LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM WAJIB PUNYA GURU YANG AHLI DALAM BIDANG FALSAFAH ILMU

Artikel Terbaru ke-2.187
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok - Dalam beberapa dialog dengan pimpinan dan guru-guru agama di sekolah Islam dan pesantren, saya menyampaikan pentingnya disiapkan guru-guru yang memahami tentang filsafat ilmu dalam Islam. Jika tidak, sangat dikhawatirkan, para guru, orang tua, dan para murid, tidak tahu, apa yang disebut ilmu, bagaimana cara mencarinya, dan untuk apa mencari ilmu.

Rasulullah saw memerintahkan setiap muslim untuk mencari ilmu. Itu wajib hukumnya. Jika kita diperintah untuk mencari ayam, tentu wajib tahu apa itu definisi ayam dan bagaimana cara mencarinya. Maka, aneh jika anak-anak muslim tidak diajarkan apa itu ilmu, bagaimana cara mencarinya, dan untuk apa mencari ilmu. 
Sebab, tidak semua ilmu itu wajib dicari. Ada ilmu yang wajib dicari dan ada pula ilmu yang haram dicari. Inilah cakupan kajian Falsafah Ilmu atau Filsafat Ilmu dalam Islam. Jangan sampai anak-anak kita justru mendapatkan pemahaman tentang ilmu itu dalam perspektif sekular, seperti yang selama ini banyak diajarkan. 
Pakar filsafat Islam, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas memberikan perhatian khusus terhadap kitab akidah Islam tertua yang beredar di wilayah Melayu, yaitu kitab Aqaid al-Nasafiah. Tahun 1988, Prof. al-Attas menerbitkan salah satu karya monumentalnya: The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the ‘Aqaid of al-Nasafi (Kuala Lumpur: University Malaya, 1988). 
Imam al-Nasafi mengunkapkan tiga sebab manusia meraih ilmu, yaitu melalui panca indera, akal, dan khabar shadiq (true report). Konsep epistemologi al-Nasafi ini sangatlah penting untuk dipahami para pimpinan dan guru-guru lembaga pendidikan Islam.

Faktanya, selama ini di berbagai Perguruan Tinggi, justru diajarkan buku-buku Filsafat Ilmu yang sekular dan mendorong mahasiswa membuang agama dari konsep keilmuan.   Maka, hati-hatilah jika belajar buku-buku filsafat ilmu yang mengajak pada keraguan dan sikap skeptis; yang menjauhkan manusia dari pemihakan pada kebenaran. 

Dalam sebuah buku berjudul “Filsafat Ilmu” ditulis: “Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah diuji secara empiris. Dalam hal ini harus disadari bahwa proses pembuktian dalam ilmu tidaklah bersifat absolut…. Ilmu tidak bertujuan untuk mencari kebenaran absolut melainkan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia dalam tahap perkembangan tertentu.” (1995:131-132).


Jika konsep dan definisi “ilmu” seperti itu diterapkan untuk Ilmu Ushuluddin, Ilmu Tafsir al-Quran, atau Ilmu Ushul Fiqih, maka akan menimbulkan kerancuan yang sangat serius. Sebab, pengetahuan bahwa Allah itu Satu adalah ilmu yang mutlak yang didasarkan pada sumber yang mutlak benar, yaitu al-Quran. Begitu juga ilmu tentang keharaman babi, zina, dan khamr, adalah ilmu yang mutlak juga.


Adalah sangat keliru jika orang belajar ilmu bukan untuk meyakini kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama wahyu yang murni. “Islam is the only one genuine revealed religion,” begitu Tesis penting Prof. Syed Naquib al-Attas.


Orang pintar tapi salah ilmu justru sangat berbahaya dan merusak diri serta masyarakat. Ia akan menjadi manusia yang lupa Tuhannya, serakah dunia, dan hidupnya hanya untuk mengejar kesenangan demi kesenangan inderawi. Perilakunya – sebagaimana digambarkan dalam al-Quran – seperti binatang ternak. (QS Al-A’raf: 179, Muhammad: 12).


Jadi, begitulah pentingnya setiap lembaga pendidikan Islam menyiapkan guru-guru yang benar-benar memahami konsep ilmu dalam Islam. Hal itu merupakan pelaksanaan dari perintah Nabi saw, bahwa mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim.


Ilmu itu laksana makanan bagi jiwa. Tubuh kita perlu makanan yang baik. Maka kita siapkan pakar-pakar dalam bidang gizi dan kuliner. Tentu sangat tidak adil, jika kita tidak memiliki pakar-pakar dalam bidang keilmuan, sehingga tidak sadar bahwa yang dijejalkan ke para murid adalah “makanan” yang beracun.


Kita perlu waspada, jika banyak anak yang belajar agama, tetapi perilakunya TIDAK bertambah baik. Atau, setelah lulus pesantren atau sekolah Islam, ia justru tidak tertarik untuk belajar ilmu-ilmu agama lagi. Merasa sudah tamat dan jenuh! Semoga Allah membimbing kita semua agar selalu berada di shirathal mustaqim. Amin. (Depok, 10 April 2025).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Redaktur: Ainur Rafiq Sophiaan

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *