Mendambakan Pemimpin Muda Amanah

Oleh Slamet Muliono Redjosari, Ketua Biro Pendidikan Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Pemimpin muda amanah merupakan kunci terciptanya keadilan dan kesejahteraan
sosial. Nabi Yusuf merupakan contoh sekaligus teladan pemimpin muda amanah sehingga
kesejahteraan sosial terlahir. Sebelum diangkat jadi Nabi, Yusuf dikenal sebagai
Pemuda yang amanah dan memiliki track record pemuda yang menempel moralitas yang layak dicontoh.

Ketika dia ditunjuk sebagai pemimpin, maka kemakmuran pun tercipta hingga negara
mengalami surplus, dan mampu membantu warga negara lain. Berbeda dengan pemimpin
yang hidupnya berorientasi memperkaya diri dan lupa terhadap tugas kenegaraan yang seharusnya. Tak sebagaimana yang dikampanyekan, pemimpin yang berorientasi
memperkaya diri telah melupakan janji-janjinya. Alih-alih mewujudkannya, mereka justru menginjak-injak janjinya.

Rindu Pemimpin Amanah

Kisah Nabi Yusuf merupakan sejarah fenomenal bagi suatu negara yang ingin
mewujudkan impian yang rakyatnya sejahtera. Betapa tidak, kontribusi kepemimpinanny diabadikan Al-Qur’an. Kisah heroik kepemimpinannya berawal dari keberhasilannya dalam menafsirkan mimpi raja yang sulit dijelaskan deskripsi dan maknanya. Namun Nabi Yusuf yang
muda itu berhasil menafsirkan mimpi “tujuh ekor sapi gemuk-gemuk dimakan habis oleh tujuh ekor sapi yang kurus-kurus.

Atas mimpi itu, Nabi Yusuf menafsirkannya, dan diterjemahkan dalam tafsir politik yang bisa diterima raja. Atas petunjuk Allah sehingga melahirkan kejeniusan dalam
mengejahwantakan mimpi itu, maka Nabi Yusuf berhasil memberi solusi bagi problem
kenegaraan yang cukup pelik. Tafsir atas mimpi raja itu diabadikan sebagaimana firman-Nya:
قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًاۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلاَّ قَلِيْلاً مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ ۝٤٧
Artinya :
“Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS. Yusuf : 47)

Saran Nabi Yusuf menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah kesempatan untuk
menikmati kekayaan negara, melainkan amanah untuk menjamin keselamatan dan
kesejahteraan rakyat. Hasil pertanian yang melimpah tidak dihabiskan untuk kemewahan
penguasa dan kelompoknya, tetapi dikelola secara cermat untuk menghadapi masa sulit.

Di sinilah tampak kecerdasan seorang pemimpin muda yang mampu mengendalikan
keserakahan, berpikir jauh ke depan, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Kekayaan negara dipandang sebagai titipan yang harus dijaga, bukan sebagai harta rampasan yang bebas diperebutkan.

Spirit kepemimpinan inilah yang seharusnya menjiwai cita-cita keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Negara yang memiliki sumber daya alam melimpah semestinya mampu menghadirkan kemakmuran yang merata. Namun cita-cita luhur itu kehilangan
maknanya apabila kekayaan nasional justru terkonsentrasi di tangan segelintir elite,
sementara sebagian rakyat masih bergulat dengan kemiskinan dan keterbatasan hidup.

Itulah ironi manusia yang berkuasa dan tak visioner, dimana kekuasaan yang
semestinya menjadi instrumen pelayanan justru berubah menjadi ladang perburuan
kekayaan. Demokrasi yang menjanjikan kedaulatan rakyat dibajak menjadi alat transaksi kekuasaan. Pemilihan umum diperebutkan dengan biaya besar, jabatan dibagi-bagi sebagai imbalan politik, dan kebijakan negara diarahkan untuk melayani kepentingan pemodal serta
kelompok yang merasa berjasa dalam memenangkan dan merebut kekuasaan. Rakyat hanya diperlukan ketika suara mereka diperebutkan, tetapi seringkali ditinggalkan ketika kekuasaan
telah digenggam.

Pesta Pora Kejahatan

Lebih memprihatinkan apabila proyek-proyek strategis nasional yang seharusnya
mendorong pembangunan dan kesejahteraan umum justru dimanfaatkan sebagai pintu
masuk perburuan rente. Proyek yang mengatasnamakan kepentingan umum dapat menjadi sumber masalah ketika proses pengadaan, pemberian konsesi, penguasaan lahan, dan penggunaan anggarannya tidak transparan.

Keuntungan mengalir kepada kelompok tertentu, sedangkan rakyat menanggung
kerusakan lingkungan, kehilangan ruang hidup, atau beban pembangunan yang tidak mereka
nikmati. Dalam keadaan demikian, pembangunan tidak lagi menjadi jalan menuju keadilan sosial, melainkan berpotensi menjadi sarana pemindahan kekayaan publik ke tangan
segelintir orang.

Kerusakan semakin kronis ketika penyalahgunaan kekuasaan berlangsung dengan
perlindungan “antarelite”. Mereka yang seharusnya saling mengawasi justru saling
menyelamatkan. Pelanggaran ditutupi, perkara dapat dipolitisasi, dan kepentingan kelompok
ditempatkan di atas kewajiban menegakkan hukum. Pengadilan, kepolisian, dan bahkan
institusi pertahanan akan kehilangan kehormatannya apabila kewenangan yang dipercayakan negara diperalat untuk melindungi kepentingan pribadi atau partai. Hukum akhirnya berisiko
menjadi tajam terhadap rakyat lemah, tetapi tumpul ketika berhadapan dengan mereka yang memiliki uang dan kekuasaan.

Apabila keadaan demikian dibiarkan, lembaga negara yang seharusnya mewujudkan
kesejahteraan sosial dapat berubah menjadi jaringan kepentingan yang menyerupai praktik
mafia. Jabatan dijadikan alat tawar-menawar, anggaran diperlakukan sebagai sumber keuntungan, dan pelayanan publik kehilangan orientasi moralnya. Negara seakan dikuasai
oleh mentalitas bandit yang melihat kekayaan nasional sebagai barang rampasan. Mereka berbicara tentang nasionalisme dan pengabdian, tetapi tindakannya justru bertentangan dengan kepentingan bangsa.

Bangsa ini tidak kekurangan sumber daya alam, tetapi membutuhkan pemimpin muda
yang mampu mengendalikan keserakahan. Pemimpin relatif memiliki mimpi besar dan tak memiliki beban Sejarah yang buruk. Kehancuran negara bukan semata-mata disebabkan oleh kemiskinan, melainkan oleh pengkhianatan terhadap amanah kekuasaan. Negara sekaya apapun, ketika pemimpinnya khianat. Ketika khianat menjadi kendali, maka kekayaan sebesar apa pun akan terkonsentrasi pada sekelompok yang sama-sama khianat.

Kita mendambakan sosok pemimpin muda yang terinspirasi oleh Nabi Yusuf, dimana
memiliki moralitas yang memadai dan visi mensejahterakan rakyatnya. Kekayaan yang melimpah, yang dikendalikan pemimpin muda amanah bisa mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial. Surabaya, 29 Oktober 2026

Admin; Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *