Diaspora Madura Menggagas Studi Tiru ke Maladewa

Oleh: Firman Syah Ali*

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kemarin pada hari Minggu tanggal 23 Agustus 2026 saya menghadiri undangan Bedah Buku di Restoran Bebek Sinjay Bangkalan. Restoran legendaris yang saya gemari dan langgani sejak belum menjadi restoran, yaitu masih berupa warung kecil yang buka agak siang dan sudah tutup sebelum sore. Sangat singkat.

Buku yang dibedah berjudul DIASPORA MADURA karya Prof Abdur Rozaki, tretan dhibik yang saat ini menjabat sebagai Warek III UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ya tentu saja buku diaspora ditulis oleh kaum diaspora itu sendiri.

Saya datang terlambat, itupun karena diingatkan oleh Adam Muhshi, adik saya yang dosen FH Unair. Ya secara teknis saya lupa kalau ada undangan kegiatan tersebut. Sepertinya sudah waktunya saya mempunyai sekretaris pribadi yang selalu mengingatkan jadwal undangan dan kegitatan saya haha ampun.

Begitu tiba di lokasi, sudah terlihat duduk di kursi pembedah wajah-wajah para tokoh keren, seperti Prof Rozaki sang penulis, Cak Ud (H Mas’ud Adnan) sang Harian Bangsa, Cak Duki (KH Masduki Baidlowi) sang mantan Stafsus sekaligus Juru Bicara Wapres RI, dan Prof Safi’ sang Rektor UTM. Terlihat juga Sekjen Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA) KH M Syafi’ Rofi’i, Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Jatim Dr HM Isa Anshori, KH Imam Buchori Cholil, KH Ja’far Shodiq sang Ketua GP Ansor GL, KH Muad MSy (MSy itu singkatan dari Makki Syarbini), Mas Maksum sang Wartawan Senior, KH Masyhudunnury Kabag Hukum Pemkab Bangkalan, Adam Muhshi adik saya, Raden Holifi sang pembawa acara, H Muhdlar Abdullah BASSRA dan banyak lagi tokoh lain yang dengan tidak mengurangi rasa hormat tidak dapat saya sebutkan satu per satu.

Karena saya datang terlambat, dan bukunya juga hanya membahas diaspora Madura di Kalimantan Barat, maka saya akan coba narasikan sekelumit tentang Diaspora Madura secara umum.

Di dunia ini ada ras/bangsa/etnis tertentu yang suka merantau dan menetap di kawasan-kawasan baru, baik sebagai penjajah maupun sebagai warga biasa, seperti bangsa viking (abad 8-11), tionghoa, arab, mongol, turki, eropa barat dan austronesia.

Rata-rata alasan bangsa-bangsa tersebut merantau adalah ekonomi, di mana kondisi alam dan sosial di daerah asalnya tidak mendukung pertumbuhan ekonomi dengan baik, sehingga masyarakatnya mencari kawasan-kawasan baru untuk memperbaiki kehidupan, baik dengan cara berdagang baik-baik, merampok, membajak maupun menjajah.

Untuk etnis-etnis yang ada di Indonesia, etnis Madura dikenal luas sebagai etnis petualang dan perantau karena jumlah warga yang merantau jauh lebih banyak dibandingkan warga yang tinggal di tanah leluhur.

Sebagaimana umumnya bangsa-bangsa/etnis perantau di dunia, motif utama migrasi orang Madura berakar pada upaya mencari kehidupan yang lebih baik dibandingkan kehidupan di tanah leluhur, di mana masyarakat Madura pedalaman yang menghadapi keterbatasan sumber penghidupan dan mata pencaharian akibat lahan pertanian yang tandus berbondong-bondong mencari alternatif kehidupan dengan bermigrasi swakarsa ke daerah lain. Proses migrasi swakarsa ini sangat terbantu oleh tradisi maritim yang telah lama berkembang di kalangan masyarakat Madura pesisir.

Dalam perantauannya, etnis Madura selalu mengarusutamakan relijiusitas, yaitu dengan selalu membawa Kyai-kyai mereka ke kawasan baru, kemudian mendirikan pesantren di tanah rantau. Ini menegaskan bahwa masyarakat Madura bisa berpisah dengan tanah leluhur namun tidak bisa berpisah dengan Kyainya.

Karakter orang Madura dikenal ulet, setia, rajin, dan mempunyai etos kerja tinggi, yang penting halal. Kalimat yang penting halal ini tentu saja erat kaitannya dengan tingginya dedikasi orang madura yang sangat tinggi terhadap agamanya. Dengan begitu segala aktivitas duniawi orang Madura selalu bersifat transendental.

Dedikasi dan militansi masyarakat Madura yang sangat tinggi terhadap agama dan simbol-simbol agama inilah yang kemudian menimbulkan aksi-aksi penolakan terhadap kemajuan di Pulau Madura. Hal ini tentu menimbulkan keprihatinan para Diaspora Madura yang hatinya sudah lama menyala ingin segera melihat tanah leluhurnya maju.

Kejadian terakhir yang menyita perhatian publik adalah statemen BASSRA tentang penolakan terhadap investasi Cina di Bangkalan. Namun beberapa saat kemudian Sekjen BASSRA KH Syafik Rofi’i di sebuah grup WA menyatakan itu hanya ulah oknum, bukan resmi statemen BASSRA.

Terlepas itu oknum atau apalah, yang jelas hal-hal seperti itu selalu terjadi di Pulau Madura. Maka dalam forum bedah buku tadi, Prof Rozaki sebagai penulis menyarankan agar ulama dan tokoh-tokoh Madura melakukan studi tiru ke Maladewa. Maladewa adalah sebuah negara kepulauan kecil di Samudera Hindia, tepatnya di sebelah barat daya India.

Orang Maladewa hidup hanya dari satu sektor yaitu pariwisata. Turis sedunia berdatangan ke sana untuk menikmati pariwisata yang bagus-bagus, baik turis pakai baju maupun yang hanya pakai bikini.

Namun kehidupan beragama orang Maldives sama sekali tidak terganggu. Penduduknya 100% beragama Islam. Islam jadi satu-satunya agama resmi, keluar dari agama islam langsung dicoret dari kewarganegaraan. Hukum Islam diterapkan dengan ketat.

Bagaimana cara orang Maldives mengatur kehidupan relijiusnya yang ketat dan destinasi wisata internasionalnya yang bebas. Untuk para turis dibuat zona khusus di mana mereka bebas mau apa saja yang sesuai dengan budaya mereka. Tapi begitu mereka keluar dari zona khusus pariwisata, memasuki zona lokal maldives, maka syarat dan ketentuan berlaku, yaitu berpakaian sopan, tidak membawa minuman beralkohol, tidak membawa makanan babi, serta tidak membawa anjing.

Cocok juga kan untuk diterapkan di Pulau Madura?

*) Penulis adalah pendiri Jong Madura dan Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *