Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari, Wakil Ketua Bidang MPK DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, – Surabaya – Kedatangan rasul di tengah komunitas bukan tanpa tujuan, tetapi memiliki kepentingan Tunggal, yakni mengingatkan manusia akan keagungan Allah. Dengan kata lain, kedatangan rasul mengajak manusia untuk membalas budi atas karunia Allah dengan mengagungkan dan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya. Rasul mengingatkan bahwa karunia Allah sangat banyak sehingga pantas membalasnya. Penciptaan, pemeliharaan, serta pemberian rizki dan berbagai sarana di dunia, semua diberikan Allah secara gratis. Rasul mengajak masyarakat untuk menyembah dan mengagungkan-Nya tanpa mempersekutukan dengan yang lain. Cara beragama seperti ini dipandang gila. Dampak tuduhan gila ini, maka para rasul justru diteror, hidupnya terancam hingga mengalami pengusiran dan pembunuhan.
Kebesaran Allah
Kebesaran dan keagungan Allah tak pernah dipungkiri manusia. Allah sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta. Sebagai pemilik rahmat, Allah memiliki kasih sayang dengan memberi kepada makhluk seluruh kebutuhan hidupnya. allah menyiapkan segala sesuatunya agar makhluk-Nya terjaga keberlangsungan hidupnya. Allah pun mengatur rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai Tingkat dan evel sosial. Hal itu dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗا ۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ
Artinya:
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhan-mu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhan-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Az-Zukhruf : 32)
Keberlangsungan hidup manusia diatur oleh-Nya, sehingga terdapat kehidupan dan kematian. Dengan adanya kehidupan dan kematian, para rasul mengabarkan akan ada hari kebangkitan. Sebagai pemilik kerajaan di langit dan bumi, Allah mengetahui apa yang telah dan akan terjadi, dan kepada-Nya lah semua akan dikembalikan kepada-Nya. Hal ini ditegaskan Allah sebagai firman-Nya :
وَتَبَارَكَ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ
Artinya:
Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, dan di sisi-Nya-lah pengetahuan tentang hari kiamat, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. Az-Zukhruf : 85)
Dengan adanya hari kiamat, mengkonsekuensikan kepada manusia untuk berbuat kebaikan. Oleh karenanya, rasul menanamkan orientasi yang benar dalam menjalani kehidupan. Orientasi yang benar mengarah kepada kehidupan akherat dengan berbuat baik di dunia. Keuntungan akherat inilah yang senantiasa diingatkan oleh para utusan Allah. namun kebanyakan manusia menginginkan keuntungan sesaat di dunia sehingga terlupakan akheratnya. Rasul pun mengingatkan bahwa Allah pemilik dunia dan akherat, dan meminta manusia untuk mencari keuntungan akherat. Hal ini dijelaskan Al-ur’an sebagaimana firman-Nya :
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡأٓخِرَةِ نَزِدۡ لَهُۥ فِي حَرۡثِهِۦ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
Artinya:
Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat. (QS. Asy-Syūraá : 20)
Penyembahan Berhala
Kesalahan orientasi dalam mencari keuntungan itulah yang membuat manusia dalam melakukan penyembahan. Manusia mengira bahwa keuntungan dunia bisa diperoleh dengan mengandalkan usaha dan jerih payah. Mereka pun berupaya untuk mendapatkan keuntungan yang bersifat faktual dan segera.
Tragisnya, untuk mendapatkan keuntungan segera, mereka salah jalan. Mereka mengira bahwa benda-benda yang ada di langit dan bumi telah memberikan segalanya, sehingga mereka mengagungkannya. Mereka pun berterimakasih kepada benda-benda yang ada di langit dan bumi. Matahari, bulan, bintang merupakan benda langit yang memberikan manfaat berupa kehidupan, keindahan, atau kepastian hidup. Gunung dan laut dipandang menopang sumber kehidupan sehingga berlangsung terus menerus.
Manfaat atas benda-benda langit dan bumi itulah menggerakkan manusia untuk mengagungkan dan menyembahnya. Mereka lupa bahwa seluruh makhluk besar itu merupakan ciptaan Allah yang disiapkan untuk keperluan manusia. Dalam situasi penyembahan kepada benda langit dan bumi itu, maka rasul datang untuk mengingatkan kesalah fatal itu.
Kedatangan rasul itu mengingatkan bahwa semua benda di langit dan bumi tak pantas disembah. Yang pantas disembah justru pencipta langit dan bumi itu sendiri. Mereka pun heran dengan apa yang didakwahkan rasul dengan menuduhkan pendusta dan penyihir. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ ۖ وَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ
Artinya:
Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka dan orang-orang kafir berkata, “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. (QS. Şād : 4)
Dikatakan gila dan tukang sihir karena apa yang didakwahkan bertentangan dengan kenyataan yang mereka alami. Mereka menjadikan benda-benda di langit dan bumi sebagai tuhan telah berlangsung lama. Penyembahan kepada benda-benda langit dan bumi terbukti telah menjaga keberlangsungan hidup mereka. Oleh karenanya, ketika diajak bertuhan satu dengan mengagungkan Allah saja dipandangan sebagai perbuatan gila dan mengada-ada. Hal ini dijelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَابٞ
Artinya:
Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (QS. Şād : 5)
Mereka menduga Tuhan yang satu mudah dikalahkan oleh tuhan yang banyak. Sehingga tetap bertahan dengan tuhan banyak dan berupaya meruntuhkan Tuhan yang satu. Inilah akar perlawanan terharap rasul hingga lahir berbagai aksi ancam, usir, hingga pembunuhan terhadap rasul. Sebagai penguasa alam semesta, tentu saja Allah membela rasul-Nya dengan menghukum pada musuh rasul dengan menyiksa di dunia dan mengancam akan menyeret ke neraka kelak selama-lamanya. Allah tak ridho rasulnya dituduh gila ketika mendakwahkan penyembahan dan pengagungan kepada-Nya. (Surabaya, 11 Mei 2025)
Admin: Kominfo DDII Jatim
Red: Ainur Rafiq Sophiaan
Ed: Sudono Syueb
