Bukan Hanya Kami, Tetapi Nenek Moyang Kami : Warisan Keyakinan yang Tidak Diuji
Oleh Masykur Sarmian, Alumni Ponoes YTP Kertosino
*أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ*
“Dan apakah nenek moyang kami yang terdahulu juga akan dibangkitkan ?”
—QS. Al-Wāqi’ah : 48
Penjelasan Tematik
Setelah pada ayat sebelumnya mereka mempertanyakan bagaimana manusia yang telah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang dapat dibangkitkan, kini pertanyaan mereka bergerak kepada sesuatu yang lebih dalam : أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ “Dan apakah nenek moyang kami yang terdahulu juga akan dibangkitkan ?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa mereka bukan hanya menolak kebangkitan karena persoalan logika, tetapi juga menggunakan tradisi leluhur sebagai dasar pembenaran. Seakan-akan mereka berkata : jika orang-orang yang telah mati sejak generasi terdahulu juga akan dibangkitkan, bagaimana mungkin ? Bukankah mereka sudah lama hilang ?
Di sini Al-Qur’an sedang membongkar satu pola berpikir manusia yang sangat tua : menganggap sesuatu benar hanya karena telah dilakukan oleh generasi sebelumnya. Padahal usia sebuah keyakinan tidak otomatis menjadi bukti kebenarannya. Sesuatu yang diwariskan selama ratusan tahun tetap harus diuji dengan kebenaran. Sebaliknya, sesuatu yang baru tidak otomatis salah hanya karena belum dikenal oleh nenek moyang.
Allah mengabadikan pola argumentasi serupa dalam banyak ayat :
إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّهْتَدُونَ
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak mereka.”
(QS. Az-Zukhruf : 22)
Ayat ini memperlihatkan bagaimana tradisi dapat berubah menjadi otoritas yang tidak lagi dipertanyakan. Mereka tidak mengatakan, “Ini benar karena dalilnya kuat,” tetapi “Ini benar karena nenek moyang kami melakukannya.”
Dalam psikologi sosial dikenal konsep authority bias, yaitu kecenderungan seseorang memberikan bobot yang terlalu besar kepada pendapat seseorang atau kelompok yang dianggap memiliki otoritas. Dalam konteks budaya, hal ini dapat berkembang menjadi tradition bias : kecenderungan menganggap sesuatu lebih benar hanya karena sudah lama dilakukan.
Tradisi tentu tidak selalu salah. Bahkan Islam sangat menghargai warisan ilmu dan pengalaman generasi sebelumnya. Tetapi Al-Qur’an mengajarkan bahwa tradisi harus tunduk kepada kebenaran, bukan kebenaran yang dipaksa tunduk kepada tradisi.
Allah berfirman :
*فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَىٰ*
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat.”
(QS. Al-A’lā : 9)
Peringatan memiliki fungsi penting: membangunkan manusia dari pola hidup yang berjalan otomatis. Ketika seseorang hanya mengikuti apa yang dilakukan lingkungan tanpa pernah melakukan refleksi, ia kehilangan kemampuan untuk mengevaluasi arah hidupnya.
Dalam psikologi modern, kondisi seperti ini dapat dikaitkan dengan automaticity, yaitu perilaku yang dilakukan secara otomatis karena telah menjadi pola yang sangat familiar. Manusia dapat menjalani keyakinan, kebiasaan, bahkan cara berpikir tertentu tanpa pernah bertanya mengapa ia mempercayainya.
Di sinilah Al-Qur’an mengajak manusia keluar dari kehidupan otomatis menuju kesadaran. Iman bukan sekadar warisan keluarga. Ia harus menjadi pilihan sadar yang lahir dari ilmu, perenungan, dan ketundukan kepada Allah.
Allah berfirman :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
(QS. Al-Isrā’ : 36)
Ayat ini merupakan prinsip epistemologis yang sangat kuat. Jangan mengikuti sesuatu hanya karena orang lain mengikutinya. Jangan menyebarkan sesuatu hanya karena orang lain menyebarkannya. Jangan meyakini sesuatu hanya karena lingkungan menganggapnya benar.
Namun ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Jika manusia tidak boleh menerima keyakinan hanya karena tradisi, maka ia juga tidak boleh menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu berbeda dari tradisi. Kebenaran tetap harus dinilai berdasarkan dalil dan petunjuk Allah.
Dalam konteks ayat ini, pertanyaan tentang nenek moyang mereka sebenarnya memperlihatkan status quo bias, yaitu kecenderungan manusia mempertahankan keadaan yang sudah dikenal karena perubahan terasa mengancam. Jika kebangkitan benar, maka cara hidup mereka harus berubah. Mereka harus mengakui adanya pertanggung jawaban. Dan bagi manusia yang sudah nyaman dengan kemewahan serta dosa, perubahan itu akan terasa berat dan menyiksa.
Karena itu, terkadang manusia menolak kebenaran bukan karena tidak mampu memahaminya, tetapi karena kebenaran menuntut perubahan.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
“Barang siapa membuat suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahala sunnah tersebut dan pahala orang yang mengamalkannya setelah itu.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan manusia terjebak dalam kebiasaan lama. Tradisi yang baik dapat dipertahankan, tetapi kebaikan juga dapat dikembangkan ketika manusia menemukan jalan yang lebih bermanfaat dan sesuai dengan syariat.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman :
قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Mereka berkata, ‘Tidak! Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap mengikuti mereka walaupun nenek moyang mereka tidak memahami sesuatu dan tidak mendapat petunjuk ?”
(QS. Al-Baqarah : 170)
Ayat ini sangat jelas: mengikuti generasi terdahulu tidak salah selama yang diikuti adalah petunjuk. Yang dikritik adalah taqlid buta terhadap sesuatu yang tidak benar.
Allah juga berfirman :
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Katakanlah, ‘Kemukakanlah bukti kalian jika kalian orang-orang yang benar.'”
(QS. Al-Baqarah : 111)
Dengan demikian, Al-Qur’an membangun budaya burhān, budaya argumentasi dan pembuktian, bukan sekadar budaya ikut-ikutan.
Pelajaran Kehidupan
Ada tradisi yang harus kita jaga karena merupakan kebaikan. Ada pula kebiasaan yang harus kita tinggalkan meskipun sudah berlangsung lama. Ukurannya bukan “sudah berapa lama dilakukan”, tetapi “apakah Allah meridhainya ?”
Begitu pula dalam kehidupan pribadi. Jangan berkata, “Saya memang dari dulu seperti ini.” Kalimat itu sering menjadi cara halus untuk menolak perubahan. Manusia bukan benda mati. Ia memiliki kemampuan belajar, bertobat, dan bertumbuh.
Jangan biarkan masa lalu menjadi penjara bagi masa depan.
Jika sebuah kebiasaan salah, ubahlah. Jika sebuah pemikiran keliru, koreksilah. Jika selama ini kita jauh dari Al-Qur’an, jangan menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk tetap jauh.
Renungan Peradaban
Sebuah bangsa tidak akan pernah berkembang jika seluruh energinya hanya digunakan untuk mempertahankan masa lalu. Warisan sejarah memang penting, tetapi ada yang lebih penting bahwa semestinya peradaban dibangun oleh manusia yang mampu menghormati masa lalu tanpa diperbudak masa lalu tersebut.
Peradaban Qur’ani bukan peradaban yang anti-tradisi. Ia adalah peradaban yang menempatkan tradisi di bawah cahaya wahyu. Yang benar dipertahankan, yang salah diperbaiki, dan yang belum ada tetapi membawa maslahat dikembangkan.
Karena itu, pertanyaan أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ seharusnya menjadi cermin bagi kita : apakah kita menerima sesuatu karena memang benar, atau karena kita sudah terbiasa menganggapnya benar ?
Sebab ada perbedaan besar antara menghormati warisan dan menyembah warisan. Yang pertama melahirkan kebijaksanaan dan yang kedua dapat mematikan kemampuan berpikir.
Dan Al-Qur’an datang bukan untuk mematikan akal manusia, tetapi untuk membangunkan akal agar tunduk kepada kebenaran.
Wallāhu A’lam
Bersambung…
