KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN ITU MASALAH,TAPI AKARNYA TETAP SEKULARISME

Artikel Terbaru ke-2.208
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok - Bangsa kita telah sedang dan akan terus menghadapi berbagai masalah pelik. Siapa pun yang jadi presidennya. Ada masalah pendidikan, pengangguran, kemiskinan, kesenjangan seosial, disintegrasi sosial, dan sebagainya. Itu semua memang masalah yang harus diselesaikan dengan segera. 

Tapi, percayalah! Akar masalah bangsa kita adalah merasuknya paham sekularisme dalam alam pikiran kaum elite intelektual dan para pengambil kebijakan. Kaum intelektual itulah.


Karena itu, penting sekali untuk selalu merenungkan kembali makna sekularisme yang disampaikan oleh Pahlawan Bangsa Mohammad Natsir pada 12 November 1957:
“Apa itu sekulerisme, tanpa agama, la-dieniyah? Sekulerisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham tujuan dan sikap hanya di dalam batas hidup keduniaan. Segala sesuatu dalam kehidupan kaum sekuleris tidak ditujukan kepada apa yang melebihi batas keduniaan. Ia tidak mengenal akhirat, Tuhan, dsb. Walaupun ada kalanya mereka mengakui akan adanya Tuhan, tapi dalam penghidupan perseorangan sehari-hari umpamanya, seorang sekuleris tidak menganggap perlu adanya hubungan jiwa dengan Tuhan, baik dalam sikap, tingkah laku dan tindakan sehari-hari, maupun hubungan jiwa dalam arti doa dan ibadah. Seorang sekuleris tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai moral itu ditimbulkan oleh masyarakat semata-mata. Ia memandang bahwa nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata, dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam penghidupan saat ini belaka.”


Marilah kita renungkan pernyataan Mohammad Natsir itu dengan mendalam dan serius. Apakah ketika para elite intelektual kita merumuskan konsep pembangunan, kemajuan bangsa, kesuksesan murid dan guru, kemiskinan, pengangguran, dan sebagainya, itu semua merujuk kepada wahyu Tuhan Yang Maha Esa.


Padahal, negara kita dengan tegas menyatakan berdasar atas Ketuhahan Yang Maha Esa. Para pemimpin kita pun tanpa ragu-ragu menyatakan beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha Esa. Bahkan, dalam konstitusi pun ditegaskan, pendidikan kita harus melahirkan manusia-manusia yang beriman dan bertaqwa serta berakhlak mulia.


Ambillah contoh, definisi tentang kerja dan pengangguran. Silakan dicek, apakah ibu rumah tangga yang bekerja keras di rumah hampir 24 jam, dimasukkan ke dalam ketegori bekerja? Apakah pengurus masjid yang berjuang lahir batin menggunakan pikiran, jiwa, dan raganya untuk memakmurkan masjid, dimasukkan kategori bekerja?
Bisa dilanjutkan, apakah kriteria kemajuan dan kesuksesan para pelajar dan sarjana kita menggunakan kriteria ketaqwaan dan akhlak mulia, sebagaimana sudah ditetapkan dalam konstitusi kita? Apakah kurikulum pendidikan kita mengacu kepada konsep ilmu sebagaimana ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw?


Daftar pertanyaan ini bisa kita teruskan ke dalam berbagai aspek lainnya. Kita ingin memakmurkan kehidupan rakyat kita! Itu pasti dan wajib bagi pemerintah. Tapi, alangkah indahnya jika konsep pemberantasan kemiskinan itu langsung disertai dengan penanaman keimanan yang kuat dan akhlak mulia. Sebab, orang kaya yang akhlaknya bejat, maka justru akan membahayakan diri, keluarga, dan masyarakat, bahkan bangsanya.


Nabi Muhammad saw telah memberikan teladan yang agung bagaimana mendidik manusia dengan akhlak mulia. Orang-orang kaya dan miskin bisa hidup harmonis dan bahagia, saling tolong-menolong, karena mereka memiliki akhlak mulia. Semangat ukhuwah, gotong royong, dan suka berkorban untuk sesama itulah akar terbentuknya kehidupan yang harmonis.


Orang yang tidak sekular memahami, bahwa kemiskinan dan kekayaan adalah ujian. Semakin banyak kekayaan yang dinikmatinya, semakin berat pula tanggung jawabnya di akhirat. Kemiskinan pun ujian. Harus diterima dengan sabar.


Sementara itu, pemerintah memahami, kekuasaan adalah amanah dan ujian yang berat. Jadi, semua hidup dengan tujuan untuk ibadah kepada Allah SWT. Itulah indahnya hidup dalam kesadaran iman dan Islam. Pemerintah tidak akan berani semena-mena memperlakukan rakyatnya.


Sekarang, lihatlah kondisi sekeliling kita. Apakah jiwa gotong royong itu masih terwujud dalam kehidupan sehari-hari? Apakah justru yang sebaliknya terjadi? Apakah individualisme dan materialisme, kekerasa dan keserakahan, terasa kian subur di tengah-tengah kita?
Marilah kita berpikir! (Depok, 3 Mei 2025).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *