CARA HALUS MEMATIKAN ISLAM TANPA MELARANGNYA

Oleh Djuwari Syaifudin, Ketua Biro Pemberdayaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Jika kita tilik lebih jauh, berbagai upaya untuk menjelek-jelekkan Alquran bukanlah aktivitas yang berdiri sendiri tanpa adanya rencana secara sistemik untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Pencitraburukan Alquran adalah salah satu bagian yang dimainkan oleh pembenci Islam baca Islamu Fobia untuk menghancurkan Islam dan umatnya.

Pada tahun 1970 cendekiawan Muslim Indonesia, Nurcholish Madjid (Cak Nur), membuat slogan sangat terkenal “Islam Yes, Partai Islam No”. Maknanya adalah nilai-nilai ajaran Islam harus didukung penuh, tetapi penggunaan simbol atau wadah politik bernama Islam tidak menjamin kebaikan dan justru berisiko memecah umat.

Di akhir akhir ini, sering bermunculan, tokoh bangsa berbicara jangan bawa agama dalam urusan negara. Agama urusan pribadi sedang negara urusan public, sehingga muncul Pendidikan agama urusan keluarga negara tidak perlu ikut campur.

Berbagai upaya penghancuran Islam dan umatnya dapat dibagi menjadi dua skenario besar: Pertama: menjauhkan umat dari Islam. Untuk menghancurkan Islam, umat harus dijauhkan terlebih dulu dari agamanya. Jika umat masih dekat dengan Islam atau masih melaksanakan syariat Islam dengan baik, tentu musuh-musuh Islam tidak akan mampu menghancurkan umat Islam.

Skenario pertama dilakukan antara lain dengan cara:

  1. Meracuni pemikiran Islam. Pemikiran Islam yang benar dan lurus disusupi dengan pemikiran-pemikiran yang merusak atas nama “demi menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman”. Paham-paham seperti seperti sekularisme, HAM dan paham-paham sesat dan menyesatkan lainnya berusaha dipaksakan kepada umat agar diterima sebagai pemikiran yang bersumber dari Islam. Contohnya adalah sekularisme. Akibat pemikiran ini, kaum Muslim pada saat ini bebas melakukan hal – hal yang tidak sesuai syariat Islam karena ide ini pula kaum muslim telah memisahkan aturan kehidupan dunia dan agama. Agama hanya mengatur urusan ibadah namun urusan seperti muamalah di ambil dari luar Islam.
  2. Menjelek-jelekkan hukum Islam. Hukum Islam yang agung dan sempurna oleh musuh-musuh Islam dianggap sebagai hukum rimba, tidak beradab, bahkan tidak manusiawi. Contohnya adalah Hukum jilbab dilecehkan karena dianggap mengekang kebebasan wanita. Hukum potong tangan melanggar HAM, Demikian hukum lainnya. Padahal sangat jelas tuduhan seperti ini sangat keji karena tidak ada dalih yang kuat.
  3. Meruntuhkan kekuatan politik umat. Caranya adalah dengan menghancurkan institusi politik atau negara, yakni Khilafah Islamiyah, yang senantiasa melindungi umat dari makar-makar kaum pembenci Islam. Kehancuran Khilafah Islamiyah terbukti membawa konsekuensi yang sangat besar bagi umat Islam. Umat tidak lagi dibela tatkala kehormatannya diinjak-injak oleh kaum pembenci Islam. Di berbagai negeri, kaum Muslim dihina-dinakan oleh orang-orang kafir tanpa ada seorang pun yang membelanya. Bahkan tanpa adanya Khilafah, akidah umat Islam juga tidak bisa terjaga. Penerapan hukum-hukum diluar Islam dipaksakan oleh Barat dan antek-anteknya di negeri-negeri Muslim tidak bisa dicegah sedikitpun. Bukan saja, Kristenisasi merajalela tanpa ada kekuatan untuk membendungnya. Sungguh, dengan hancurnya Khilafah, umat Islam menuai kehancuran di seluruh aspek kehidupan.
  4. Mencegah kembali berdirinya Khilafah Islamiyah. Kaum pembenci Islam tahu benar bahwa dengan berdirinya Khilafah, umat Islam akan kembali menguasai dunia. Islam akan berdiri tegak menerapkan seluruh syariatnya. Semua ini dipandang sebagai ancaman bagi keberlangsungan ideologi atau sistem yang diemban oleh orang-orang pembenci Islam.Karena itu, setiap upaya kaum Muslim untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah harus dicegah bagaimana pun caranya.
  5. Memberikan cap negatif kepada para pengemban dakwah. Orang-orang yang secara ikhlas memperjuangkan Islam diopinikan identik dengan fundamentalis, ekstremis, teroris, dan sejumlah cap buruk lainnya hanya gara-gara ada ‘oknum’ yang melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan aturan Islam tatkala berusaha menegakkan Islam. Padahal, bisa jadi ‘oknum’ tersebut justru merupakan binaan atau didikan dari intelijen-intelijen yang memusuhi Islam. Akibatnya, citra para pejuang dakwah pun menjadi negatif di mata masyarakat.

Kedua : menjauhkan Islam dari umat. Untuk menjauhkan Islam dari umatnya, hal yang dilakukan adalah dengan menyerang akidahnya. Mereka menyerang keimanan umat pada sumber-sumber hukum Islam, yaitu Alquran dan al-Hadis.

Mula-mula, Hadis Nabi saw. sebagai salah satu sumber rujukan dalam penegakan syariat Islam dicoba dikaburkan dan diragukan kebenarannya. Tujuannya agar kaum Muslim tidak mempercayai lagi bahwa as-Sunnah sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Alquran. Dengan hilangnya kepercayaan umat terhadap as-Sunnah, jelas akan hilang pula ribuan hukum-hukum yang menjelaskan, mengkhususkan, mengumumkan, atau menguatkan hukum-hukum yang terdapat dalam al-Quran.

Islam dari Makna Politik dan Sistemik Islam tetap diajarkan, tapi:

  • Hanya sebagai ibadah pribadi
  • Hanya urusan akhlak individu
  • Tidak boleh bicara hukum, negara, ekonomi, kekuasaan

Islam dibiarkan hidup sebagai ritual, tapi dimatikan sebagai ideologi.
“Islam yes, tapi jangan bawa ke Negara.”

  1. Mengubah Islam Jadi Tradisi, Bukan Pemikiran
    Islam direduksi menjadi: budaya, symbol, seremonial, dan peringatan hari besar

Tanpa : * pemahaman (mafhum), * cara berpikir (aqliyah), * metode perubahan (manhaj)
Islam diperingati, bukan diperjuangkan.

  1. Menjauhkan Umat dari Tsaqafah Islam, Umat Islam
  • rajin ngaji → tanpa bangunan pemikiran
  • hafal dalil → tanpa kesadaran ideologis
  • cinta Nabi → tanpa mengikuti metode perjuangannya (shirroh nabawiyah)

Sementara:
Pemikiran sekuler, liberal, nasionalis diajarkan secara sistematis dan idiologis
Islam kalah bukan karena kurang dalil, tapi karena kalah tsaqafah.

  1. Mengganti Tujuan Hidup Muslim* *من رضوان الله وإقامة دينه
    Ridlo Allah atas tegaknya agama harus senantiasa diperjuang, ditanamkan dalam setiap Langkah kehidupan umat Islam, bukan hanya sebagai karier, stabilitas, toleransi tanpa prinsip, “yang penting damai” Islam tidak ditolak, tapi tidak lagi dijadikan standar hidup.

Sedangkan Islam tidak mengenal pemisahan antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial. Keimanan tidak sah tanpa keadilan. Ibadah tidak utuh tanpa kepedulian. Kepemimpinan tidak berkah jika tidak berpihak kepada yang tertindas. Oleh karena itu, menolak segala bentuk komersialisasi agama dalam ruang politik praktis. Islam bukan simbol yang bisa dipertukarkan dalam pasar elektoral. Namun Islam juga tidak menerima sekularisme yang memusuhi agama. Sebab, bila agama dipisahkan dari kehidupan publik, maka umat kehilangan arah moral dan bangsa kehilangan energi etik.

Percaya bahwa tantangan terbesar umat hari ini bukanlah tentang menang atau kalah dalam kontestasi politik, melainkan tentang bagaimana menghadirkan Islam sebagai kekuatan etik dalam kehidupan publik. Bagaimana masjid menjadi pusat peradapan, pemberdayaan masyarakat. Bagaimana guru agama menjadi mu’adib, pembentuk karakter, bukan hanya pengisi jadwal pelajaran. Bagaimana pemimpin Muslim menghadirkan teladan, bukan sekadar citra. Dunia hari ini sedang jenuh dengan ideologi besar yang gagal menghadirkan kebahagiaan. Krisis ekologis, kesenjangan sosial, banalitas moral, dan disintegrasi makna adalah gejala dari keringnya nilai. Di tengah kekeringan itu, Islam hadir bukan sebagai tandingan ideologi, melainkan sebagai sumber inspirasi. Islam menawarkan keadilan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

  1. Membuat Dakwah Takut pada Konflik
    Ditanamkan:
  • “Islam itu lembut, jangan keras”
  • “jangan bahas khilafah, bikin gaduh”
  • “yang penting akhlak dulu”

Padahal:

  • Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam berdakwah dengan konfrontasi pemikiran
  • Islam datang mengguncang sistem batil

Dakwah dijinakkan agar tidak mengancam sistem.

  1. Memisahkan Islam dari Realitas
    Islam diajarkan:
  • di masjid
  • di kajian
  • di buku

Tapi dilarang masuk ke:

  • hukum publik
  • ekonomi
  • politik
  • pendidikan nasional
  • Islam dipenjara di ruang ibadah.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *