PESAN BIJAK PARA TOKOH: PIKIRKAN UMAT, DIRIMU ADA YANG MEMIKIRKAN

Artikel Terbaru ke-2.199
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok - Alkisah. Suatu ketika di tahun 1990-an, saya bersilaturrahim ke rumah seorang Wakil Ketua MPR RI, bernama Husni Thamrin. Ia seorang aktivis Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB-PII). Banyak hal dia sampaikan. Tapi, satu nasehatnya yang terus saya ingat: “Saudara pikirkan saja umat. Nanti diri saudara akan ada yang memikirkan!”

Sejak aktif sebagai mahasiswa, guru, dan wartawan, saya banyak bersilaturrahim dengan tokoh-tokoh umat Islam. Banyak nasehat mereka yang masih berbekas hingga kini. Ketika itu, saya pernah berjumpa dengan tokoh-tokoh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, seperti Anwar Harjono, Hartono Mardjono, Cholil Badawi, Hussein Umar, Ahmad Sumargono, dan sebagainya. 

Mereka semua sudah menghadap Allah SWT. Dari para tokoh itulah saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Bukan hanya dalam urusan dakwah dan perjuangan, tetapi juga cara-cara menyelesaikan probematika kehidupan. “Ingatlah selalu pesan Allah! Barang siapa menolong agama Allah, maka Allah pasti menolongnya,” begitu pesan Hartono Mardjono yang berulang-kali disampaikan ke saya.


Hartono Mardjono adalah seorang aktivis dakwah yang juga politisi handal. Ia pernah memimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DKI Jakarta tahun 1977. Hebatnya, ketika itu, PPP – dengan simbol Ka’bahnya — menang Pemilu di Jakarta. Hartono Mardjono kemudian menjabat sebagai wakil ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA).


Ia juga seorang pengacara hebat. Bebarapa politisi secara terbuka mengaku sebagai murid-muridnya.

Mas Ton – panggilan akrabnya – juga aktif dalam dunia pendidikan. Namanya kini diabadikan sebagai nama Aula di salah satu pesantren besar daerah Cikarang, Jawa Barat. Semoga segala ilmu yang telah diajarkan kepada umat terus mengalirkan pahala kepada mereka.
Hussein Umar dikenal sebagai aktivis dakwah yang punya spesialisasi dalam materi “Sejarah Perjuangan Umat Islam”. Jika berpidato, suaranya menggelegar. Ia pandai memainkan emosi pendengar. Disamping menjadi anggota DPR RI, Hussein Umar sempat memimpin Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.


Saya betah berjam-jam berbincang dengan para tokoh itu. Banyak pelajaran berharga yang tidak bisa dijumpai di buku. Kisah-kisah perjuangan mereka memberikan pemahaman dan inspirasi bagaimana kiat menghadapi masalah dan menyelesaikannya. Sebab, sejarah selalu terulang polanya. Sayangnya, banyak kisah-kisah kehidupan dan perjuangan para tokoh itu yang belum tercatat atau terdokumentasikan.
Misalnya, pesan Husni Thamrin yang menyarankan agar saya hanya memikirkan umat saja! Saya memahaminya itu sebagai skala prioritas. Bahwa, perjuangan atau dakwah Islam harus menjadi tujuan utama dalam aktivitas kehidupan. Al-Quran surat At-Taubah ayar 24 menjelaskan pentingnya prioritas kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan perjuangan di jalan Allah.
Ketika memilih pekerjaan, misalnya, maka harus dipilih yang memungkinkan untuk beraktivitas dalam dakwah. Bahkan, bisa menguatkan aktivitas dakwah. Misalnya, menjadi guru, dosen, atau wartawan. Pekerjaan itu – asal diniatkan dengan benar – memberikan kesempatan besar untuk tetap menjaga idealisme perjuangan dan terus menambah ilmu.


Di era dominasi sekularisme-materialisme, tidaklah mudah menjaga dan menguatkan jiwa perjuangan. Di dunia jurnalistik, misalnya, godaan berpikir pragmatis juga sangat besar. Jika tidak diniatkan untuk berjuang di jalan Allah, semua pekerjaan akan dianggap sebagai aktivitas rutin untuk sekedar cara mendapatkan gaji saja. Ujung-ujungnya idealisme semakin terkikis dan hidup menjadi semakin pragmatis, sekedar bagaimana bisa mendukupi kebutuhan hidup sehari-hari.


Padahal, menjadi pejuang di jalan Allah adalah jalan hidup para Nabi dan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah (QS an-Nisa: 69). Jalan hidup semacam ini merupakan jalan yang sunyi dan penuh ujian, tetapi pasti akan berujung kepada kebahagiaan.


Hidup bahagia bukanlah mencukupkan diri pada pemenuhan syahwat demi syahwat. Tetapi, hidup bahagia adalah ketika seorang memiliki keyakinan yang kokoh dan hidup sesuai dengan keyakinannya itu. Begitulah makna kebahagiaan hakiki (as-sa’adah) sebagaimana dirumuskan oleh Prod. Syed Muhammad Naquib al-Attas. (Depok, 23 April 2025).

Admin: Kominfi DDII Jatim

Redaktur: Ainur Rafiq Sophiaan

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *