai haji mabrur (menjadi orang yang ikhlas dan mukhsin sepanjang masa, selalu menebar kedamaian, baik ketika maupun usai menunaikan haji). Rasulullah Saw bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga” (HR Bukhari).

Ibrah dari Hijrah


Hijrah, dalam konteks Islam, merujuk pada perpindahan atau migrasi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa ini memiliki hikmah dan pelajaran berharga yang masih relevan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia kerja dan etos kerja. Ada banyak hikmah Hijrah Rasulullah Saw dan para sahabatnya.
Beberapa hikmah hijrah yang dapat dikaitkan dengan etos kerja antara lain; (1). Perubahan Mindset. Hijrah mengajarkan kita untuk melakukan perubahan mindset dan perilaku untuk meningkatkan kualitas kerja dan mencapai tujuan yang lebih baik, (2). Kesabaran dan Ketekunan. Hijrah memerlukan kesabaran dan ketekunan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan, sehingga kita dapat belajar untuk menjadi lebih sabar dan tekun dalam bekerja, (3). Adaptasi. Hijrah mengajarkan kita untuk beradaptasi dengan lingkungan dan situasi baru, sehingga kita dapat belajar untuk menjadi lebih fleksibel dan mampu beradaptasi dengan perubahan dalam dunia kerja, (4). Pengorbanan. Hijrah seringkali memerlukan pengorbanan, sehingga kita dapat belajar untuk menjadi lebih ikhlas dan rela berkorban demi mencapai tujuan yang lebih baik dalam pekerjaan, (5). Pembaharuan. Hijrah dapat membawa pembaharuan dalam cara kerja dan pendekatan kita, sehingga kita dapat belajar untuk menjadi lebih inovatif dan kreatif dalam menyelesaikan tugas dan tantangan, (6). Tanggung Jawab. Hijrah mengajarkan kita untuk mengambil tanggung jawab atas keputusan dan tindakan kita, sehingga kita dapat belajar untuk menjadi lebih bertanggung jawab dalam pekerjaan, (7). Kerja Keras. Hijrah memerlukan kerja keras dan ketekunan untuk mencapai tujuan, sehingga kita dapat belajar untuk menjadi lebih giat dan bersemangat dalam bekerja (https://mandiriamalinsani.or.id.).

Bergerak, Bekerja!

Dalam surat Al-Jumu’ah 10 Allah berfirman;
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ -١٠-
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Dalam ayat ini menyatakan bahwa umat Islam bukan umat yang terpenjara oleh ibadah ritual, melainkan sangat terobsesi untuk mewujudkan dalam bentuk gerak yang memberikan rahmat bagi sekitarnya. Umat Islam hendaknya keluar dari penjara kemandegan karena sifat kemandegan dan kehilangan ruh untuk berkreasi (ijtihad dalam bidang amaliah) merupakan tanda-tanda sebuah kematian.

Sungguh luar biasa jika setiap orang dan semua lapisan masyarakat tahu bahwa keringat yang mereka kucurkan saat bertani, menarik becak, saat berjualan, saat naik kereta berdesakan, saat bekerja di kantor adalah sebuah jihad / bagian dari amal shalih yang mempunyai nilai di hadapan Allah.

Bagaimana cara kita untuk menetapkan orientasi, bahwa kerja adalah lahan jihad / bagian dari amal shalih bagi kita? Salah satu solusinya adalah bekerja dengan hati: ”Menempatkan diri seadil-adilnya dalam posisi apapun kita berperan di kehidupan”

Dengan menerapkan hikmah Haji dan Hijrah dalam etos kerja, kita dapat meningkatkan kualitas kerja, mencapai tujuan yang lebih baik, dan menjadi lebih profesional dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *