Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari, Wakil Ketua Bidang MPK DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Warisan terbaik dan abadi akan muncul pada pribadi yang secara total melakukan ketaatan pada Sang Pemilik warisan, yakni Allah. Tanpa ketaatan kepada Allah tidak mungkin lahir generasi yang berkualitas profetik. Generasi yang lahir di atas ketaatan pada petunjuk Allah bukan hanya melahirkan perbaikan, tetapi akan melahirkan keturunan-keturunan yang perbincangan manusia dari berbagai generasi.
Kegelisahan atas terputusnya generasi yang mulia pernah dikeluhkan oleh Nabi Zakaria. Kondisi inilah yang mensugesti beliau untuk berdoa tanpa lelah agar mendapat karunia generasi yang akan melanjutkan misi kenabiannya. Munculnya Nabi Yahya merupakan buah doa. Denikian pula ketaatan Maryam pada amalan-amalan kemuliaan, sehingga lahir Nabi Isa yang nantinya tercatat sebagai manusia agung dan terus menjadi perbincangan dunia.
Keluhan Nabi Zakaria
Nabi Zakaria merupakan sosok teladan dalam ketaatan. Di usia yang mendekatt senja belum juga diberi keturunan. Dia mengalami kegelisahan mendalam karena belum dikaruniai seorang anak yang akan mlanjutkan misi kenabiannya. Rambutnya yang sudah memutih dan fisiknya yang melemah tidak menghentikan doa untuk lahirnya soerang anak sebagai generasi penerusnya.
Beliau berkeinginan lahirnya generasi yang akan mewarisi berbagai petunjuk yang akan dilanjutkan pada generasi-generasi setelahnya. Oleh karenanya, dia berdoa tanpa lelah untuk memohon anak keturunan. Hal ini diabadikan Al Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَزَكَرِيَّآ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدٗا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ
Artinya:
Dan (ingatlah kisah) Zakariyya tatkala ia menyeru Tuhan-nya, “Ya Tuhan-ku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkau-lah waris yang paling baik. (QS. Al-‘Anbiyā : 89)
Terkabulnya doa Nabi Zakaria dilalui dengan berbagai amal kebaikan secara istqomah. Dia terkenal dengan kesalihannya. Salah di antara kebaikan beliau adalah mengurus Maryam sehingga menjadi generasi yang taat dalam menjalankan perintah Allah. Nabi Zakaria juga dikenal sebagai hamba yang tak pernah berputus asa dalam meminta keturunan kepada Allah. Hal ini diabadikan Al Qur’an sebagaimana firman-Nya :
فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ يَحۡيَىٰ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗا ۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ
Artinya:
Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yaḥya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (QS. Al-‘Anbiyā : 90)
Lahirnya sosok Nabi Yahya benar-benar menenangkan hatinya karena telah sosok yang nanti akan melanjutkan misi kenabiannya. Menyegerakan berbuat baik merupakan amalan yang membuka pintu langit dan mengabulkan doanya. Dengan kata lain, lahirnya Nabi Yahya merupakan buah dari ketaatan Nabi Zakaria.
Kisah Maryam
Salah satu karya besar Nabi Zakaria, di antaranya mendidik Maryam dalam ketaatan kepada Allah. Beliau mendidik Maryam di atas petunjuk-Nya sehingga Perempuan ini hidup dalam ketaatan dan fokus beribadah. Maryam pun berhasil menjadi generasi yang menjaga kehormatan. Atas penjagaan diri dalam ketaatan itulah maka Allah memberi karunia terbesar dalam hidupnya. yakni lahir seorang anak yang agung yakni Nabi Isa. Hal. Ini diabadikan Al Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا فَنَفَخۡنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا وَجَعَلۡنَٰهَا وَٱبۡنَهَآ ءَايَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ
Artinya:
Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. (QS. Al-‘Anbiyā : 91)
Lahirnya Nabi Isa merupakan buah sekaligus warisan besar bagi Maryam. Hal merupakan kaidah umum bahwa orang yang berbuat baik, akan mendapatkan warisan kebaikan. Umumnya manusia menginginkan warisan berupa harta kekayaan, kekuasaan yang langgeng, dan berbagai macam kenikmatan duniawi. Padahal, warisan terbaik adalah lahirnya generasi yang taat dalam menjalankan perintah-Nya. Generasi seperti inilah yang diharapkan para nabi dan rasul pada anak keturunannya. Generasi yang hidup dalam ketaatan inilah yang layak disebut sebagai abadi. Orang-orang yang hidup dalam ketaatan inilah yang memperoleh warisan dari Allah. Sebagaimana firman-Nya :
وَلَقَدۡ كَتَبۡنَا فِي ٱلزَّبُورِ مِنۢ بَعۡدِ ٱلذِّكۡرِ أَنَّ ٱلۡأَرۡضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ ٱلصَّٰلِحُونَ
Artinya:
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lawḥ Maḥfūẓ bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (QS. Al-‘Anbiyā : 105)
Nabi Ibrahim merupakan contoh manusia yang telah mewariskan kebaikan dalam ketaatan sehingga lahirlah anak-anak yang diangkat jadi nabi dan rasul pasca kematiannya. Nabi Ismai, Ishaq, Ya’kub merupakan warisan terbaik dan abadi. Beliau pun berdoa agar anak keturunan bisa seperti dirinya. Namun Allah membenarkan namun dengan syarat tidak ada kedzaliman dalam menjalani kehidupan. Hal. Ini sebagaimana firman-Nya :
وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ
Artinya:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhan-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Baqarah : 124)
Kita bisa melihat sejarah kehidupan dalam kurun waktu generasi yang hidup dalam kedzaliman, akhir kehidupannya terhina. Ketika mendapatkan kekuasaan, hidupnya menyengsarakan orang lain. Maka kekuasaannya sirna, maka Allah menghinakannya. Dia dijadikan bahan omongan buruk oleh Masyarakat, baik saat hidup, apalagi setelah kematiannya.
Para penjahat perang, koruptor, rezim yang kejam, dan bengis hidupnya berakhir tragis. Saat berkuasa memang dieluh-eluhkan pengikutnya, namun sesaat setelah berkuasaannya sirna, atau meninggal dunia, berbagai generasi akan menghujat dan membicarakan seluruh keburukannya.
Surabaya, 9 Juni 2025
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
