Ahbabtuhu: Aku Mencintainya Karena Allah

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ، عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى ، فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا ، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ : أَيْنَ تُرِيدُ ؟ قَالَ : أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ ؟ قَالَ : هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا ؟ قَالَ : لَا ، غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ . قَالَ : فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيه. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Seorang laki-laki mengunjungi saudaranya di desa lain, maka Allah mengutus Malaikat menghadang jalannya, maka ketika Malaikat bertemu dengan ia bertanya: hendak kemana kamu? Laki-laki itu menjawab: Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di desa ini, Malaikat bertanya: Apakah ada bagian kenikmatan yang ingin kaudapatkan darinya? Laki-laki itu menjawab: Tidak, kecuali karena aku sangat mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla, Malaikat berkata: Sungguh aku ini utusan Allah kepadamu, karena Allah sungguh mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah .” [HR. Muslim]

Cinta yang Tak Ditukar Dunia

Ada cinta yang tak menuntut balasan, tak berharap keuntungan, tak peduli latar belakang, jabatan, atau isi dompet. Itulah cinta karena Allah. Seperti dalam kisah hadits ini, seorang lelaki menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengunjungi saudaranya yang ia cintai fillah—semata-mata karena Allah.

Tak ada kepentingan, tak ada pamrih. Maka Allah kirimkan malaikat untuk menyampaikan kabar:
“Sesungguhnya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena-Nya.”
Rasulullah bersabda: “Tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman:… dan seseorang yang mencintai orang lain, tidak mencintainya kecuali karena Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Silaturrahim: Jalan Menuju Cinta-Nya

Dalam dunia yang serba transaksional, hubungan yang murni karena Allah menjadi barang langka. Tapi Islam justru mengajarkan, hubungan yang dibangun atas cinta karena Allah-lah yang paling luhur.
Silaturrahim bukan hanya memperpanjang umur dan melapangkan rezeki—itu bonus dari Allah. Tujuan utamanya adalah menguatkan ikatan ukhuwwah karena cinta yang tumbuh atas dasar iman.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (QS. An-Nisa: 1)

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta Bukan Karena Status, Tapi Karena Tauhid

Mari jujur, berapa banyak dari kita menghormati orang karena status sosialnya? Berapa banyak pula yang merendahkan hanya karena tak punya “kelas duniawi”?
Islam membalik semua itu. Yang mulia bukan yang paling kaya, paling pintar, atau paling terkenal. Tapi yang paling bertakwa. Hubungan dalam Islam dibangun atas tauhid—pengakuan bahwa hanya Allah-lah pemilik kemuliaan sejati.


Hubungan dalam Islam bukan berdasarkan duniawi. Tapi karena ikatan akidah dan iman.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Jangan memuliakan seseorang karena status duniawinya, karena kemuliaan sejati hanya di sisi Allah:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Semoga Allah menanamkan keikhlasan di hati kita untuk mencintai, bersilaturrahim, dan memuliakan saudara kita karena-Nya.
Menjaga Hati dari ‘Merasa Lebih’
Tidak perlu merasa paling unggul karena lebih berilmu, lebih tua, lebih kaya, atau lebih aktif beribadah. Rasa “lebih” itu seringkali jebakan halus dari syaitan.


Sikap rendah hati, saling menghormati, dan membuang gengsi dalam berinteraksi adalah bentuk pengamalan kalimat Lā ilāha illallāh yang sesungguhnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:”Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim)

Cintai Karena-Nya, Dicintai oleh-Nya

Tak ada cinta yang lebih tulus, lebih tinggi, dan lebih diberkahi selain cinta karena Allah. Jika kita mencintai seseorang karena Allah, maka Allah akan mencintai kita pula. Dan itu adalah kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan dunia seisinya.
“Wajiblah kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, duduk bersama karena-Ku, saling mengunjungi karena-Ku, dan saling memberi karena-Ku.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’)

Semoga Allah membersihkan niat kita, meluruskan cinta kita, dan menjadikan kita hamba yang dicintai-Nya.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Redaktur: Ainur Rafiq Sophiaan

Editor: Sudono Syeb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *