Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Studi Al-Qur’an (PSQ) DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم, يَقُوْلُ فِي بَيْتِي هٰذَا : اَللّٰهُمَّ! مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ, فَاشْقُقْ عَلَيْهِ. وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ, فَارْفُقْ بِهِ. رواه مسلم
Hadis ini dari Sayyidah ‘Aisyah, dia berkata, saya mendengar Rasulullah berdoa di rumahku seperti ini, “Ya Allah! Barang siapa yang memegang urusan umatku lalu dipersulit urusan mereka, maka persulitlah orang itu. Dan barang siapa yang memegang urusan umatku lalu mereka berlaku lembut kepada mereka, maka berlaku lembutlah kepada orang itu.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengingatkan kita tentang prinsip dasar kepemimpinan yang benar, yaitu mempermudah urusan umat, bukan malah mempersulitnya. Kata syaqqa yang berasal dari bahasa Arab berarti kesulitan atau beban yang berat. Dalam konteks ini, Rasulullah mengingatkan bahwa pemimpin harusnya menjadi pembawa kemudahan bagi orang-orang yang dipimpinnya, bukan menjadi sumber kesulitan dan beban bagi mereka.
Di zaman ini, kita sering kali melihat pemimpin yang seharusnya menjadi pelayan bagi rakyatnya, malah sering kali memberi beban yang berat. Perebutan kekuasaan yang terjadi di negeri ini menyisakan banyak kisah pilu. Di tengah realitas ini, sering kali kita mendengar para calon pejabat yang dengan penuh keyakinan merayakan kemenangan atau terpilihnya mereka dengan suka cita. Namun, mereka lupa bahwa sebuah jabatan adalah amanah, bukan sekadar alasan untuk berbangga diri atau menikmati kekayaan. Bahkan, seharusnya, saat diangkat menjadi pemimpin, kita harus lebih banyak beristighfar, memohon petunjuk dan kekuatan kepada Allah agar bisa menunaikan amanah dengan baik.
Kepemimpinan sebagai Ujian
Kekuasaan dan jabatan sering dianggap sebagai berkah, padahal justru ia adalah ujian yang besar. Seperti yang sering kita saksikan, banyak pemimpin yang terjebak dalam jerat kekuasaan, merasa bahwa jabatan mereka adalah hadiah dari Allah yang patut disyukuri dengan merayakan kemenangan. Namun, pemahaman ini sangat keliru, karena sebenarnya jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dengan penuh hati-hati.
Pemimpin yang merasa sombong dengan jabatannya dan mulai menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan pribadi telah menyimpang dari jalan yang benar. Salah satu contohnya adalah mereka yang menggunakan posisinya untuk memperkaya diri, bahkan dengan cara yang tidak sah. Padahal, seorang pemimpin seharusnya lebih banyak memberi manfaat kepada umatnya dan tidak berorientasi pada keuntungan pribadi.
Tanggung Jawab Bersama
Jika pemimpin sudah berada pada jalan yang salah, maka masyarakat juga memiliki peran dalam hal ini. Mereka yang memilih pemimpin haruslah bertanggung jawab atas pilihan mereka. Oleh karena itu, memilih pemimpin bukanlah perkara mudah. Kita harus mengenali dan memastikan bahwa calon pemimpin tersebut benar-benar bisa memegang amanah dengan baik dan tidak terjebak dalam permainan kekuasaan.
Sebagaimana Rasulullah mengingatkan dalam doa beliau, “Ya Allah, barang siapa yang memegang urusan umatku dan mempersulit urusan mereka, maka persulitlah urusan orang itu”, ini adalah peringatan agar kita berhati-hati dalam memilih pemimpin yang dapat memberikan manfaat kepada umat, bukan malah menambah kesulitan.
Kekuatan Nafsu dan Ujian
Kekuasaan
Kekuasaan dan harta merupakan ujian terbesar bagi manusia. Ujian ini semakin berat apabila sudah dikuasai, karena banyak pemimpin yang kemudian tergoda oleh nafsu duniawi, seperti mengejar kekayaan pribadi atau kepuasan nafsu tanpa menghiraukan masyarakat. Hal ini yang kemudian mengarah pada kerusakan moral dan spiritual.
Allah dalam Al-Qur’an memperingatkan tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan mereka. Mereka yang menuruti hawa nafsunya tanpa batas, menganggap dunia ini sebagai segala-galanya. Allah berfirman: “Apakah kamu pernah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Allah membiarkannya sesat, menutup hatinya, pendengarannya, dan matanya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk setelah Allah membiarkannya sesat?” (QS. Al-Jaatsiyah: 23-24)
Seorang pemimpin yang terjerat dalam dunia hawa nafsu dan kepentingan pribadi akan jauh dari jalan yang benar. Maka, kita harus senantiasa menjaga agar diri kita tetap bersih dari keserakahan dan selalu menuntut ilmu agar bisa menjalankan amanah dengan baik.
Amanah yang Berat
Sebagai umat yang memilih pemimpin, kita juga harus bertanggung jawab atas keputusan kita. Pemimpin yang sudah diberikan amanah oleh rakyat untuk memimpin, harus ingat bahwa pengkhianatan terhadap amanah akan memiliki konsekuensi yang sangat besar di akhirat kelak. Kita tidak ingin menjadi bagian dari masyarakat yang ikut menanggung dosa karena memilih pemimpin yang tidak amanah.
Maka, mari kita selalu ingat doa Rasulullah yang mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam memegang amanah. Sebab, pengkhianatan terhadap amanah itu akan lebih berat dari segala sesuatu yang dapat kita raih di dunia ini.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
