Kepemimpinan Politik: Antara Kemuliaan dan Kehinaan

Oleh Dr. Slamet Muliono Redjosari, Ketua Biro Pendidikan DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – – Kepemimpinan politik merupakan karunia agung sekaligus batu ujian terbesar bagi komunitas-bangsa untuk terangkat derajatnya atau terhina serendah-rendahnya.sejarah kaum Nabi Hud ( ‘Ad) memiliki karunia besar berupa tubuh yang tinggi, besar, dan kuat sehingga berperadaban tinggi namun dibinasakan karena kejahatan sosialnya.

Sementara kaum Nabi Shalih (Tsamud) memiliki kelebihan dalam membuat bangunan-bangunan besar hingga mampu memahat gunung-gunungnya menjadi rumah dan istana megah. Namun karunia besar justru melupakan diri mereka terhadap Sang Pemberi karunia. Mereka terlibat kejahatan dan kemaksiatan besar yang membuatnya terhina dan dihancurkan oleh Allah.

Kaum Nabi Hud (‘Ad)

Sebagaimana perputaran sejarah peradaban, kepemimpinan merupakan ujian terbesar manusia. Betapa tidak, dengan kepemimpinan, menjadikan komunitas terangkat derajatnya karena melekat di dalamnya berupa fasilitas dan berbagai kenikmatan. Namun seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih menciptakan keadilan dan kesejahteraan, kepemimpinan politik justru membuat lengah hingga menciptakan berbagai perilaku merusak sehingga tak lama berselang, kehancuran dan kebinasaan pun mereka rasakan. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ ۗ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِ ۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌࣖ
Artinya :
Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu beberapa derajat atas sebagian (yang lain) untuk menguji kamu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-An’am : 165)

Kaum Nabi Hud (‘Ad) merupakan contoh paling jelas sebagai komunitas-bangsa yang mendapatkan karunia agung. Mereka mendapatkan anugerah agung berupa fisik yang tinggi, besar, dan kuat, serta kemakmuran ekonomi. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

اَوَعَجِبْتُمْ اَنْ جَاۤءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ ۗ وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّزَادَكُمْ فِى الْخَلْقِ بَصْۣطَةً ۚ فَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝٦٩
Artinya :
Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa telah datang kepadamu tuntunan dari Tuhanmu atas seorang laki-laki dari golonganmu supaya dia memberi peringatan kepadamu? Ingatlah, ketika Dia (Allah) menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum Nuh, dan melebihkan kamu dalam penciptaan (berupa) tubuh yang tinggi, besar, dan kuat. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raaf : 69)

Dengan fisik dan kemakmuran ekonomi, mereka mampu membuat bangunan megah dan tinggi. Mereka hidup di wilayah subur dengan kekayaan alam, kebun, mata air, dan ternak melimpah. Keunggulan fisik, kemajuan peradaban, dan kekuatan politik membuat mereka merasa tidak terkalahkan. Muncul sikap angkuh dan sombong hingga menjadikan mereka mengingkari nikmat Allah, menyembah berhala, merendahkan Nabi Hud, dan menolak ajakan bertauhid. Mereka pun berakhir terhina dan mengalami kebinasaan dan hilang ditelan sejarah.

Allah menghukum kaum ‘Ad dengan angin topan yang sangat dingin, dahsyat, dan membinasakan selama tujuh malam delapan hari berturut-turut. Angin tersebut menerjang dan menghempaskan tubuh mereka hingga bergelimpangan seperti batang pohon kurma yang telah lapuk dan tumbang.

Kaum Nabi Shalih (Tsamud)

Kaum Nabi Shalih mendapatkan karunia lebih agung lagi. Mereka memiliki fisik yang besar dan kuat, sehingga bisa membuat bangunan tinggi dan megah. Bahkan mereka mampu memahat gunung-gunung untuk dijadikan rumah. Kemewahan itu justru tertanam kesombongan dan keangkuhan hingga melakukakn kejahatan dan kerusakan di bumi. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ عَادٍ وَّبَوَّاَكُمْ فِى الْاَرْضِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْ سُهُوْلِهَا قُصُوْرًا وَّتَنْحِتُوْنَ الْجِبَالَ بُيُوْتًا ۚ فَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ ۝٧٤
Artinya :
Ingatlah ketika (Allah) menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu membuat pada dataran rendahnya bangunan-bangunan besar dan kamu pahat gunung-gunungnya menjadi rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan. (QS. Al-A’raaf : 74)

Sebagai komunitas-bangsa yang dianugerahi Allah kekuatan fisik, kecerdasan, juga memiliki kemakmuran ekonomi, keterampilan arsitektur. Mereka menguasai teknologi pembangunan, memiliki kebun subur, mata air melimpah, serta lahan pertanian produktif. Keunggulan peradaban dan kekayaan tersebut bukan merendahkan dirinya tetapi justru menganggap dirinya tidak terkalahkan. Mereka menolak dakwah Nabi Shalih, bahkan menantangnya dengan meminta mukjizat berupa unta betina.

Namun, setelah Allah menghadirkan mukjizat tersebut, mereka justru membunuh unta itu sebagai bentuk pembangkangan.

Akibat kesombongan, kemewahan, dan kedurhakaan tersebut, Allah membinasakan kaum Tsamud dengan suara mengguntur dan gempa dahsyat, sehingga seluruh kehebatan peradaban mereka tidak mampu menyelamatkannya.

Dalam kehidupan modern banyak didapati bangsa dengan kekayaan sumber daya alam, tetapi sebagian rakyatnya justru hidup dalam kemiskinan. Ironisnya, kekayaan alam yang seharusnya menyejahterakan masyarakat justru dikuasai segelintir elite yang menyalahgunakan kekuasaan. Mereka bersinergi melakukan korupsi, dan merampas hak rakyat. Mereka membangun kemegahan di tengah penderitaan masyarakat serta menjadikan kekuasaan sebagai sarana memperkaya diri.

Kehancuran suatu bangsa bukan semata akibat keterbatasan sumber daya, melainkan juga karena keserakahan, kezaliman, dan kerusakan moral para pemimpinnya. Kisah ‘Ad dan Tsamud mengingatkan bahwa kemakmuran tanpa keadilan hanya melahirkan kesenjangan, sedangkan kekuasaan tanpa amanah dapat mengantarkan bangsa menuju kehancuran sosial dan peradaban yang berkepanjangan.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *