Oleh Sudono Syueb, alumni Ponpes Ar-Roudlotul llmiyah (YTP), Kertosono
Dewandakwahjatim.com, Sodoarjo – KH. Salim Achjar merupakan seorang ulama transformatif dan tokoh pendidikan yang meletakkan batu pertama modernisasi pesantren di wilayah Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Kiprahnya melampaui sekat-sekat zamannya, menjadikannya potret “Kiai Modernis” yang memadukan tradisi klasik dengan semangat zaman baru.
Sanad Keilmuan yang Kokoh
Darah keilmuan KH. Salim Achjar berakar kuat pada tradisi luhur pesantren Nusantara. Beliau merupakan salah satu murid (santri) langsung dari mahaguru para ulama Jawa, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Dari sang guru, Kiai Salim tidak hanya menyerap kedalaman ilmu syariat dan metodologi pembacaan teks klasik (kitab kuning), tetapi juga mewarisi semangat nasionalisme dan keteguhan dalam membela agama serta bangsa.
Hubungan ideologis ini membentuk karakter Kiai Salim sebagai sosok yang berwibawa, berwawasan luas, dan dihormati oleh masyarakat.
Mendirikan Yayasan Taman Pengetahuan (YTP)
Pasca-kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1949, KH. Salim Achjar memulai langkah monumental dalam hidupnya. Di atas sebidang tanah wakaf dari Hj. Siti Marijam di Kertosono, Nganjuk, beliau mendirikan sebuah lembaga pendidikan islam yang diberi nama Pesantren Ar-Raudlatul Ilmiyah. Tempat ini juga populer di kalangan masyarakat dengan nama Yayasan Taman Pengetahuan (YTP).
Nama Ar-Raudlatul Ilmiyah yang berarti “Taman Keilmuan” mencerminkan visi besar Kiai Salim. Beliau tidak ingin pesantren sekadar menjadi tempat mengaji secara pasif, melainkan sebuah oase subur tempat ilmu pengetahuan tumbuh merata, membentuk karakter santri yang cerdas secara spiritual sekaligus intelektual.
Sang Kiai Modernis yang Melompati Zaman
Meskipun dibesarkan dalam tradisi Nahdlatul Ulama yang kental, KH. Salim Achjar memiliki pandangan yang sangat terbuka terhadap perubahan zaman. Beliau tercatat sebagai salah satu kiai yang berani membawa gagasan pembaruan (reformed) ke dalam institusi pesantren tradisi.
Di bawah kepemimpinannya dari tahun 1949 hingga 1974, kurikulum pesantren diramu sedemikian rupa. Di satu sisi, beliau tetap memperdalam pengajaran teks-teks Arab klasik (kitab kuning) untuk menjaga tradisi keilmuan islam yang autentik. Namun di sisi lain, beliau membuka ruang yang luas bagi pendidikan umum, struktur keorganisasian modern, dan penataan administrasi sekolah. Tangan dinginnya melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa yang kritis dan humanis, salah satunya adalah cendekiawan Muslim terkemuka, Moeslim Abdurrahman.
Akhir Hayat dan Warisan Peradaban Abadi
Setelah seperempat abad mendedikasikan seluruh hidup, pikiran, dan tenaganya demi mencerdaskan umat, KH. Salim Achjar wafat pada hari Senin, 28 Agustus 1974. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi ribuan santri dan masyarakat Kertosono.
Meski sang kiai telah tiada, obor perjuangannya tidak pernah padam. Estafet kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh Kiai Musta’in Kastam hingga para penerus generasi berikutnya. Kini, penerus warisan peradaban ilmu prophetik dan moral itu adalag KH. Ali Manshur Kastam, adik dari KH. Musta’in Kastam
Warisan intelektual Kiai Salim—sebuah institusi pendidikan yang teguh memegang tradisi pesantren sekaligus adaptif terhadap kemajuan zaman—terus berdiri kokoh, mencetak generasi-generasi berakhlak mulia hingga hari ini.
Adm8n: Kominfo DDII Jatim
