Oleh Dr. Slamet Muliono Redjosari, Ketua Biro Pendidikan DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Semua nabi dan rasul mengalami ujian terjal ketika menjalankan tugas menegakkan dakwah tauhid. Nabi Muhammad merupakan contoh manusia yang mengalami terpaan ujian yang terus menerus dan berkesinambungan. Beliau menghadapi berbagai pola permusuhan guna membungkam dan menenggelamkan misi dakwahnya dari para penentangnya. Para penentang tidak sekadar menolak ajaran Nabi, tetapi juga menjalankan berbagai strategi sistematis untuk merusak reputasi, melemahkan pengaruh, dan menghentikan perjuangan beliau. Semua itu tidak lain sebagai upaya sistematis untuk membungkam cahaya kebenaran.
Pola Pembusukan
Untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad, orang kafir Quraisy menerapkan sejumlah strategi dan tahapan. Namun ketabahan dan kekokohan hati Nabi seperti tembok beton yang kuat. Oleh karenanya, pola menghadapi dakwah nabi pun berlapis. Di antaranya : Pertama, Stigma Buruk. Senjata pertama merupakan pembunuhan karakter. Nabi dituduh gila, penyihir, pembohong, dan tukang syair. Padahal Nabi dikenal sebagai Al-Amin, orang yang terpercaya. Al-Qur’an merekam: “Begitulah, tidak datang seorang rasul pun sebelum mereka melainkan mereka mengatakan: Dia penyihir atau gila.” (QS. Adz-Dzariyat: 52).
Kedua, Diplomasi Menekan. Ketika stigma gagal, mereka menempuh jalur diplomasi elite. Pembesar Quraisy mendatangi Abu Thalib, paman sekaligus pelindung Nabi, untuk menekan Muhammad agar berhenti berdakwah. Bahkan mereka menawarkan barter licik, yakni “Serahkan Muhammad, kami berikan kepadamu pemuda paling tampan dan kuat dari kami, ‘Imarah bin Walid, sebagai gantinya.” Inilah politik dagang kekuasaan yang mempertukarkan prinsip dengan kepentingan.
Ketiga, Intimidasi. Nabi mengalami intimidasi yang bertubi-tubi. Di antaranya, meletakkan kotoran unta di punggung Nabi ketika sujud, mencekik leher beliau, melakukan kekerasan fisik, hingga merencanakan pembunuhan menjelang hijrah. Dakwah tauhid dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan dan kemapanan elite Quraisy. Sementara Nabi dianggap sebagai ancaman sehingga mengalami intimidasi.
Keempat, Iming-Iming Dunia. Ketika kekerasan gagal, mereka menawarkan dunia berupa harta, tahta, dan wanita. “Jika engkau menginginkan harta, kami kumpulkan harta kami. Jika ingin menjadi raja, kami angkat engkau menjadi raja. Jika menginginkan wanita, kami pilihkan wanita tercantik.” Keteguhan Nabi tergambar dalam riwayat yang masyhur: “Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, aku tidak akan meninggalkannya.” Pesannya jelas, kebenaran tidak boleh diperjualbelikan dengan kenikmatan dunia.
Kelima, Barter Penyembahan. Inilah kompromi teologis. Mereka menawarkan: “Sembahlah tuhan kami selama setahun, dan kami akan menyembah Tuhanmu selama setahun.” Maka turunlah Surat Al-Kafirun yang menegaskan batas keyakinan: Lakum dinukum wa liya din. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Tidak ada tawar-menawar dalam prinsip tauhid.
Keenam, Pemboikotan Total. Ketika berbagai cara gagal, mereka melakukan pemboikotan sosial dan ekonomi terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib di Syi’ib Abi Thalib selama sekitar tiga tahun. Hubungan perdagangan dan perkawinan diputus. Mereka mengalami kelaparan dan penderitaan berat. Pemboikotan gagal mematahkan keteguhan Nabi, tetapi meninggalkan penderitaan mendalam bagi keluarga dan para pendukungnya.
Ketujuh, Penyiksaan dan kekerasan Fisik. Tahap berikutnya adalah pemaksaan keadaan yang membuat Nabi harus meninggalkan tanah kelahirannya. Ancaman pembunuhan dan permusuhan Quraisy mendorong hijrah dari Makkah menuju Madinah. Namun, hijrah justru menjadi titik balik lahirnya kekuatan sosial dan politik umat Islam.
Membungkam Kebenaran
Pada era modern, tujuh pola permusuhan tersebut dapat hadir dengan wajah baru yang lebih halus dan canggih. Pembunuhan karakter berlangsung melalui media sosial, berita manipulatif, propaganda digital, dan penggiringan opini publik. Tekanan elite dapat bekerja melalui pembatasan akses, intimidasi politik, atau penyalahgunaan instrumen hukum. Iming-iming dunia muncul melalui jabatan, proyek, kekayaan, dan fasilitas yang ditawarkan untuk membeli sikap kritis para tokoh agama. Bahkan pemboikotan tidak selalu dilakukan dengan memutus perdagangan, tetapi bisa melalui pengucilan sosial, tekanan ekonomi, dan penutupan ruang komunikasi. Akibatnya, seseorang dapat kehilangan reputasi dan pengaruh bukan karena kesalahannya terbukti, melainkan karena opini publik telah dibentuk untuk menjatuhkannya.
Apa yang terjadi di Sukoharjo, ketika aparat keamanan merangsek masuk pondok putri Hamalatul Qur’an, menjelang dinihari, merupakan contoh kongkret bagaimana para penghafal distigma buruk. Mereka memaksa masuk pondok dengan pakaian seragam lengkap plus senjata laras panjang, dengan memaksa santriwati untuk keluar pondok untuk dimintai keterangan. Para penghafal Qur’an itu dicurigai sebagai pembakar warung mie Babi yang tak jauh dari wilayah pondok.
Anehnya tuduhan itu tidak terbukti. Namun tindakan itu setidaknya menstigma pondok sebagai sarang pelaku kejahatan. Tuduhan buruk terhadap mereka yang mempelajari Islam benar-benar tidak bisa dihentikan, dan hal itu seolah menjadi cetak biru atas proses yang dijalami mereka yang mempelajari Islam di pondok. Itulah ujian sekaligus pembusukan yang dilakukan musuh-musuh dakwah ketika kaum muslimin mempelajari dan mendalami nilai-nilai agama Islam ini.
Sirah Nabi mengajarkan bahwa kebenaran tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus diperjuangkan dengan keteguhan iman, keberanian moral, kesabaran, dan akhlak mulia. Fokus kepada dakwah tauhid, dan tak terpesona pada dunia merupakan kunci keberhasilan nabi. Meskipun diterpa berbagai ujian beliau tetap tegar. Keteguhan memperjuangkan tegaknya tauhid benar-benar efektif. Pembusukan dan pembunuhan karakter nabi tidak menggetarkannya. Godaan duniawi pun tidak merusak reputasinya sebagai manusia al-Amin (terpercaya dan amanah) hingga akhir hayatnya.
Surabaya, 4 November 2026
Admin: Kominfo DDII Jatim
