SETIAP BUNGA MEMILIKI MUSIM

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Salah satu sumber kegelisahan manusia bukan karena hidupnya terlalu buruk, tetapi karena ia terlalu sering melihat hidup orang lain. Kita melihat seseorang sudah sukses, lalu merasa gagal. Melihat orang lain sudah memiliki sesuatu, lalu merasa kekurangan. Melihat orang lain dipuji, lalu merasa diri tidak berarti. Padahal yang sedang menyiksa kita bukan kenyataan hidup, melainkan perbandingan yang diciptakan oleh ego.

Inilah yang perlu “digeprek”: keyakinan bahwa hidup kita harus berjalan seperti hidup orang lain.

Kita lupa bahwa Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan satu pola kehidupan. Ada yang diberi jalan panjang agar belajar sabar. Ada yang diberi keterbatasan agar belajar bersyukur. Ada yang mengalami kegagalan agar belajar mengenal dirinya. Ada yang terlambat mendapatkan sesuatu karena sedang dipersiapkan untuk memikul sesuatu yang lebih besar.

لِكُلِّ زَهْرَةٍ مَوْسِمٌ

Setiap bunga memiliki musimnya.

Tidak masuk akal memaksa bunga mawar mekar seperti bunga lain hanya karena kita tidak sabar menunggu. Begitu pula manusia. Ada orang yang menemukan jalannya lebih awal, ada yang harus tersesat terlebih dahulu sebelum menemukan arah. Ada yang sukses di usia muda, ada yang baru menemukan makna hidup setelah melewati perjalanan panjang.

Masalahnya, ego tidak suka proses. Ego ingin segera terlihat, segera diakui, segera dipuji, segera dianggap berhasil. Karena itu, ketika realitas tidak sesuai dengan keinginan ego, hati mulai memberontak: “Kenapa aku belum seperti dia?”

Padahal pertanyaan yang lebih penting bukanlah “Mengapa aku belum seperti mereka?”, tetapi “Mengapa aku harus menjadi seperti mereka?”

Inilah titik penting dalam perjalanan manusia: berhenti hidup berdasarkan penilaian manusia dan mulai hidup berdasarkan penilaian Allah. Sebab jika ukuran hidup kita adalah manusia, maka kita tidak akan pernah selesai. Selalu ada yang lebih kaya, lebih terkenal, lebih tinggi kedudukannya, lebih banyak pengikutnya, atau lebih cepat mencapai sesuatu.

Tetapi ketika ukuran itu dikembalikan kepada Allah, pertanyaannya berubah: Apakah aku semakin mengenal-Nya? Apakah imanku semakin baik? Apakah akhlakku semakin matang? Apakah ilmuku semakin bermanfaat? Apakah keberadaanku semakin memberi manfaat bagi orang lain?

Di situlah “geprek” bekerja: menghancurkan ego agar manusia kembali menemukan dirinya sebagai hamba.

Jangan iri kepada bunga yang sedang mekar. Bisa jadi ia memang sedang berada pada musimnya, sementara kita sedang berada pada musim menanam. Benih yang belum terlihat bukan berarti tidak tumbuh. Mungkin ia sedang membangun akar yang kelak membuatnya mampu bertahan menghadapi badai.

Maka jangan buru-buru menyebut dirimu gagal hanya karena belum sampai. Jangan pula menganggap orang lain lebih beruntung hanya karena mereka lebih dahulu mendapatkan sesuatu. Allah tidak pernah terlambat. Manusialah yang sering terlalu tergesa-gesa menentukan kapan seharusnya sesuatu terjadi.

Dalam bahasa Geprek Series: yang perlu dihancurkan bukan kehidupan kita, tetapi ego yang ingin mengendalikan kehidupan. Yang perlu diremukkan bukan harapan, tetapi kesombongan yang mengira bahwa kita paling tahu apa yang terbaik untuk diri sendiri.

Karena itu, teruslah berjalan. Belajar. Berikhtiar. Berdoa. Perbaiki diri. Jangan berhenti hanya karena orang lain telah lebih dahulu sampai. Dan jangan lupa: tugas kita bukan memaksa bunga agar segera mekar, tetapi menjadi tukang kebun yang baik atas amanah kehidupan yang Allah titipkan.

Sebab pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah “Seberapa cepat aku sampai?”, tetapi “Untuk siapa aku berjalan?”

Jika jawabannya adalah Allah, maka keterlambatan tidak lagi menjadi alasan untuk putus asa. Kesederhanaan tidak lagi menjadi alasan untuk minder. Kegagalan tidak lagi menjadi alasan untuk menyerah.

Setiap bunga memiliki musimnya. Setiap manusia memiliki prosesnya. Tetapi jangan sampai sepanjang proses itu kita sibuk mengejar bunga orang lain hingga lupa merawat taman yang Allah titipkan kepada kita.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *