“Bagaimana Kita Memandang Al-Qur’an…”

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Jika kita memandang Al-Qur’an dengan mata, kita hanya melihat barisan huruf dan ayat.
Jika kita pandang dengan akal, kita akan menemukan kecerdasan ilahiah, petunjuk sains, dan hukum kehidupan.
Jika kita dekati dengan hati, kita akan merasakan kasih dan cinta-Nya mengalir tenang.
Dan jika kita hadapi dengan jiwa yang jujur, kita akan menemukan Tuhan kita—bukan dalam bentuk, tapi dalam kesadaran ihsan:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Namun Rasulullah ﷺ pernah mengadukan umatnya:

وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَـٰرَبِّ إِنَّ قَوْمِى ٱتَّخَذُوا۟ هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانَ مَهْجُورًۭا
“Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. Al-Furqan: 30)

Dan benarlah—bukan hanya yang tak membacanya,
tapi juga yang tak merenungi, tak memahami, dan tak menjadikannya petunjuk berpikir dan hidup.

Ibnu Taimiyyah menjelaskan dalam Majmū‘ al-Fatāwā
bahwa bentuk meninggalkan Al-Qur’an bisa berupa:

tidak membacanya,

tidak mentadabburinya,

tidak mengamalkannya,

tidak menjadikannya pedoman hukum,

tidak menjadikannya obat dan cahaya hati.

من لم يقرأ القرآن فقد هجره، ومن يقرأ القرآن ولم يتدبر معانيه فقد هجره، ومن تدبر معانيه ولم يعمل به فقد هجره.
“Siapa yang tak membaca Al-Qur’an, ia telah meninggalkannya. Siapa yang membaca namun tak mentadabburi, ia pun meninggalkannya. Dan siapa yang mentadabburi namun tak mengamalkannya, tetap saja ia meninggalkannya.”

Renungkanlah…

Al-Qur’an adalah bingkai berpikir yang sehat.
Sehebat apapun kecerdasan manusia,
jika logikanya tidak sejalan dengan Al-Qur’an, maka itu bukan kecerdasan,
tapi kesesatan yang cerdas.

Akal adalah anugerah Allah, dan Al-Qur’an adalah kalam Allah.
Maka pasti klop dan harmonis antara keduanya.
Jika tidak klop, jangan buru-buru menyalahkan wahyu,
mungkin ada yang salah dalam cara berpikir kita.

اللَّهُمَّ اجْعَلِ القُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا وَغُمُومِنَا

Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an musim semi bagi hati kami, cahaya bagi dada kami, penghilang kegundahan kami, dan penghapus segala keresahan kami.

Jadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi gaya hidup kami.
Dalam berpikir, merasa, bersikap, memilih jalan, dan menjalani hidup.
Bimbing kami untuk hidup bersamanya, dan wafat dalam ridha-Mu,
bersama cahaya Al-Qur’an yang tak pernah padam.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Admin: Kominfo
DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *