Bertauhid : Tingginya Martabat Manusia

Bertauhid : Tingginya Martabat Manusia

Dr. Slamet Muliono Redjosari
(Anggota Bidang Pemikiran lslam Dewan Dakwah Jatim)

dewandakwahjatim.com – Misi utusan Allah (nabi atau rasul) bersifat tunggal, yakni menyadarkan manusia akan kebesaran Allah dan mengajaknya untuk menyembah hanya kepada-Nya. Menyembah hanya kepada Allah ini merupakan akhlaq mulia seorang hamba kepada sang Khaliq. Namun ajakan itu justru direaksi secara negatif. Alih-alih gembira dan beriman kepada utusan Allah, mereka justru bersatu untuk melakukan penolakan, dan bahkan seringkali mengadakan perlawanan secara kolektif untuk membunuhnya. Mereka berani melakukan perlawanan kolektif terhadap utusan Allah karena mereka mempertahankan budaya yang sudah terbiasa mereka lakukan secara turun temurun. Mereka menganggap budaya itu lebih baik, dan mendatangkan keberkahan dan kebaikan bagi mereka.

Menguatnya Tradisi

Penolakan terhadap ajaran yang dibawa nabi/rasul tidak lepas dari mengakar-kuatnya tradisi yang telah dilakukan oleh masyarakat setempat. Bahkan ketika datang peringatan yang mengajak untuk menyembah kepada Allah, mereka justru menyatu dan menyombongkan diri. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :

“Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Lā ilāha illallāh” (Tidak Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri.”(QS. Ash-Shaffat : 35)

Sikap menyombongkan diri dan bangga dengan budaya mereka merupakan respon otomatis, karena apa yang disampaikan utusan Allah jelas akan mengganggu atau menyingkirkan tradisi mereka. Bahkan Allah menunjukkan kesatuan sikap mereka dalam membendung dakwah Nabi/Rasul dengan menuduhnya sebagai orang gila dan kurang akal. Allah mengabadikan sikap perlawanan itu sebagaimana ayat-Nya :

“Dan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?” (QS. Ash-Shaffat :36)

Menuduh gila sama saja menyatakan bahwa ajaran yang disampaikan nabi/rasul mengandung berbagai kekacauan sehingga tak layak diterima. Lebih dari itu, mereka menyebarkan berita palsu di tengah masyarakat untuk melakukan kebencian dan perlawanan kolektif. Tidak sedikit di antara mereka yang mengusir atau bahkan membunuhnya karena orang gila hanya akan mendatangkan ketidaknyamanan masyarakat.

Reaksi kebencian terhadap ajakan untuk menyembah kepada Allah saja, muncul dalam bentuk kekecewaan. Mereka melampiaskan kekesalan itu dengan berbagai macam ekspresi. Al-Qur’an menggambarkan kekecewaan itu dengan ekspresi benci, sebagaimana dipaparkan Al-Qur’an sebagai berikut :

“Dan apabila yang disebut hanya nama Allah, kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat. Namun apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira.” (QS. Az-Zumar : 45)

Anehnya, mereka justru gembira dan merasa senang bilamana diajak untuk menyembah kepada tuhan yang banyak dengan merujuk kepada tradisi yang selama ini berlangsung. Respon ini oleh Al-Qur’an dipandang sebagai bentuk pelecehan, dan hal itu merupakan puncak penyimpangan. Al-Qur’an menggambarkan reaksi alam yang demikian marah atas sikpa mempersekutukan. Langit digambarkan marah dan membelah dirinya karena sikap manusia yang menolak menyembah hanya kepada Allah. Allah menggambarkan hal itu sebagaimana firman-Nya :

“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuhannya dan memohonkan ampunan untuk orang yang ada di bumi. Ingatlah, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Asy-Syura : 5)

Syariat dan Kemuliaan Manusia

Adanya syariat merupakan pemandu tegaknya tauhid, dan hal itu merupakan misi semua Nabi atau utusan Allah, dan reaksi orang musyrik memang berat untuk mengikuti seruan itu. Allah menggambarkan hal itu sebagaimana firman-Nya :

“Dia (Allah) telah mensyariatkan padamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan pada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)” (QS. Asy-Syura : 13)

Allah pun menunjukkan kebesaran-Nya bahwa seluruh penciptaan alam semestinya ini untuk manusia. Bahkan Allah menundukkan dua makhluk, langit dan bumi, yang demikian besar, untuk memfasilitasi manusia dalam mengelola ala mini. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Al-Jatsiyah : 13)

“Allah-lah yang menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, dan agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Jatsiyah : 12)

Al-Quran juga menggambarkan bahwa lautan yang demikian dahsyat dan ganas ini bisa ditundukkan Allah untuk mkepentingan manusia. Allah menundukkan lautan sehingga manusia bisa bebas berlayar dan mengambil keuntungan di lautan itu. Betapa tidak berakhlaqnya manusia ini ketika Allah memberi fasilitas di daratan dan lautan, namun mereka lalai dan menolak untuk berterima kasih dan bersyukur hanya kepada Allah dengan rela dan ikhlas menyembah hanya kepada Allah.

Disinilah kecintaan Allah kepada manusia dengan mengutus seorang nabi atau rasul untuk menjelaskan kepada manusia tentang hakekat pencipta dan pemberi fasilitas di langit dan bumi ini. Kecintaan Allah itu pada hakekanya adalah mengenalkan rambu-rambu dan norma-norma kehidupan agar tidak lepas kendali serta tak menyimpang jauh. Menyimpang jauh inilah yang disebut dengan kebodohan karena tidak bisa membedakan cahaya kebenaran dan tinta hitam kegelapan. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qurān) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qurān) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur`ān itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.”(QS. Asy-Syura : 52)

Mengenal syariat berarti mengenal rambu-rambu dalam mengelola dunia ini. Ketika manusia mengikuti rambu-rambu dan aturan ini, maka martabat manusia semakin tinggi dan agung. Manusia yang berjalan di atas jalan yang lurus inilah hakekat keagungan dan puncak manusia yang bermartabat di hadapan Allah.

Surabaya, 4 Mei 2021

(Sudono Syueb/ed)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *