SEKILAS PANDANG DA’WAH DEWAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA KABUPATEN MOROWALI UTARA

Oleh: Sugiatno, S.H., Ketua Dewan Da’wah, Morowali Utara

Dewandakwahjatim.com, Morowali Utara – Da’wah memiliki ruang lingkup yang luas karena aktivitas da’wah tidak terbatas pada sekelompok orang atau kawasan tertentu tetapi bersifat universal. Masyarakat marginal seperti pada daerah-daerah terpencil pelosok pedalaman negeri Indonesia umumnya yang sering terabaikan dan terlupakan. Seperti di Sulawesi Tengah secara khusus pedalaman Kabupaten Morowali Utara tepatnya di tiga kecamatan meliputi Kecamatan Mamosalato, Bungku Utara dan Soyo Jaya, terdapat intentitas masyarakat suku pedalaman yang di sebut dengan suku Tau Taa-Wana. Keberadaan suku pedalaman tersebut sungguh keberadaannya sangat memprihatinkan karena mereka sebagai anak bangsa hingga saat ini ada yang luput dari perhatian dan sentuhan pemerintah.

Indonesia akan memasuki 80 tahun merayakan kemerdekaan yaitu pada 17 Agustus 2025. Antara realita dan fakta sampai saat ini masih begitu banyak anak bangsa di daerah pedalaman pelosok negeri Nusantara ini masih belum menikmati dan merasakan arti nilai kemerdekaan yang seutuhnya. Kehadiran Dewan Da’wah secara Nasional baik tingkat Pusat, dan daerah baik provinsi maupun Kabupaten dan secara khusus di Kabupaten Morowali Utara masih ada potret nyata masyarakat yang hidup dalam kelompok 3T yaitu Tertinggal, Terkebelakang dan Termarginalkan. Inilah peran lembaga da’wah melalui para aktifis Da’wahnya hadir mengambil peranan penting membantu program pemerintah secara nyata hadir di tengah-tengah ummat secara khusus keberadaan Dewan Da’wah Morowali Utara untuk mengambil bagian dalam melakukan pembinaan masyarakat pedalaman Suku Tau Taa-Wana tersebut.

Tentunya keberadaan Dewan Da’wah Morowali Utara tidak boleh di pandang atau ditutup sebelah mata, karena Dewan Da’wah telah hadir memberi kontribusi besar dan nyata kepada Pemerintah, baik Pemerintah Pusat Provinsi dan Daerah dalam membangun nilai-nilai peradaban masyarakat yang terisolir dan termarginalkan tersebut.

Da’wah dalam perannya tidak mungkin dilaksanakan secara sendiri tentunya harus melibatkan banyak orang atau dibangun secara berjama’ah. Maka setiap individu kita memiliki peran berdasarkan kopetensi, kemampuan dari aspek ruang lingkupnya. Da’wah tentunya juga tidak dibatasi berdasrkan zona atau wilayah, suku atau ras maupun warna kulit dan golongan tertentu, tetapi kita harus dapat melihat dan memandang da’wah secara universal yaitu secara global dan keseluruhan dalam aspek Nasional dan Internasional.

Da’wah pada dasarnya adalah kegiatan aspek social kemasyarakatan, olehnya sukses tidaknya gerakan da’wah tidak terlepas dari melibatkan banyaknya orang sebagai peyokong penguat program suksenya da’wah itu sendiri. Elemen Pemerintah, Para Konglomerat sampai pada lapisan masyarakat menengah ke bawah dapat mengambil perannya masing-masing sesuai kadar dan batas toleransi kemampuannya.

Tentu setiap kita tidak ingin menjadi penghalang, penghambat atau mempersulit dalam hal akses-akses da’wah itu sendiri, memberi jalan dan membukakan jalan dan memudahkan setiap perjuangan da’wah itulah nilai seorang yang akan dipandang sebagai insan yang beriman dan bertaqwa disisi Allah SWT.

Da’wah adalah bagian dari cara kita mencerdaskan dan mewujudkan cita-sita anak bangsa yang merdeka, berdaulat dalam sendi tatanan kehidupan baik berbangsa dan bernegara serta menjadikan mereka anak bangsa yang merdeka dan mulia di hadapan Rabb-Nya.

Hakikat da’wah sejatinya tidak sebatas pada ceramah di atas podium/mimbar, berpidato di depan para audien atau jema’ah yang banyak. Namun lebih dari itu da’wah harus mampu membuka akses dan peluang yang besar untuk membangun sendi kehidupan dan memberdayakan masyarakat melalui karya nyata dalam gerakan da’wah sosial seperti da’wah bilhal bagi masyarakat yang masih pada kelompok 3T serta belum mengenal agama dan tatanan peradaban kehidupan social bermasyarakat pada umumnya.

Untuk di pahami bahwa kegiatan da’wah itu meliputi seluruh aspek tatanan kehidupan, tidak hanya terbatas pada dimensi ritual ibadah mahdhoh, tetapi juga pada dimensi tatanan sosial dalam hal seperti muamalah dan hablum minannas yang meliputi aspek kehidupan, ekonomi, social, politik, seni, budaya, lingkungan hidup dan semua bidang kehidupan manusia yang lainnya.

Dewan Da’wah Morowali Utara dalam membangun esensi da’wah pada prinsipnya adalah memberikan arah perubahan yang besar khususnya bagi masyarakat pedalaman Suku Tau Taa-Wana yang tertinggal, terpinggirkan dan termarginalkan. Mengubah tatanan kondisi sosial masyarakat dari kebodohan ke arah kecerdasan, dari kemiskinan ke arah kemakmuran, dari keterbelakangan ke arah kemajuan dari kezaliman ke arah keadilan. Inilah prinsip da’wah yang dibangun oleh Dewan Da’wah Kabupaten Morowali Utara yang merupakan bagian dari gerakan da’wah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia secara Nasional yang dibangun oleh Dr, Muhammad Natsir sang pendiri Dewan Da’wah sebagaimana amanah Risalah da’wah Islam yang diturunkan Allah SWT keatas nabi-Nya Rasululoh SAW.

Dalam da’wah, Dewan Da’wah Morowali Utara selalu mengedepankan membangun sendi kehidupan yaitu:
Membangun peradaban dari keterbelakangan, Melakukan perubahan polafikir masyarakat pedalaman dari keterbelakangan mental, Membangun ekonomi, pendidikan dan kesehatan warga masyarakat binaan. Tentunya hal ini sejalan dengan sejarah lahiran peradaban Islam, yang di bangun oleh Rasulullah SAW, yang mampu menggerakkan perubahan tatanan kehidupan sosial masyarakat jasirah arab secara mendasar dari kehidupan jahiliyah kepada tatanan Islamiyah yang penuh ridha dan keberkahan dari Allah SWT.

Dalam hal menjalankan aktivitas pembinaan da’wah terhadap masyarakat binaan, secara khusus pada masyarakat suku Tau Taa-Wana, Dewan Da’wah menjalankan kiprah da’wahnya melalui proses yang panjang, hal ini sudah berjalan sejak tahun 2001 ketika masih menjadi bangian Kabupaten Morowali hingga sekarang telah mekar menjadi Kabupaten Morowali Utara.

Tentu bukan perkara yang mudah dalam mengemban amanah da’wah pada masa perintisan da’wah pedalaman di kala itu. Tidak sebatas tantangan medan perjalanan da’wah yang dilalui, disisi lain dalam hal komunikasi dan interaksi karena secara umum mereka tidak mengerti bahasa Indonesia melainkan mereka menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Tau-Taa Wana tentunya banyak kesulitan ketika itu. Seiring perjalanan waktu ahirnya semua saling dapat menyesuaikan.

Prioritas kosentrasi da’wah, Dewan Da’wah Morowali utara terkait da’wah pedalaman, sampai saat sekarang masih tetap focus kepada intentitas masyarakat suku Tau Taa-Wana mengingat sampai saat ini keberadaan mereka masih banyak tempat-tempat tinggal mereka yang belum terjangkau oleh akses jalan, serta jangkauan pemerintah, melainkan hanya da’wah yang kini mampu hadir menjangkau tempat-tempat mereka sehingga kini mereka dapat diajak untuk hidup berkampung dan bermasyarakat dalam satu titik perkampungan/pemukiman, sedang jauh sebelumnya mereka umumnya masih hidup nomaden tidak mengenal hidup berkampung dan bermasyarakat.

Perlu untuk di ketahui bahwa masyarakat suku Tau Taa-Wana keberadaannya masih banyak yang hidup nomaden, belum berkampung dan bermasyarakat serta sebagaimana umumnya mereka masih belum hidup beragama serta belum mengerti apa arti hidup berbangsa, bernegara dalam lingku berpemerintahan. Inilah peran da’wah dengan dukungan umat yang luas dapat turut serta membantu program pemerintah secara Nasional dan nyata.

Sugiatno, S,H (Ust.Sigit)
K. Dewan Da’wah Morowali Utara

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *