Etika Hamba soal Dunia

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
عن أبي هريرة قال: قال رسولُ اللَّه ﷺ انْظُرُوا إِلَى مَنْ هو أَسفَل مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوقَكُم, فهُوَ أَجْدَرُ أَن لا تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَلَيْكُمْ ( متفقٌ عَلَيْهِ)

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda:”Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena itu lebih ajdar (lebih pantas) agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.”(Muttafaq ‘alaih)

Hidup dengan Kepantasan

Kata ajdar berasal dari akar kata jadura–yajduru, yang berarti pantas, layak, atau sesuai. Maka, ketika Nabi ﷺ menggunakan kata ajdar, Beliau tidak sekadar memberi tips hidup, tapi mengajarkan kita cara berpikir dan bersikap yang sesuai dengan posisi kita sebagai hamba Allah.
Kita diajari untuk hidup dengan kepantasan. Tidak semua hal patut kita kejar, tidak semua yang bisa dicapai harus diraih. Karena hidup bukan soal siapa yang paling tinggi, tapi siapa yang paling tahu diri.

Melihat ke Bawah

Hadits ini mengajarkan kita sebuah cara pandang yang sederhana tapi dalam: lihatlah ke bawah, bukan ke atas. Bukan agar kita merasa lebih baik, tapi agar kita lebih bersyukur. Karena faktanya, selalu ada orang yang diuji lebih berat, yang rezekinya lebih sedikit, atau yang hidupnya lebih sulit.


Melihat ke bawah membuat kita sadar: “Kok bisa ya aku selama ini mengeluh, padahal aku masih punya banyak nikmat?”


Saat kita fokus melihat ke atas—pada yang lebih kaya, lebih tampan, lebih sukses—kita cenderung lupa bahwa kita pun sedang berdiri di atas nikmat yang besar. Cuma karena terbiasa, kita tidak menyadarinya.


Gengsi, Penyakit Turunan dari Iblis
Kadang, alasan kita sulit melihat ke bawah bukan karena kita sombong, tapi karena kita gengsian. Ingin tampil “wah”, biar tidak dianggap kalah. Tapi tahukah kamu? Gengsi adalah warisan Iblis. Ia enggan sujud kepada Adam bukan karena kurang ilmu, tapi karena terlalu sibuk menjaga statusnya sebagai makhluk lainnya.

Maka hati-hati, jika hidup hanya demi gengsi, bisa jadi kita sedang meniti jalan yang salah. Padahal, Allah tidak menilai dari gengsi, tapi dari taqwa.

Kemuliaan Sejati, Bukan di Mata Manusia

Jangan tertipu oleh standar dunia. Rumah megah, jabatan tinggi, atau saldo melimpah bukanlah indikator kemuliaan. Semua itu bisa habis, dicabut, atau diwariskan. Tapi taqwa—itulah kemuliaan yang sejati dan abadi. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa” (QS. Al-Hujurat: 13)

Orang bisa saja dipuji karena posisinya, tapi apakah dia juga mulia di hadapan Allah? Itulah pertanyaan yang seharusnya lebih sering kita tanyakan kepada diri sendiri.

Etika Spiritual: Menjadi Hamba yang Layak

Etika tertinggi seorang hamba bukan hanya kepada sesama manusia, tapi kepada Allah. Kita pantas menjadi hamba-Nya bila kita mengakui bahwa seluruh hidup ini adalah ibadah.

Kita dilahirkan bukan untuk bersaing dalam dunia yang fana, tapi untuk tunduk dan patuh pada-Nya.
Allah punya haq untuk ditaati, disembah, dipuji, dan tidak dibantah. Termasuk dalam hal mentaati Rasulullah ﷺ—karena siapa yang mengaku cinta Allah, maka bukti nyatanya adalah mengikuti Rasulullah. “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Hidup yang Penuh Arti Adalah Hidup yang Bersyukur


Melihat ke bawah melahirkan syukur. Dan syukur adalah pondasi hidup yang tenang. Kita tidak mudah iri, tidak mudah kecewa, dan tidak terjebak pada ambisi kosong. Justru dari syukur itulah lahir semangat untuk memberi, berbagi, dan menebar kebaikan.

Segala potensi yang kita punya adalah amanah. Maka mari gunakan semua itu untuk tujuan yang lebih tinggi—bukan demi gengsi, tapi demi ridha Ilahi.

Pantas di Dunia, Mulia di Akhirat

Hidup ini bukan soal siapa yang paling tinggi, tapi siapa yang paling pantas. Ajdar—lebih pantas—menjadi kunci agar kita tidak tergelincir dalam ilusi dunia.


Kalau hari ini kita masih merasa kurang, cobalah lihat ke bawah. Mungkin di sana kamu akan menemukan bahwa kamu sudah sangat kaya—hanya belum cukup bersyukur. “Dan sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *