Kisah Dai DDII: Hantarkan Cahaya Islam ke Pedalaman, Membentuk Pribadi Muslim Kaffah

Penulis: Syayid Ghazali, Kominfo DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Suranaya – “Da’wah adalah kewajiban, bukan pekerjaan. Oleh karena itu tidak ada seorang yang bisa mengelak dari kewajiban itu. Tapi bila da’wah sebagai pekerjaan mungkin saja ketika dia menemukan pekerjaan yang lebih menguntungkan dan bisa mendatangkan uang banyak, dia akan tinggalkan da’wah dan pindah ke pekerjaan lain. Kita dituntut untuk menghidupkan da’wah bukan mencari kehidupan dari da’wah, jangan sampai niat itu berubah walaupun sedikit. Lebih dari pada itu kita pun harus konsekuen terhadap figrah da’wah kita, yaitu : upaya untuk membentuk pribadi muslim yang kaffah dan memenangkan islam secara total” tutur ustadz Mursalin da’i senior Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Jawa Timur.

Pada tahun 1990 ustadz Mursalin ditugaskan oleh Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia ke pedalaman Timor Timur menyapa, membina dan membersamai masyarakat minoritas muslim di pedalaman Liquisa di tengah konflik pada saat itu.

“Untuk memasuki Timor Timur bukanlah pekerjaan yang mudah kala itu, Prosedurnya sangat ketat dan pemeriksaan berlapis lapis, hingga lima kali pemeriksaan. Apalagi bagi seorang Muballigh, hanya lembaga tertentu saja yang bisa mengirimkan da’inya. Itupun masih melalui pemeriksaan yang ekstra ketat. Surat jalan jelas, menjadi persyaratan. Barang bawaan diperiksa semua, tas dibuka, pokoknya tidak boleh lolos meskipun hanya selembar kertas. Bukan hanya mereka yang masuk ke wilayah Timtim yang di periksa ketat, yang keluar juga begitu, untuk yang keluar harus mendapat rekomendasi dari Kooskam (Komando Operasi Keamanan)”tutur ustadz Mursalin.

Mayoritas masyarakat binaan ustadz mursalin adalah mualaf dan masyarakat primitive yang masih bermukim di tengah hutan dan berpindah-pindah tempat, hal ini membuat ustadz mursalin harus naik turun gunung dari tempat tinggalnya menempuh hingga 5 jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk membina dan membentengi akidah mereka, mengenalkan syariat islam kepada mereka, walaupun banyak diantara mereka yang sudah lama masuk islam namun banyak yang tidak memahami syariat.

Kegiatan ke Islaman di pusatkan di Masjid Nurus Syuhada satu-satunya masjid di kabupaten Liquisa Timor Timur. Satu minggu sekali masyarakat binaan ustadz Mursalin yang tinggal di hutan turun gunung untuk menggikuti kegiatan ke Islaman, majlis ta’lim dan shalat Jum’at berjamaah di masjid tersebut, melihat masjid Nurus Syuhada adalah satu-satunya masjid disana.

Lepasnya Timor Timur dari NKRI pada tahun 1999 membuat ustadz Mursalin dan seluruh da’i yang bertugas dengan berat hati harus meninggalkan masyarakat binaan mereka. Ustadz Mursalin kembali ke tanah air dan melanjutkan da’wahnya di desa terbelakang Jawa Timur di Ds. Kowang Kec. Semanding Kab. Tuban.

Kondisi di Ds. Kowang Kec. Semanding Kab. Tuban tidak kalah memperhatinkan dengan kondisi masyarakat binaan ustadz Mursalin sebelumnya.

“Kebiasaan buruk sebagian masyarakat seperti mabuk dan perjudian serta tradisi kejawen yang masih menjamur di masyarakat sangat membahayakan akidah mereka” tutur ustadz Mursalin.

Dengan penuh kesabaran dan ke istiqomahan sejak tahun 2000 hingga sekarang Ustadz Mursalin berjibaku melakukan sebuah perubahan dari jahilyah menuju Islamiyah, membina dan membersamai masyarakat Desa Kowang Kec. Semanding Kab. Tuban sehingga terbentuklah pribadi muslim yang kaffah.

Sudah 35 tahun lamanya ustadz Mursalin dan keluarga mengabdikan dirinya di jalan da’wah Ilallah, membina dan membersamai masyarakat di desa tertinggal itu pun mendapatkan kejutan yang tak pernah terbayang olehnya, ustadz Mursalin mendapat panggilan Ibadah Haji VIP undangan dari Raja Salman pada tahun 2019 lalu bersama dengan 9 da’i Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia lainya. Hanya membutuhkan waktu 2 minggu untuk mempersiapkan semuanya 10 da’i itu pun berangkat dengan penuh kebahagian.

“Begitulah salah satu cara Allah menggembirakan orang-orang yang berjuang dan membela agama-Nya. Hadiah ini tak setara dengan kesenangan dunia apapun. ‘Tak jua bisa ternilai dengan banyaknya deretan rupiah” tutur ustadz Mursalin.

Ustadz Mursalin adalah salah satu da’i dari sekian ratus da’i Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Jawa Timur yang aktif membina dan membersamai masyarakat di desa tertinggal, pelosok dan pedalaman Jawa Timur. Mari terus dukung perjuangan mereka dengan memberikan donasi terbaik kita untuk menguatkan da’wah di desa tertinggal, pelosok dan pedalaman Jawa Timur.

Keterangan Foto: Ust. NurSalim sebelah kanan baju biru

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *