Oleh Djuwari Syaifuddin, Ketua Biro Pemberdayaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kita sering mendengar kata indah untuk memberikan semangat, cak kalau ibadah itu yang Istiqomah gitu loo, kalau kerja itu yang Istiqomah biar tahu hasilnya, bila shodaqoh itu sedikit tapi Istiqomah dan lain sebagainya. Kalau orang yang plin-plan, tidak punya arah, bosanan jelas tidak mampu istiqomah, Istiqomah merupan motivasi yang mampu mengangkat semangat seorang menjadi yang terbaik.
Nah kalau begitu Istiqomah itu apa, Istiqomah adalah sikap teguh pendirian dan konsisten dalam menjalankan ketaatan, prinsip kebaikan, serta berada di jalan yang benar tanpa kenal lelah atau menyimpang.
Teguh pendirian yang kuat dijalankan terus menerus dengan tujuan tercapainya maksud dan harapan atas dasar pendirian kuat.
Pendirian kuat adalah sikap batin yang teguh, konsisten, dan tidak mudah goyah dalam memegang prinsip, keyakinan, atau keputusan.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
…يَاأَيُّهَا النَّاسُ، خُذُوْا مِنَ الْأَعْمَالِ مَاتُطِيْقُوْنَ، فَإِنَّ اللهَ لَايَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوْا، وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَادَامَ وَإِنْ قَلَّ
Wahai sekalian manusia. Kerjakanlah amalan-amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allâh tidak bosan sampai kalian bosan. Dan sungguh, amalan yang paling dicintai oleh Allâh yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit . HR al-Bukhari (no. 5861) dan Muslim (no. 782 (215)), dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha .
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
سَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَاعْلَمُوْا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Tetaplah dalam kebenaran dan bayangkanlah yang lurus. Ketahuilah, bahwasanya amalan seseorang tidak dapat dimasukkan ke dalam surga. Dan bahwasanya amalan yang paling dicintai oleh Allâh yaitu yang dikerjakan secara Istiqomah terus-menerus walaupun sedikit . HR al-Bukhari (no. 6464) dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
أ حَبّ ُ الْأَعْمَالِ إِلَى الله أَدْوَمُهَا وَ إِنْقَلَّ.
Amalan yang paling dicintai oleh Allâh yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit. Shahih : HR. Ahmad (VI/165), Muslim (no. 783 (218)), dan al-Qudha’iy dalam Musnad asy-Syihab ( no. 1303) dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha.
Istiqomah mendawamkan kebenaran dan kebaikan agama.
Istiqomah dalam mendawamkan (membiasakan/melakukan secara terus-menerus) kebaikan adalah sikap teguh pendirian, konsisten, dan berkesinambungan dalam menjalankan ketaatan serta amal saleh, meskipun amalan tersebut sedikit.
Sehingga, Istiqomah dalam amal kebaikan merupakan kunci utama untuk meraih keberkahan hidup dan ridha Allah. Dalam Islam, istiqomah berarti teguh dan konsisten dalam menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya.
Istiqomah akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan.
Menjaga keistiqomahan dalam berbuat kebaikan bukanlah hal yang mudah. Berbagai tantangan akan muncul; godaan duniawi, rasa malas, dan pengaruh lingkungan yang kurang mendukung. Karenanya, perlu tekad yang kuat serta dukungan dari lingkungan yang positif. Untuk menjaga keistiqomahan diperlukan niat yang tulus, memahami tujuan amal kebaikan, dan mengingat pahala yang telah Allah janjikan. Tidak semua kebiasaan disebut istiqamah.
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, tidak (pula) bersedih hati. QS. Al-Ahqaf: 13
Ada istiqamah dalam bertauhid dan menjaga kemurnian tauhid.
Jenis yang paling mendasar dari istiqamah adalah tsabatul qalb—teguhnya hati dalam memegang iman. Dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Muslim, Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,
تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَىُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَالآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ
“Aku mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Fitnah akan disodorkan ke hati seperti tikar dianyam seutas demi seutas. Hati yang menyerapnya akan ditandai dengan titik hitam, sedangkan hati yang menolaknya akan dicap dengan titik putih. Hingga jadilah hati manusia dua macam: yang satu putih bersih seperti batu yang halus, tak akan terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada; yang lain hitam kelam seperti bejana terbalik, tak bisa mengenali kebaikan dan tak bisa mengingkari kemungkaran, kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.” (HR. Muslim)
Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, dia berkata; Aku berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepada saya suatu ucapan di dalam Islam yang tidak akan saya tanyakan kepada seorang pun sesudah anda.” Sedangkan dalam penuturan Abu Usamah dengan ungkapan, “orang selain anda”, maka beliau menjawab, “Katakanlah; Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, lihat Syarh Nawawi 2. h. 91-92)
Allah ta’ala berfirman, dalam Surat Fussilat 30.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah akan turun kepada mereka para malaikat seraya mengatakan; Janganlah kalian takut dan jangan sedih, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.” (QS. Fusshilat : 30).
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas -QS. Fusshilat : 30- adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya lalu istiqomah dan tidak berpaling dari tauhid. Mereka konsisten dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sampai akhirnya mereka meninggal dalam keadaan itu (lihat Syarh Nawawi 2/92).
Istiqamah Itu Cerminan Konsistensi.
Orang yang plin-plan, mudah berubah arah, dan tak punya pendirian, tak akan sanggup istiqamah. Maka wajar bila para sahabat sangat ingin mengetahui cara agar bisa istiqamah.
istiqamah dlm menjalan perintah allah dan menjauhi semua larangannya
Seseorang yang telah menyatakan keimanannya, kemudian ia teguh dengan keimanannya itu dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya berarti dia adalah orang yang Istiqomah. Seseorang yang telah mengikat janji, akan begini dan begitu, lalu ia konsisten dan konsekuen dengan janjinya itu, tidak mau mengingkarinya sedikitpun, berarti orang itu istiqomah. Seorang pejabat yang telah mengambil sumpahnya untuk mengabdi demi bangsa dan negara, tidak akan mengingkari jabatannya itu Istiqomah.
Istiqamah adalah terus melangkah di jalan hidayah dan Islam, tetap konsisten menjalani tuntunan syariat, dan terus-menerus berbuat kebaikan tanpa henti. Seorang Muslim yang istiqamah akan selalu berusaha menambah bekal amalnya dari waktu ke waktu. Walaupun kadang semangatnya menurun, atau sesekali ia lalai dalam ketaatan, namun ada batas minimal dalam keimanannya yang tak akan pernah ia relakan untuk dikompromikan.
Kalaupun ia terjatuh, ia segera bangkit dan bertobat. Bahkan, bisa jadi keadaannya setelah tobat jauh lebih baik daripada sebelum tergelincir. Inilah ciri orang yang memiliki sifat tsabat—teguh dalam keimanan.
Admin: Kominfo DDII Jatim
