Awal Penulisan Al-Qur’an Tanpa Titik dan Harakat

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, ia adalah jejak wahyu yang hidup dalam dada, terjaga dalam lisan, dan tercatat dalam tinta sejarah. Namun siapa sangka, mushaf yang kini kita baca dengan tanda titik dan harakat sejatinya dahulu begitu polos—tanpa hiasan titik, tanpa gerakan vokal, hanya barisan huruf yang bertumpu pada ketelitian dan hafalan generasi pertama Islam.

Pada masa Rasulullah ﷺ, penulisan wahyu dilakukan secara sederhana. Ayat-ayat dicatat di atas bahan-bahan seadanya seperti pelepah kurma, batu tipis, kulit, dan tulang. Namun kekuatan utama bukan terletak pada tulisannya, melainkan pada hafalan para sahabat. Dalam konteks itu, Al-Qur’an lebih dari sekadar teks—ia adalah bagian dari jiwa umatnya.

Ketika Rasul wafat, dan banyak penghafal gugur di medan perang Yamamah, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq merasa perlu mengumpulkan wahyu menjadi satu naskah yang lengkap. Proyek monumental ini dipimpin oleh Zaid bin Tsabit, seorang sekretaris wahyu sekaligus ahli dalam hafalan dan tulisan. Inilah awal mula Mushaf tertulis yang pertama. Namun, tulisan itu masih tanpa titik pembeda antar huruf (i‘jām) dan tanpa tanda vokal (tashkīl)—sebab lidah Arab kala itu sudah mengenal baik seluk-beluk fonologi bahasa Arab.

Di masa Khalifah Utsman bin Affan, ketika wilayah Islam membentang hingga negeri-negeri non-Arab, perbedaan bacaan mulai tampak. Untuk menjaga keseragaman, beliau membentuk tim penyalin mushaf dan mengirim salinan ke berbagai daerah. Maka lahirlah Mushaf Utsmani, standar rasm (tulisan) Al-Qur’an yang disalin dalam aksara polos tanpa titik dan tanpa harakat. Mushaf ini bukanlah mushaf yang rusak, tetapi justru dirancang untuk mengakomodasi keragaman qirā’āt yang sah.

Namun tantangan muncul seiring waktu. Ketika banyak pemeluk Islam bukan lagi penutur asli Arab, muncul kekhawatiran bahwa kesalahan bacaan bisa menyebar. Maka muncullah tokoh visioner bernama Abu al-Aswad ad-Duʾali (w. 69 H), seorang tabiin ahli bahasa dari Bashrah. Ia dikenal sebagai pelopor ilmu nahwu (tata bahasa Arab). Atas permintaan Ziyad bin Abihi, ia menciptakan sistem tanda baca awal untuk mushaf—berupa titik merah kecil:

Titik di atas huruf menandakan fathah

Titik di bawah untuk kasrah

Titik di depan untuk dhammah

Sistem ini sangat membantu, tapi kemudian menimbulkan kerancuan, karena titik merah bisa tertukar dengan titik pembeda huruf yang juga mulai digunakan.

Dalam Kitāb an-Nuqṭah, Abu al‑ʿAmr ad‑Dānī dari Maktabah Syamilah—menunjukkan metode awal penandaan harakat (fatḥah, kasrah, ḍammah, tanwīn) menurut sistem Abu al‑Aswad ad‑Duʾali:

اعْلَم أنَّ الحَرَكَات ثلاث – فَتْحَة وكَسْرَة وضَمَّة – فمَوْضِع الْفَتْحَة من الْحَرْف أَعْلَاهُ، لِأَنَّ الْفَتْحَ مُسْتَعْمَلٌ،
ومَوْضِعُ الكَسْرَة مِنْهُ أَسْفَلُهُ…
فَإِذَا ضَبَطْتَ قَوْلَهُ عَزَّ وَجَلَّ “الحمد لله”، فَجَعَلْتَ الفَتْحَة نُقْطَةً بِالحَمْرَاءِ فَوْقَ الحَاءِ، وَجَعَلْتَ الضَّمَّة نُقْطَةً بِالحَمْرَاءِ أَمَام الدَّالِ، وَجَعَلْتَ الكَسْرَة نُقْطَةً بِالحَمْرَاءِ تَحْتَ اللَّامِ وَتَحْتَ الهَاءِ، وَكَذَلِكَ تُفْعِلُ بِسَائِرِ الحُرُوفِ المُتَحَرِّكَة بِالحَرَكَاتِ الثَّلاثِ.

“Ketahuilah bahwa harakat itu tiga — fatḥah, kasrah, dan dhommah — maka letak fatḥah pada huruf adalah di atasnya, karena fatḥah digunakan; letak kasrah di bawah huruf; …
Ketika Anda menuliskan kalimat ‘al-ḥamdu lillāh’, letakkan:

fatḥah sebagai titik merah di atas huruf ḥāʾ,

ḍammah sebagai titik merah di depan dāl,

kasrah sebagai titik merah di bawah lām dan hāʾ,
dan lakukan hal yang sama pada semua huruf yang berharakat tiga tersebut.”

Teks ini menunjukkan langkah sistematis yang awal: menentukan posisi harakat berdasarkan logika fonetik, bukan sekadar kebiasaan visual.

Contoh “al‑ḥamdu lillāh” dipakai sebagai model praktis—sekali menulis semua tiga harakat dalam satu frasa, untuk menunjukkan konsistensi pola titik warna.

Kitab ini mewakili tradisi peralihan dari metode lisan sahabat/tabiʿīn ke penulisan visual bagi generasi selanjutnya.

Solusi berikutnya datang dari seorang jenius linguistik lain: al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi (w. 160 H). Beliau adalah ahli fonologi, penyusun kamus Arab pertama (Kitab al-‘Ayn), dan pencipta sistem arudh (ilmu bahar syair). Ia menggagas sistem harakat modern seperti yang kita kenal hari ini: garis kecil miring sebagai fathah, garis bawah sebagai kasrah, wawu kecil sebagai dhammah, dan lingkaran kecil (sukun) serta syaddah (tasydid) untuk penguatan bacaan. Sistem ini menjadikan pembacaan mushaf lebih universal dan tepat, tanpa menghilangkan nilai orisinalitas rasm Utsmani.

Kitāb al-ʿAyn karya Al‑Khạ̄līl ibn Aḥmad al‑Farāhīdī. Hal Ini memperlihatkan secara langsung bagaimana beliau mengatur sistem harakat berdasarkan ilmu fonologi:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

هذا كتاب العين، وضعه الخليل بن أحمد الفراهيدي… وابتدأ بالعين لأنها أول الحروف من حيث المخرج…
ثم أنشأ فصلاً في الحركات، فرسم الفتحة برسم الحرف الألف فوق الحرف، وكسرة برسم حرف الياء تحته، ثم ضمة برسم حرف الواو فوقه، ثم السكون دائرة صغيرة، والتشديد بشدة…

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih… Ini adalah Kitāb al‑ʿAyn, disusun oleh Al‑Khạ̄līl ibn Aḥmad al‑Farāhīdī… beliau memulai pembahasan huruf dengan ‘ʿAyn’ karena ia huruf pertama berdasarkan titik artikulasinya… Kemudian beliau membuat bab tentang harakat, menetapkan bahwa:

Fatḥah diwakili oleh huruf alif kecil di atas huruf,

Kasrah oleh huruf ya’ kecil di bawah,

Ḍammah oleh huruf waw kecil di atas,

Sukūn dengan lingkaran kecil,

Syaddah dengan tanda tasydīd (huruf syaddah)…“

Al‑Khạ̄līl menempatkan fondasi harakat dengan basis fonologis dan titik artikulasi (makhārij), mengubah sistem harfiah menjadi metode ilmiah.

Pola simbol harakat: Tiga harakat utama diwakili oleh huruf vokal (alif, ya’, waw), sedangkan sukun dan tasydīd ditandai dengan simbol khusus—seperti syair fonologi yang terstruktur.

Warisan klasik: Teks ini adalah bukti autentik bahwa sistem harakat modern bukan tambahan belakangan, melainkan hasil refleksi ulama Islam awal terhadap bahasa dan bacaan Qur’an.

Sejak saat itu, mushaf Al-Qur’an menjadi perpaduan antara ketepatan bunyi dan keagungan tulisan. Dari teks yang dahulu tanpa titik dan tanpa harakat, kini Al-Qur’an bisa dibaca oleh siapa pun—dari Jakarta hingga belahan dunia lainnya—dengan pelafalan yang seragam dan makna yang tetap terjaga.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *