HATI-HATI, JANGAN SAMPAI TERJADI PEMBUSUKAN OTAK

Artikel Terbaru ke-2.197
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok - Akhir-akhir ini populer istilah “brain rot”. Oxford menobatkan brain rot sebagai “word of the year”  tahun 2024.  Secara harfiah, Brain Rot  diartikan sebagai pembusukan otak. Penyebabnya adalah konsumsi berlebihan terhadap konten-konten berkualitas rendah di internet. 

Tidak dapat dipungkiri, di era melimpahruahnya informasi,  seseorang dapat terjebak ke dalam aktivitas yang melenakan. Video-video pendek yang dikemas dan disajikan dengan menarik dapat melenakan pola pikir seseorang, sehingga tanpa sadar ia menghabiskan waktunya selama berjam-jam. Ia hanya menikmati tontonan dan tidak sempat berpikir secara kritis. Ujungnya adalah kemalasan berpikir sehingga terjadilah brain rot. 

Jadi, brain rot  adalah buah dari kemalasan berpikir. Seharusnya, orang muslim terhindar dari musibah brain rot. Sebab, Islam adalah agama yang sangat mendorong umatnya untuk selalu berpikir dan berzikir. Dalam kondisi apa pun, seorang muslim harus selalu berpikir dan berzikir. 

 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka." (QS Ali Imran: 190-191)

Bahkan, orang yang masuk neraka akan menyesali nasibnya,  karena saat hidup di dunia, ia malas berpikir. “Dan para penghuni neraka itu berkata: andaikan dulu aku mau mendengar dan mau berpikir maka kami tidak akan menjadi penghuni neraka sa’ir.” (QS al-Mulk: 10). 

Ayat-ayat pertama dari al-Quran surat al-Alaq sudah bicara tentang ilmu dan pendidikan. Perintah “membaca” begitu tegas! Dan Allah yang mengajarkan manusia tentang apa-apa yang tidak diketahuinya. Jadi, Islam memang agama ilmu dan agama yang sangat menekankan budaya membaca dan berpikir.

Jadi, seharusnya, berpikir menjadi tradisi atau kebiasaan sehari-hari. Lebih dari itu, Islam menempatkan taraf berpikir tertinggi adalah bagaimana seorang menjadi orang yang bermanfaat. Rasulullah saw bersabda, bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Tentu saja, seorang tidak akan bisa bermanfaat jika ia tidak berpikir secara optimal. 

Lebih dari itu, Islam bukan hanya mendidik umatnya agar menggunakan pemikirannya secara optimal. Tapi, seorang muslim diwajibkan agar berpikir dengan benar dan beradab. Berpikir itu ada caranya. Tidak sedikit orang pintar dan hebat pemikirannya, tetapi ia tersesat; cara berpikirnya salah. Akibatnya, ia justru bisa merusak masyarakat dengan pemikirannya. Na’udzubillahi. 
Misalnya, orang yang rajin berpikir dan dikenal sebagai orang pintar, tetapi menolak wahyu sebagai sumber ilmu. Ia menganggap sesuatu yang ilmiah hanyalah yang empiris (bisa diindera) dan yang rasional.  Ini juga satu bentuk pengebirian berpikir yang sangat berbahaya bagi manusia itu sendiri. Cara berpikir sekular seperti ini akan berdampak pada rusaknya kehidupan diri manusia dan masyarakatnya. 

Sebab, indera dan akal memiliki keterbatasan. Indera dan akal manusia – misalnya — bisa memahami bahwa virus itu ada dan bisa menyebabkan gejala penyakit tertentu. Tetapi, indera dan akal saja – tanpa wahyu – tidak bisa memahami, apakah virus itu sampai ke tubuh manusia adalah atas kehendaknya sendiri atau karena ada yang mengirimnya.


Contoh lain, saat terjadi musibah gempa bumi. Beberapa pakar gempa berbicara di televisi bahwa gempa itu terjadi karena pergeseran lempengan bumi. Para ilmuwan itu bicara dalam tataran empiris dan rasional. Itu tidak salah. Tapi, kurang lengkap ilmunya. Ia tidak menjelaskan kepada masyarakat, bahwa lempengan bumi itu bergesar karena kehendak Tuhan; bukan kehendak si lempengan itu sendiri.


Jadi, agama Islam bukan hanya mendidik bagaimana umatnya giat dan rajin berpikir, tetapi juga memerintahkan umatnya agar berpikir benar, berpikir waras, atau berpikir secara komprehensif. Sebab, tujuan berpikir itu harus jelas. Yang terpenting adalah untuk mengenal diri dan Tuhannya agar ia bisa menjadi orang baik dan bermanfaat bagi sesamanya.


Karena itu, kita wajib berpikir benar dan beradab. Tujuannya, bukan hanya agar otak kita tidak membusuk. Tapi, lebih penting dari itu, otak kita sehat dan aktif menghasilkan pemikiran-pemikiran yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan masyarakat. Semoga Allah menolong kita. Amin. (Depok, 21 April 2025).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *