Artikel Terbaru ke-2.215
Oleh: Dr. Adian Husaini(www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok – Pakar pendidikan Islam, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, dalam bukunya, Budaya Ilmu (Satu Penjelasan), (Singapura: Pustaka Nasional Pte-Ltd, 2003), menjelaskan, bahwa salah satu konsep pendidikan dalam Islam adalah bersifat “integral” (kully), dan bukan “parsial” (juz’iy).
Islam menolak konsep “spesialisasi sempit” yang membutakan ilmuwan dari khazanah keilmuan bidang-bidang lain, khususnya bidang-bidang ilmu fardhu ‘ain. Spesialiasi yang membutakan terhadap bidang lain, menurut Jose Ortega Y Gasset, filosof Spanyol yang berpengaruh besar selepas Nietszche, telah melahirkan “manusia biadab baru” (a new barbarian).
Manusia tak beradab itu adalah para profesional yang terpelajar, tetapi pada saat yang sama, mereka adalah orang-orang yang tidak beradab (This new barbarian is above all the professional man, more learned than ever before but at the same time more uncultured… they are ignorant of the essential system of ideas concerning the world and man, which belong to our time).
Bahkan, menurut Jacques Maritain, pemikir Katolik asal Perancis, pendidikan yang terlalu cenderung ke arah spesialisasi sebenarnya melatih manusia untuk menjadi binatang, sebab binatang memang mempunyai kemahiran sangat khusus dalam suatu bidang tertentu. Menurut Prof. Wan Mohd Nor, tradisi keilmuan dalam Islam tidak mengenal sifat “spesialisasi buta” seperti ini. Ilmuan-ilmuwan Islam dulu dikenal luas memiliki penguasaan di berbagai bidang.
Lebih jauh, Prof. Wan Mohd Nor menjelaskan: “Manusia berbudaya ilmu bukan sahaja harus mengetahui ide dan prinsip penting zamannya seperti yang dikehendaki oleh Gasset, tetapi lebih utama lagi ialah prinsip penting dan gagasan utama dalam agamanya serta sejarah pemikirannya. Ini adalah kerana pengetahuan dan pemahaman yang bermakna tentang hal-hal tersebut akan membolehkan individu sedemikian melaksanakan pemaduan ilmu sebenar yang akan mewujudkan kepaduan diri dan masyarakat. Inilah yang mahu dicapai oleh gerakan pengislaman ilmu…”
Kadangkala konsep pendidikan integral atau universal ini dibenturkan dengan konsep ”profesionalisme” di bidang tertentu. Padahal, faktanya, Perguruan Tinggi menggunakan nama ”universitas” dan kegiatan belajar-mengajarnya disebut dengan ”kulliyyah” bukan ”juz’iyyah”. Ini menunjukkan, bahwa seharusnya, universitas memang bertujuan mewujudkan manusia yang beradab, manusia yang kenal dirinya, kenal Tuhannya, kenal utusan Tuhan, dan memahami menjadikan seluruh aktivitas keilmuan dengan tujuan utama ”ibadah” kepada Tuhan.
Ada pun aspek profesionalitas terkait dengan bidang keilmuan yang diwajibkan dimiliki oleh sebagian orang, karena terkait dengan tegaknya masyarakat. Ilmu-ilmu jenis ini biasanya disebut dengan istilah ”ilmu yang fardhu kifayah”. Untuk menjalankan misinya sebagai khalifatullah, manusia diwajibkan memiliki ilmu untuk menopang kehidupannya di dunia, sebagai sarana untuk ibadah. Ma’rifatullah dan ibadah kepada-Nya adalah tujuan pokok kehidupan, sehingga seluruh aktivitas keilmuan – apa pun jenisnya – diarahkan untuk aktivitas tersebut: ”Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS Adz-dzariyat:56).
Inilah yang juga ditegaskan oleh Mohammad Natsir tentang tujuan pendidikan dalam Islam. Kata Mohammad Natsir: ”Menjadi hamba Allah” adalah tujuan hidup manusia di atas dunia ini, oleh karena itu maka tujuan pendidikan pun tiada lain adalah pencapaian kualitas ”hamba Allah”. Untuk itu, Tauhid harus menjadi dasar pendidikan Islam dan menjadi ”hamba Allah” adalah cita-cita yang harus dicapai dari sebuah proses pendidikan.” (Lihat: Said Tuhuleley, ”Catatan Lepas tentang Pendidikan Islam: Interpretasi Bebas Ide-ide Pendidikan Mohammad Natsir”, dalam buku Pak Natsir 80 Tahun, (editor: Endang Saifuddin Anshari dan M. Amien Rais), (Jakarta: Media Da’wah, 1988).
Menjadi hamba Allah adalah satu kemuliaan tertinggi bagi seorang manusia. Sebab, ia telah menempatkan dirinya secara benar. Jika tidak menjadi hamba Allah, seorang manusia pasti akan menjadi hamba setan atau hamba hawa nafsunya. Dengan menjadi hamba Allah, seorang akan meraih kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Itu pasti.
Inilah juga yang ditegaskan oleh konstitusi kita, bahwa pendidikan harus meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia. Janganlah manusia Indonesia direndahkan martabatnya. Seolah-olah tujuan hidup mereka yang terpenting adalah untuk bisa mencari makan agar survive.
Mencari makan dan mendapatkan jabatan bukanlah tujuan utama pendidikan. Harta dan kedudukan bisa membawa kepada kebahagiaan jika digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Sebaliknya, harta dan jabatan bisa membawa bencana jika digunakan untuk melampiaskan nafsu angkara murka. (Depok, 10 Mei 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
