Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Studi Al-Qur’an (PSQ) Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
عن أبي هريرة قال: قال رسول الله ﷺ: اَلدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ. رواه مسلم
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir.” [HR. Muslim]
- Definisi Dunia dalam Islam
Dunia dalam bahasa Arab disebut “الدُّنْيَا” yang berasal dari kata “دَنا – يَدْنُو” yang berarti dekat. Secara terminologi, dunia adalah kehidupan yang sementara dan dekat dibandingkan kehidupan akhirat. Kata dunia juga dapat merujuk pada segala sesuatu yang ada di bumi beserta penghuninya.
Allah SWT menciptakan dunia sebagai tempat ujian bagi manusia sebelum mereka menuju kehidupan akhirat yang kekal. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
- Manusia dan Amanah Kekhalifahan
Allah menciptakan manusia dengan tujuan sebagai khalifah di bumi. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an:
إِنِّي جَاعِلٌ فِي ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Manusia diberikan amanah untuk mengelola dunia dengan baik, bukan sekadar menikmatinya tanpa batasan. Dalam ayat lain, Allah berfirman:
إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَـٰنُ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًۭا جَهُولًۭا
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)
- Dunia sebagai Sarana, Bukan Tujuan
Allah mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia:
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
- Godaan Dunia dan Kesadaran Akhirat
Dunia dihiasi dengan berbagai kesenangan, namun semuanya hanyalah ujian. Allah berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَـٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَـٰمِ وَٱلْحَرْثِ ذَٰلِكَ مَتَـٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)
Namun, orang-orang yang sadar akan akhirat tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
- Bahaya Salah Memilih Pemimpin
Dalam mengelola dunia, pemimpin memiliki peran penting dalam kesejahteraan rakyat. Jika salah memilih pemimpin, dampaknya bisa sangat besar, bahkan menjadi penyesalan yang berkepanjangan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦٓ إِنَّنِى بَرَآءٌۭ مِّمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا ٱلَّذِى فَطَرَنِى فَإِنَّهُۥ سَيَهْدِينِ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (QS. Az-Zukhruf: 26-27)
Pemimpin yang baik akan membawa kesejahteraan, sementara pemimpin yang buruk dapat menjerumuskan rakyatnya dalam kehancuran. Oleh karena itu, memilih pemimpin yang amanah adalah suatu kewajiban.
Kesimpulan
Dunia adalah tempat ujian, bukan tujuan akhir. Seorang mukmin harus memahami bahwa dunia hanya persinggahan sebelum menuju kehidupan abadi di akhirat. Dunia bukan untuk dinikmati sebebas-bebasnya, tetapi untuk dimanfaatkan dalam kebaikan dan ketakwaan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidak tertipu oleh gemerlap dunia dan selalu mengingat hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Selain itu, dalam mengelola dunia, kita harus memilih pemimpin yang benar agar tidak menyesal di kemudian hari.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
