Oleh Masykur Sarmian, Alumni Ponpes YTP Kertosono
Dewandakwahjatim.com, Kaltim – “Kepastian yang Tidak Bisa Dihindari : Semua Akan Dikumpulkan”
قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
“Katakanlah, sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian,”
—QS. Al-Wāqi’ah : 49
Penjelasan Tematik
Setelah manusia mempertanyakan, “Apakah kami akan dibangkitkan ? Apakah nenek moyang kami yang terdahulu juga akan dibangkitkan ?”, Allah tidak memberikan jawaban yang berputar-putar. Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengatakan :
قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
“Katakanlah, sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian.”
Ayat ini memang belum menyelesaikan kalimatnya, karena jawabannya berlanjut pada ayat berikutnya. Namun justru di sinilah kekuatan susunan Al-Qur’an. Allah terlebih dahulu menyebut seluruh rentang manusia : al-awwalīn wal-ākhirīn, generasi pertama hingga generasi terakhir. Tidak ada manusia yang berada di luar jangkauan kebangkitan.
Ayat ini sekaligus meruntuhkan dua ilusi. Ilusi pertama adalah bahwa manusia yang hidup sekarang berbeda dari manusia terdahulu dalam hal pertanggungjawaban. Ilusi kedua adalah bahwa kematian membuat seseorang hilang dari hadapan Allah. Tidak. Mereka yang telah berlalu dan mereka yang masih akan datang semuanya berada dalam satu rangkaian kehidupan yang menuju kepada pertemuan dengan Allah.
Bayangkan seluruh sejarah manusia: generasi yang telah lama terkubur, para raja yang pernah menguasai dunia, para ilmuwan yang mengubah pengetahuan manusia, para pedagang yang membangun kekayaan, para pemimpin yang pernah dielu-elukan, orang-orang biasa yang hidup tanpa pernah dikenal sejarah, dan generasi yang bahkan belum lahir. Semua akan bertemu pada satu titik yang sama: hadapan Allah.
Dalam perspektif psikologi modern, manusia sering mengalami temporal discounting, yaitu kecenderungan menilai sesuatu yang terjadi jauh di masa depan sebagai kurang penting dibandingkan sesuatu yang bisa dinikmati sekarang. Karena akhirat terasa jauh, manusia mudah mengorbankan keselamatan jangka panjang demi kepuasan sesaat. Ia tahu bahwa kematian pasti datang, tetapi karena tidak tahu kapan, ia bertindak seolah-olah masih memiliki waktu yang tidak terbatas.
Ayat ini menghancurkan ilusi tersebut dengan memperluas perspektif waktu. Allah tidak berbicara hanya kepada satu generasi. Allah berbicara kepada seluruh manusia sepanjang sejarah. Al-awwalīn wal-ākhirīn. Yang dahulu dan yang kemudian.
Kesadaran seperti ini sangat penting dalam pembentukan karakter. Orang yang hanya hidup untuk hari ini akan mudah mengambil keputusan yang menguntungkan dirinya sendiri. Tetapi orang yang sadar bahwa hidupnya merupakan bagian dari rangkaian sejarah dan bahwa seluruh generasi akan dikumpulkan di hadapan Allah akan lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan.
Allah berfirman :
وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
“Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat seorang diri.”
(QS. Maryam : 95)
Perhatikan kontrasnya. Di dunia manusia hidup dalam kelompok : keluarga, organisasi, partai, bangsa, komunitas, dan berbagai identitas sosial. Tetapi di hadapan Allah, identitas kolektif itu tidak dapat menjadi tempat berlindung. Setiap orang datang sebagai individu.
Dalam psikologi sosial terdapat konsep diffusion of responsibility, yaitu kecenderungan seseorang merasa tanggung jawab pribadinya berkurang ketika berada dalam kelompok. “Semua orang juga melakukannya.” “Saya hanya mengikuti perintah.” “Saya hanya bagian kecil.” Kalimat-kalimat semacam itu sering digunakan untuk mengurangi rasa tanggung jawab pribadi.
Al-Qur’an membongkar mekanisme tersebut. Pada akhirnya, manusia akan datang فَرْدًا, seorang diri. Tidak ada kelompok yang dapat mengambil alih seluruh tanggung jawab moral seseorang.
Saat pertanggung jawaban tidak ada gunanya institusi, organisasi, korps, kelompok, komunitas, jama’ah, group, keluarga dan lain- lain, ketika itu benar-benar datang hanya seorang diri.
Allah berfirman :
وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ
“Dan tahanlah mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya.”
(QS. Aṣ-Ṣāffāt : 24)
Pertanggung jawaban adalah kepastian. Yang berbeda hanyalah apa yang akan dipertanggungjawabkan dan bagaimana hasil akhirnya.
Karena itu, ayat ini mengajarkan satu prinsip penting : jangan hidup hanya berdasarkan apa yang dilakukan mayoritas. Mayoritas tidak selalu menjadi ukuran kebenaran. Kelompok tidak dapat menggantikan pertanggungjawaban pribadi.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ اربع عن عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.”
(HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini memberikan gambaran konkret tentang personal accountability. Umur, ilmu, harta, dan tubuh bukan sekadar fasilitas kehidupan, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman :
يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ
“Pada hari ketika Kami memanggil setiap manusia dengan pemimpinnya.”
(QS. Al-Isrā’ : 71)
Ayat ini memperlihatkan bahwa sejarah manusia akan dikumpulkan dalam sebuah peristiwa yang sangat besar. Tidak ada generasi yang hilang dari pengetahuan Allah.
Allah juga berfirman :
إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا لَّقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Sungguh, Dia telah menghitung mereka dan menghitung mereka dengan perhitungan yang teliti. Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat seorang diri.”
(QS. Maryam : 93–95)
Gambaran ini sangat kuat: Allah mengenal manusia bukan secara massal, tetapi secara individual.
Pelajaran Kehidupan
Ayat ini mengajarkan kita untuk membangun kesadaran personal accountability. Jangan menunggu orang lain berubah untuk memperbaiki diri. Jangan menunggu lingkungan menjadi baik untuk mulai menjadi baik.
Kita boleh bekerja bersama, membangun organisasi, membangun masyarakat, dan memperjuangkan kebaikan secara kolektif. Tetapi jangan pernah menyerahkan tanggung jawab moral pribadi kepada kelompok.
Pada akhirnya, saya akan berdiri di hadapan Allah dengan amal saya. Pun anda juga akan berdiri dengan amal Anda.
Ketika itu, setiap manusia akan membawa apa yang telah ia kerjakan.
Renungan Peradaban
Peradaban yang sehat membutuhkan dua hal sekaligus : tanggung jawab kolektif dan tanggung jawab individual. Jika hanya ada tanggung jawab kolektif, orang mudah bersembunyi di balik sistem. Jika hanya ada tanggung jawab individual tanpa kepedulian sosial, masyarakat menjadi individualistik.
Islam membangun keseimbangan. Kita diperintahkan memperbaiki masyarakat, tetapi kita juga diperintahkan memperbaiki diri.
Seorang pemimpin bertanggung jawab atas amanahnya. Seorang guru atas ilmunya. Seorang pengusaha atas hartanya. Orang tua atas keluarganya. Dan setiap manusia atas pilihan hidupnya.
Inilah kekuatan kalimat إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
Tidak ada generasi yang bebas dari pertanggung jawaban.
Tidak pula ada zaman yang dikecualikan.
Demikian halnya tidak ada manusia yang terlalu kecil untuk diperhitungkan.
Dan akhirnya tidak ada manusia yang bisa berjalan “lenggang-lenggang kangkung” ( terbebas ) untuk dimintai pertanggung jawaban, tak peduli berapa pun bintang yang nempel di pundaknya.
Wallāhu A’lam
Bersambung…
Admim: Kominfo DDII Jatim
